Financial enmeshment adalah kondisi di mana batasan keuangan antara orang tua dan anak menjadi kabur. Anak sering kali merasa wajib terlibat dalam menyelesaikan masalah keuangan orang tua, meskipun secara mental dan finansial mereka belum siap. Fenomena ini mengakibatkan tanggung jawab keuangan yang semestinya berada di bawah orang tua menjadi terbagi kepada anak, sehingga menghambat kemandirian finansial mereka.
Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Financial Therapy, keterlibatan finansial yang berlebihan dapat menyebabkan stres berkepanjangan dan pola pengambilan keputusan yang kurang sehat pada anak di kemudian hari. Saat beban finansial keluarga tidak jelas batasannya, anak akan terus menyimpan kecemasan soal uang dan sulit untuk merancang rencana keuangan pribadi.
Penyebab Terjadinya Financial Enmeshment
Ada beberapa faktor utama yang membuat financial enmeshment sering terjadi dalam keluarga. Pertama, kurangnya batas emosional yang jelas pada keluarga. Penelitian dari Kansas State University menunjukkan bahwa di keluarga dengan batas emosional longgar, orang tua sering menceritakan masalah utang atau stres keuangan secara terbuka kepada anak. Kondisi ini membuat anak merasa ikut bertanggung jawab terhadap beban tersebut.
Kedua, tekanan budaya dan rasa bersalah yang kuat bahwa anak berkewajiban membantu orang tua. Banyak budaya menanamkan nilai tersebut, sehingga anak merasa harus menanggung beban tanpa mempertimbangkan kemampuan finansialnya sendiri. Ketiga, tekanan ekonomi yang dialami orang tua bisa membuat mereka tanpa sadar membebankan masalah keuangan kepada anak, menciptakan pola yang tidak sehat.
Dampak Negatif Financial Enmeshment pada Anak
Financial enmeshment dapat menimbulkan berbagai dampak negatif untuk anak, khususnya dalam aspek psikologis dan finansial. Anak yang tumbuh dengan kekhawatiran terus-menerus soal finansial rentan mengalami anxiety atau kecemasan berkepanjangan. Journal of Financial Therapy mengungkap bahwa hal ini menyebabkan anak kesulitan membuat keputusan keuangan yang rasional di masa depan.
Selain itu, keterlibatan dalam masalah keuangan keluarga bisa menghambat kemampuan anak membangun kemandirian finansial. Anak yang penghasilannya terus dialokasikan untuk membantu orang tua cenderung sulit menabung dan merencanakan keuangan pribadi, termasuk menyiapkan dana darurat. Pola ini juga merusak identitas finansial individu karena uang menjadi urusan keluarga bersama, bukan milik pribadi.
Ketegangan dan konflik dalam hubungan keluarga juga kerap meningkat akibat campur tangan yang berlebihan dalam urusan keuangan. Konflik semacam ini membuat komunikasi antaranggota keluarga semakin sulit dan memperparah stres dalam keluarga.
Langkah-Langkah Mengatasi Financial Enmeshment
Untuk keluar dari jeratan financial enmeshment, diperlukan strategi yang hati-hati dan konsisten. Berikut langkah-langkah yang bisa diterapkan:
-
Tentukan Batas Keuangan yang Jelas
Buat pembagian tanggung jawab antara anak dan orang tua agar masing-masing pihak paham peranannya. Misalnya, alokasikan pendapatan anak untuk tabungan pribadi dan sebagian kecil untuk membantu orang tua sesuai kemampuan. -
Bangun Komunikasi yang Terbuka dan Jujur
Sampaikan kondisi keuangan pribadi dengan pelan-pelan dan tanpa menyalahkan agar orang tua memahami batas kemampuan anak secara finansial. -
Fokus pada Kemandirian Finansial
Prioritaskan pengelolaan keuangan untuk kebutuhan pribadi seperti dana darurat, tabungan, dan investasi. Tingkatkan literasi keuangan agar keputusan uang lebih bijak dan terukur. - Cari Bantuan Profesional Jika Diperlukan
Jika konflik sudah rumit, pertimbangkan konsultasi dengan financial therapist atau konselor keluarga untuk memulihkan batas yang sehat dalam pengelolaan keuangan keluarga.
Financial enmeshment sering tidak disadari, namun jika dibiarkan dapat menghalangi pengembangan kemandirian finansial dan menimbulkan tekanan psikologis serius. Menetapkan batas keuangan dan komunikasi yang tepat merupakan kunci penting agar beban finansial keluarga tidak membebani masa depan anak secara tidak proporsional. Dengan langkah strategis, keluarga dapat keluar dari pola ini dan membangun pengelolaan keuangan yang sehat untuk semua anggota keluarga.
