
Banyak Gen Z kini memilih liburan di rumah sebagai cara efektif mengatasi jadwal padat dan tekanan finansial. Konsep stay-at-home holiday ini dianggap lebih mudah dijalani dan memberikan istirahat mental yang maksimal dibandingkan liburan jauh dengan rencana rumit.
Rumah tidak lagi sekadar tempat pulang, tapi menjadi ruang aman untuk mengisi ulang energi. Gen Z bisa mengatur waktu sesuai kebutuhan tanpa harus memikirkan jadwal ketat atau tampil maksimal di depan kamera.
Liburan di rumah juga minim kendala seperti macet, koper berat, dan biaya tak terduga. Hal ini membuat opsi staycation di rumah semakin cocok untuk yang ingin healing ringan namun tetap realistis dari segi keuangan.
Ketika staycation di hotel sering diidentikkan dengan mahal dan mewah, Gen Z justru lebih menyukai membuat suasana baru di rumah. Pergantian sprei, pencahayaan temaram, dan alunan lagu khusus libur sudah cukup untuk menciptakan pengalaman liburan bermakna.
Beberapa generasi muda bahkan menggunakan kesempatan liburan di rumah untuk melakukan digital detox. Mereka mematikan notifikasi dan mengurangi penggunaan media sosial demi fokus pada aktivitas santai seperti membaca buku dan menulis jurnal yang menenangkan pikiran.
Salah satu daya tarik utama liburan di rumah adalah bebas dari tekanan sosial. Tidak ada tuntutan untuk memamerkan keseruan di media sosial atau bersaing dalam produktivitas. Liburan menjadi soal kenyamanan pribadi tanpa harus validasi dari orang lain.
Fenomena ini juga bisa dilihat sebagai respons terhadap hustle culture. Gen Z mulai memahami bahwa istirahat bukan kemalasan, melainkan kebutuhan penting demi kesehatan mental dan fisik yang berkelanjutan.
Dari sisi ekonomi, liburan di rumah jelas lebih hemat. Tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi, penginapan, atau tiket tempat wisata. Uang yang dihemat bisa dialokasikan untuk hal lain atau tabungan jangka panjang.
Selain aspek finansial, stay-at-home holiday juga mendukung keberlanjutan lingkungan. Minimnya perjalanan mengurangi jejak karbon, sejalan dengan nilai peduli lingkungan yang dianut banyak Gen Z masa kini.
Liburan di rumah juga memberikan waktu lebih bagi refleksi diri. Gen Z menjadi lebih jujur terhadap kondisi mental dan fisik, mengenali sumber kelelahan, serta merencanakan langkah perbaikan setelah liburan usai.
Tren liburan di rumah bukan sekadar gaya hidup, tapi juga pilihan sadar untuk menjaga energi dan kesehatan. Ini menandai pemahaman yang matang bahwa kebahagiaan tak harus dicari jauh-jauh, melainkan bisa ditemukan dari sejenak berhenti dan menikmati ruang pribadi.
Jadi, bila Anda melihat semakin banyak Gen Z memilih stay at home holiday, itu merupakan tanda adaptasi positif pada kebutuhan modern. Liburan yang sederhana di rumah tetap bisa memberikan ketenangan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Baca selengkapnya di: yoursay.suara.com




