5 Fakta Polemik Tesso Nilo: Konflik, Dampak, dan Upaya Penyelesaiannya

Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau dikenal sebagai salah satu kawasan hutan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Asia. Namun, wilayah ini menghadapi berbagai persoalan pelik yang mengancam kelestarian flora, fauna, dan kehidupan masyarakat sekitar. Berikut ini adalah lima fakta utama yang mengungkap polemik di balik Tesso Nilo.

1. Perambahan Hutan yang Meluas

Perambahan hutan di Tesso Nilo telah berlangsung bertahun-tahun dan menyebabkan perubahan fungsi kawasan hutan. Sekitar 85% dari kawasan TNTN telah dialihfungsikan menjadi kebun sawit ilegal dan permukiman warga. Dari luas awal sekitar 81.739 hektar, kini diperkirakan hanya tersisa 13.000 hektar sebagai hutan alami. Kondisi ini mengakibatkan kerusakan ekosistem yang signifikan.

2. Satwa Langka Terancam Punah

TNTN menjadi habitat penting bagi satwa langka seperti gajah Sumatra, harimau Sumatra, dan tapir. Populasi gajah Sumatra menurun dari 200 ekor pada 2004 menjadi sekitar 150 ekor saat ini. WWF Indonesia menekankan pentingnya mempertahankan habitat ini, karena jika TNTN hilang, risiko interaksi konflik antara manusia dan gajah akan meningkat. Habitat yang terus menyusut membuat satwa-satwa tersebut kehilangan ruang hidup yang vital.

3. Konflik Warga dan Isu Pelanggaran HAM

Polemik semakin kompleks dengan adanya konflik antara pemerintah dan warga yang tinggal di kawasan TNTN. Pemerintah membentuk Satgas Garuda untuk penertiban kawasan, tetapi banyak warga menolak relokasi karena mengklaim hak atas lahan mereka. Ribuan hektar lahan telah memiliki sertifikat hak milik (SHM) yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Namun, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menyatakan sertifikat tersebut dikeluarkan karena kelalaian dan sedang dibatalkan.

4. Dugaan Keterlibatan Mafia dan Korupsi

Jaksa Agung S.T. Burhanuddin menduga keterlibatan oknum aparat dalam praktik korupsi dan mafia terkait perambahan hutan TNTN. Penyelidikan menemukan SKT, KTP, dan sertifikat hak milik palsu sebagai alat klaim lahan di kawasan tersebut. Hal ini memperumit masalah lingkungan dan sosial, karena masyarakat gambaran hidupnya dari lahan tersebut. Ditjen Gakkum LHK bahkan telah mengantongi nama-nama pemilik kebun sawit dan pabrik penampung dari kawasan TNTN untuk ditindaklanjuti.

5. Perhatian Nasional dan Internasional

Polemik Tesso Nilo mendapatkan sorotan luas hingga tingkat internasional. Kampanye penyelamatan TNTN ramai di media sosial menggunakan tagar seperti #SaveTessoNilo dan #SaveGajahSumatera. Dukungan pun mengalir dari berbagai negara termasuk Malaysia, yang berharap tindakan tegas pemerintah. Pada 2013, aktor Hollywood Harrison Ford pernah mengangkat isu kerusakan TNTN setelah melihat langsung kondisi hutan melalui helikopter. Ford menyuarakan keprihatinannya terkait kerusakan dan dugaan korupsi di kawasan tersebut.

Kondisi Tesso Nilo saat ini mencerminkan ketegangan antara upaya konservasi alam dan kebutuhan warga yang menggantungkan hidup pada hak milik lahan di kawasan tersebut. Penanganan yang holistik dan berimbang antara perlindungan satwa serta penghormatan hak asasi manusia menjadi tantangan utama yang harus diselesaikan secara tuntas. Satwa seperti gajah Sumatra, yang tergantung pada kelestarian TNTN, menjadi indikator nyata akan keberhasilan atau kegagalan upaya ini.

Exit mobile version