Advertisement

4 Kalimat yang Dihindari Orang Tua dengan EQ Tinggi agar Anak Berkembang Optimal

Orang tua dengan kecerdasan emosional (EQ) tinggi cenderung berhati-hati dalam memilih kata-kata saat berkomunikasi dengan anak-anaknya. Mereka sadar bahwa ungkapan yang salah dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan perkembangan emosional anak. Oleh karena itu, mereka menghindari empat kalimat ini agar hubungan dengan anak tetap harmonis dan mendukung pertumbuhan psikologis yang sehat.

1. “Ketika aku seusiamu…”

Seringkali orang tua membandingkan pengalaman masa kecil mereka dengan kehidupan anak saat ini. Namun, kalimat seperti “Ketika aku seusiamu…” ternyata dapat membuat anak merasa kurang dihargai. Psikolog klinis Dr. Francine Toder menegaskan bahwa pengalaman anak berbeda karena lingkungan dan zaman yang tak sama dengan masa lalu orang tua. Orang tua dengan EQ tinggi lebih memilih mendengarkan dan memahami pengalaman anak daripada membandingkannya dengan masa lalu mereka.

2. “Lihat (kakak/adik/sepupu/tetangga) itu. Masa kamu nggak bisa seperti dia…”

Kalimat pembanding antar anak bisa sangat merusak harga diri. Anak yang terus-menerus dibandingkan akan merasa tidak pernah cukup baik. Studi psikolog menunjukkan bahwa perbandingan seperti ini dapat memicu rasa cemas dan rendah diri. Alih-alih membandingkan, orang tua dengan kecerdasan emosional tinggi lebih memilih berdialog dan menggali kendala yang dialami anak. Dr. Toder menasihatkan untuk menerima anak apa adanya dan memberikan apresiasi positif tanpa harus membandingkan dengan orang lain.

3. “Berhentilah nangis”

Mengatakan pada anak untuk berhenti menangis, meskipun niatnya agar anak lebih kuat, justru membuat anak merasa emosinya tidak dianggap penting. Brianna Briganti, M. Ed., BCBA., LBA., menjelaskan bahwa menolak ekspresi emosi anak akan menghambat perkembangan kecerdasan emosional mereka. Anak yang sering ditekan untuk tidak mengekspresikan kesedihan cenderung sulit membuka diri dan mengekang perasaan yang berakibat pada gangguan kecemasan atau suasana hati negatif di masa depan. Memvalidasi perasaan anak, misalnya dengan mengatakan, “Aku lihat kamu sedih, aku mengerti,” adalah respons yang lebih sehat dan mendukung.

4. “Ibu/ayah lagi sibuk, main sendiri saja sana.”

Pernyataan ini dapat menimbulkan rasa terabaikan dan ketidakpastian pada anak. Momen bermain bersama orang tua sangat penting bagi perkembangan sosial dan emosional anak. Menurut psikolog klinis Tasya Brown, bermain membantu anak membangun keterampilan sosial, harga diri, dan empati. Orang tua yang cerdas secara emosional biasanya memberi penjelasan yang masuk akal kepada anak, seperti, “Ibu sedang sibuk sekarang, tapi kita bisa bermain nanti pukul 5 sore.” Pendekatan ini menunjukkan bahwa orang tua tetap peduli dan siap meluangkan waktu, meski sedang ada kesibukan.

Orang tua yang memiliki kecerdasan emosional tinggi menyadari bahwa kata-kata yang mereka ucapkan sangat berpengaruh pada perkembangan dan kesehatan mental anak. Menghindari kalimat-kalimat yang membandingkan, meremehkan, atau menolak perasaan anak adalah bagian dari membangun hubungan yang suportif dan penuh pengertian. Menerapkan empati dan komunikasi yang tepat juga menumbuhkan rasa percaya diri serta kesehatan emosional anak secara optimal.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, para orang tua dapat ikut berkontribusi dalam membentuk generasi yang cakap secara emosional dan lebih resilient menghadapi tantangan hidup. Membangun EQ anak sejak dini perlu didukung oleh komunikasi yang penuh penghargaan dan validasi terhadap perasaan mereka. Ini sekaligus menyiapkan anak menjadi individu mandiri yang mampu mengelola emosi dengan baik di masa depan.

Berita Terkait

Back to top button