‘Super flu’ kini sudah resmi terdeteksi di Indonesia sehingga masyarakat perlu memahami apa saja gejalanya. Kasus ‘super flu’ merupakan varian baru influenza A (H3N2) subclade K yang sebelumnya sempat memicu lonjakan kasus di Amerika Serikat dan negara lain. Kementerian Kesehatan sudah mengonfirmasi keberadaan jenis virus ini sejak Desember 2025 dan mencatat lebih dari 60 kasus yang tersebar di delapan provinsi.
Penamaan ‘super flu’ digunakan karena varian ini diduga memicu gejala yang lebih berat dibandingkan influenza musiman biasa. Berdasarkan data Kemenkes, mayoritas pasien ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat, terutama pada kelompok perempuan dan anak-anak. Virus ini memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi sehingga satu penderita bisa menularkan ke dua hingga tiga orang lain di sekitarnya.
Karakteristik dan Mutasi ‘Super Flu’
Virus influenza terkenal karena kemampuannya bermutasi sehingga memunculkan varian-varian baru. Menurut CDC Amerika Serikat, subclade K pertama kali teridentifikasi pada Agustus 2025 dan sampai akhir tahun itu sudah dilaporkan di lebih dari 80 negara. Proses mutasi yang disebut ‘antigenic drift’ menyebabkan sistem imun tubuh tidak lagi sepenuhnya mengenali virus, bahkan setelah vaksinasi.
Spesialis paru dr Erlina Burhan menjelaskan bahwa perubahan struktur antigen ini membuat infeksi influenza subclade K berpotensi menyebabkan gejala lebih parah. Selain memperberat keluhan pada pasien, varian ini juga bisa menginfeksi ulang orang yang sebelumnya sudah pernah terkena flu atau sudah vaksinasi.
Gejala ‘Super Flu’ yang Perlu Diwaspadai
Infeksi ‘super flu’ menimbulkan keluhan yang umumnya lebih berat dibandingkan flu biasa. dr Prima Yosephine dari Kemenkes menegaskan bahwa kelompok rentan, termasuk anak-anak dengan komorbid, harus ekstra waspada. Berdasarkan penjelasan dr Agus Dwi Susanto dari RS Paru Persahabatan, berikut beberapa gejala utama yang muncul pada penderita ‘super flu’:
- Demam tinggi antara 39-41 derajat Celsius.
- Nyeri otot berat yang dapat menyulitkan aktivitas sehari-hari.
- Lemas ekstrem hingga sulit beraktivitas normal.
- Batuk kering yang persisten.
- Sakit kepala hebat.
- Rasa tidak nyaman atau berat pada tenggorokan.
Pada beberapa kasus, infeksi ini juga bisa memperburuk kondisi pasien dengan daya tahan tubuh lemah serta menyebabkan komplikasi jika tidak segera ditangani. Penularan cepat menjadi tantangan tersendiri di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Langkah Pencegahan dan Pentingnya Vaksinasi
Meningkatnya penyebaran ‘super flu’ mendorong pemerintah melalui Kemenkes untuk terus mengimbau masyarakat melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Imunisasi tahunan sangat dianjurkan, terutama bagi kelompok lanjut usia, ibu hamil, hingga penderita penyakit penyerta. Meski varian subclade K mengalami mutasi, vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah terjadinya gejala berat, rawat inap, sampai kematian.
Selain itu, masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan sehat, istirahat cukup, serta menjaga kebersihan tangan dan lingkungan. Berikut beberapa tips pencegahan super flu yang dapat diterapkan:
- Lakukan vaksinasi influenza setiap tahun.
- Sering cuci tangan memakai sabun dan air mengalir.
- Hindari kontak erat dengan orang yang sedang flu.
- Gunakan masker saat di ruang publik atau merasa kurang sehat.
- Konsumsi makanan bergizi untuk daya tahan tubuh.
- Jangan mengabaikan gejala flu berat, segera periksa ke fasilitas kesehatan.
Catatan Penting untuk Masyarakat
Edukasi mengenai bahaya ‘super flu’ dan upaya pencegahannya harus terus disosialisasikan agar masyarakat lebih waspada tanpa menimbulkan kepanikan. Segera konsultasikan ke dokter jika merasakan gejala seperti di atas terutama pada anak-anak, lansia, atau individu dengan penyakit kronis. Pemerintah juga menegaskan pemantauan kasus tetap dilakukan secara intensif guna mencegah lonjakan penularan yang lebih luas.
