
Mengawali tahun baru seringkali diiringi dengan berbagai harapan positif, termasuk keberuntungan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Berbagai negara di dunia memiliki tradisi unik dalam menyambut momentum pergantian tahun. Salah satunya adalah melalui hidangan makanan yang dipercaya membawa hoki dan keberkahan di tahun yang baru.
Makanan-makanan tersebut bukan sekadar santapan biasa, melainkan mengandung makna simbolik dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Berikut ini enam makanan pembawa hoki dari berbagai negara yang sering disajikan saat Tahun Baru, lengkap dengan sejarah dan filosofi di baliknya.
1. Oliebollen dari Belanda
Oliebollen adalah donat bulat yang biasanya berisi kismis atau buah beri kering. Tradisi makan oliebollen berasal dari kepercayaan suku Jermanik kuno yang bertujuan mengusir roh jahat berupa dewi pagan Perchta. Lemak pada donat ini diyakini dapat membuat pedang sang dewi terpeleset, sehingga pemakan oliebollen terlindungi dari mara bahaya. Kini, oliebollen dinikmati dengan rempah seperti kayu manis dan jahe, menjadi camilan khas malam pergantian tahun di Belanda.
2. Sup Joumou dari Haiti
Sup joumou adalah hidangan berbahan utama labu yang menyimpan kisah kemerdekaan Haiti. Dahulu, para budak dilarang menikmati sup ini karena dianggap makanan para penjajah Prancis. Setelah Haiti meraih kemerdekaan pada 1 Januari 1804, sup ini dibagikan untuk merayakan kebebasan dan menyatukan rakyat. Sup joumou kini menjadi simbol perubahan dan kebanggaan nasional yang dihidangkan setiap Tahun Baru.
3. Banitsa dari Bulgaria
Banitsa adalah kue berlapis dari adonan filo yang diisi campuran telur, yogurt, dan keju asin sirene. Kue ini melambangkan kemeriahan saat pergantian tahun. Uniknya, di dalam banitsa diselipkan koin perak atau pesan-pesan keberuntungan. Setiap anggota keluarga mengambil potongan secara acak dan menafsirkan ramalan nasib berdasarkan isi yang mereka temukan. Tradisi ini memperkuat ikatan keluarga sekaligus memberikan hiburan.
4. Kakanin dari Filipina
Kakanin mencakup beragam kue berbahan dasar beras ketan seperti puto, bibingka, dan tikoy. Teksturnya yang lengket melambangkan ikatan kuat keluarga serta harapan agar rezeki senantiasa menempel di tahun yang baru. Hidangan ini juga mewakili keberlimpahan karena pada masa lalu nasi ketan tergolong komoditas mewah. Kakanin di Filipina menyatukan pengaruh budaya dari Tiongkok dan Tamil, sehingga meja Tahun Baru menjadi kaya rasa sembari menyimpan makna kesejahteraan.
5. Moose Milk dari Kanada
Minuman khas Kanada ini terbuat dari susu, buttermilk, es krim, rempah-rempah, dan alkohol seperti rum. Tekstur lembut dan rasa manis bercampur alkohol membuat Moose Milk jadi simbol keakraban dalam komunitas militer Kanada. Minuman ini kerap dihidangkan pada acara levée, yaitu pertemuan resmi antar pejabat, personel militer, dan masyarakat saat awal tahun. Referensinya sudah ada sejak sebelum Perang Dunia I, menjadikannya bagian penting tradisi lokal.
6. Kamaboko dari Jepang
Kamaboko adalah kue ikan berbentuk setengah lingkaran dengan warna merah muda dan putih. Warna tersebut melambangkan matahari terbit yang mewakili keberuntungan dan awal yang cerah. Kamaboko menjadi bagian utama dari hidangan osechi-ryōri yang disajikan saat Tahun Baru. Biasanya dimakan bersama o-zōni, sup dengan mochi dan sayuran, makanan ini menjadi simbol harapan dan kebahagiaan keluarga Jepang.
Makanan-makanan ini menunjukkan bahwa tradisi kuliner dalam menyambut Tahun Baru bukan hanya soal rasa, tetapi juga doa dan harapan bagi masa depan yang lebih baik. Keunikan serta makna mendalam yang terkandung dalam setiap hidangan menjadi pembawa semangat positif untuk melewati tahun yang baru dengan penuh optimisme. Dengan berbagai kepercayaan dan budaya yang berbeda, makanan menjadi jembatan untuk menyatukan keluarga dan komunitas dalam merayakan awal tahun yang penuh keberuntungan.





