Advertisement

6 Hambatan Umum dalam Menjalin Persahabatan di Masa Dewasa Awal yang Perlu Diketahui

Memasuki usia dewasa awal, banyak orang merasa sulit membangun dan mempertahankan pertemanan baru. Kendati keinginan berteman tetap ada, realitas hidup yang lebih kompleks membuat proses ini jauh berbeda dari masa sekolah atau kuliah. Lingkungan yang dulu secara otomatis mempertemukan kita dengan orang lain kini berubah, membuat usaha untuk berteman menjadi tantangan tersendiri.

Salah satu penghalang utama adalah lingkungan sosial yang tidak lagi memberikan kesempatan bertemu secara alami. Setelah lulus dan memasuki dunia kerja, rutinitas harian tidak lagi mencakup interaksi sosial yang intens seperti di sekolah. Lingkungan kerja menuntut batas profesional yang kerap membatasi kedekatan personal. Dengan kata lain, membangun hubungan yang akrab harus dilakukan secara sadar dan aktif, bukan lagi sesuatu yang terjadi dengan sendirinya.

Waktu juga menjadi sumber tantangan besar. Di usia dewasa awal, jadwal sering kali padat dengan tuntutan pekerjaan, urusan keluarga, dan kebutuhan pribadi. Energi yang terkuras menyebabkan waktu luang menjadi barang langka. Bahkan membalas pesan singkat bisa tertunda berhari-hari karena kesibukan yang tak terhindarkan. Hal ini tentu membuat proses menjalin ikatan sosial terasa berat.

Selain itu, selektivitas dalam memilih teman menjadi lebih tinggi tanpa disadari. Pengalaman hidup mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati memilih siapa yang layak dimasukkan ke dalam lingkaran pertemanan. Keputusan untuk berteman bukan hanya soal jumlah, melainkan kualitas dan kenyamanan emosional. Selektivitas ini memang memperlambat proses mengenal orang baru, tetapi sekaligus melindungi kesejahteraan psikologis.

Perasaan canggung juga sering muncul dalam tahap awal pertemanan. Rasa takut terlihat terlalu berusaha membuat banyak orang memilih untuk menunggu inisiatif datang dari pihak lain. Padahal, seringkali kedua belah pihak sama-sama menunggu dan berharap agar langkah pertama diambil seseorang. Keengganan ini menjadi salah satu penyebab kurangnya ikatan sosial baru.

Trauma dari pertemanan lama turut menjadi hambatan yang tak tampak secara kasat mata. Pengalaman dikhianati, ditinggalkan, atau tidak dihargai meninggalkan bekas emosional yang membuat seseorang lebih waspada dan sulit membuka diri. Meski ada keinginan membangun hubungan baru, bagian dalam diri kadang melindungi dari kekecewaan yang sama dengan menahan jarak.

Terakhir, standar kedekatan dalam persahabatan berubah signifikan. Di masa muda kedekatan sering diukur dari frekuensi bertemu. Kini, banyak orang dewasa menilai kedekatan dari kualitas interaksi emosional. Memiliki satu atau dua teman yang benar-benar memahami jauh lebih berarti daripada sekadar memiliki banyak kenalan tanpa ikatan mendalam. Namun menemukan “klik” emosional ini membutuhkan waktu dan kesabaran.

Berikut ini rangkuman tantangan utama berteman di usia dewasa awal:

1. Lingkungan sosial yang tidak lagi mempertemukan secara alami.
2. Waktu yang semakin terbatas akibat kesibukan.
3. Selektivitas yang lebih tinggi dalam memilih teman.
4. Rasa canggung dan takut terlihat terlalu berusaha.
5. Trauma dari pengalaman pertemanan lama.
6. Perubahan standar kedekatan dalam persahabatan.

Memahami tantangan-tantangan ini membantu menyiapkan diri dalam membangun hubungan sosial yang bermakna. Usia dewasa awal memang menuntut kesabaran dan kesadaran lebih dalam menjalin pertemanan baru. Namun, meskipun prosesnya lambat, memiliki satu atau dua hubungan yang tulus sering kali sudah cukup untuk memberikan rasa hangat dan dukungan dalam menjalani hidup. Proses tersebut bukan tentang kuantitas, melainkan kualitas dan keberanian untuk membuka diri pada waktu yang tepat.

Baca selengkapnya di: yoursay.suara.com

Berita Terkait

Back to top button