
Praktik bullying masih menjadi masalah yang sering terjadi di lingkungan sekolah, tempat kerja, hingga ranah digital. Banyak korban mengalami trauma berkepanjangan akibat tindakan yang mereka terima, padahal mereka hanya ingin merasa aman dan dihargai. Sering kali muncul anggapan bahwa menghentikan bullying harus dengan cara membalas atau melakukan kekerasan, padahal ada strategi yang efektif dan lebih sehat tanpa harus membalas dendam.
Bullying dapat dicegah jika semua pihak menyadari peran masing-masing untuk membangun lingkungan yang mendukung dan responsif. Artikel ini mengulas cara-cara menghentikan bullying berdasarkan data terverifikasi dari lembaga dunia dan hasil riset, tanpa menambah kekerasan atau balas dendam, demi keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Peran Teman Sebaya sebagai Bystander
Penonton atau bystander berperan besar dalam memperkuat atau menghentikan bullying. Penelitian menyebutkan, menurut Phys.org dan hasil implementasi program anti-bullying KiVa di Finlandia, kasus perundungan bisa menurun signifikan jika teman-teman memilih untuk tidak mendukung atau menertawakan pelaku. Bystander yang tegas membela korban membuat pelaku kehilangan validasi sosial sehingga intensitas bullying menurun.
Respons Tenang dan Asertif
Cara terbaik menghadapi pelaku adalah tetap tenang dan asertif. Psychology Today menjelaskan, ekspresi marah atau takut justru membuat pelaku semakin merasa berkuasa. Kalimat tegas seperti “Jangan ganggu saya!” lalu meninggalkan situasi lebih efektif daripada balas berteriak atau menangis di depan pelaku.
Meningkatkan Kepercayaan Diri
Seseorang yang memiliki kepercayaan diri cenderung tidak mudah menjadi target bullying. American Psychological Association menyatakan, rasa percaya diri membangun ketegasan dan stabilitas emosi. Kegiatan positif seperti olahraga, hobi, atau keterlibatan dalam organisasi akan membangun identitas diri yang kuat sehingga korban lebih siap menghadapi tekanan.
Menjalin Pertemanan Sehat
Anak dan remaja yang punya lingkar pertemanan luas lebih jarang menjadi sasaran bullying. UNICEF mengungkapkan, lingkungan sosial yang suportif akan melindungi dan memberikan tempat aman bagi korban untuk berbagi pengalaman. Solidaritas antar teman juga mencegah intimidasi makin meluas.
Meminta Bantuan dari Orang Dewasa
Ketika situasi sudah membahayakan, korban sebaiknya segera menghubungi guru, orang tua, konselor, atau otoritas sekolah. Cyberbullying Research Center menyebutkan, kehadiran orang dewasa yang responsif dapat memutus rantai kekerasan dan mencegah trauma lebih lanjut. Hinduja menunjukkan penanganan tepat akan melindungi kesehatan mental korban.
Mengumpulkan Bukti dengan Aman
Dokumentasi menjadi penting, khususnya di kasus bullying daring. The New York Times menyarankan untuk menyimpan tangkapan layar, pesan, atau foto terkait sebagai bukti, namun tetap utamakan keselamatan diri. Bukti yang lengkap membantu pihak berwenang mengambil tindakan yang tepat.
Menanamkan Empati Sejak Dini
Pembiasaan nilai dan empati pada anak harus dilakukan sejak dini. Edutopia dan pakar Michele Borba menerangkan, empati bukan bawaan lahir, namun bisa dilatih dengan contoh, diskusi, dan komunikasi terbuka di rumah atau sekolah. Anak yang peka dengan perasaan orang lain akan tumbuh menjadi pribadi toleran dan tidak mudah mem-bully.
Melibatkan Anak pada Kegiatan Positif
Kegiatan ekstrakurikuler, seni, olahraga hingga komunitas sosial terbukti membantu memperkecil risiko bullying. Studi dari Harvard Graduate School of Education menegaskan, anak yang aktif lebih resilien secara emosional dan punya jejaring sosial yang sehat.
Konseling untuk Korban dan Pelaku
Konseling penting untuk pemulihan korban dan perubahan perilaku pelaku. Berdasarkan Journal of School Health, intervensi psikologis secara profesional dapat mengurangi kecenderungan bullying berulang serta membantu mengatasi dampak psikologis.
Kampanye Anti-Bullying
Program edukasi dan kampanye jangka panjang efektif menekan kasus bullying secara sistemik. Penelitian Olweus menekankan, edukasi tidak boleh berhenti saat kasus mereda, tapi harus menjadi agenda rutin untuk memperkuat norma anti-bullying di komunitas.
Sistem Pendukung dan Tim Penanganan Responsif
Sekolah perlu membentuk tim khusus yang terdiri dari guru, konselor, psikolog, serta penanggung jawab lainnya. Data Journal of School Health membuktikan, sistem pendukung ini membuat pelaporan dan intervensi berjalan lebih profesional serta korban merasa lebih terlindungi.
Penerapan Aturan Tegas dan Sanksi Jelas
Kebijakan anti-bullying tertulis dan sanksi tegas memiliki efek jera bagi pelaku. American Psychological Association mencatat, sanksi yang adil dan transparan membuat lingkungan sekolah lebih aman dan menurunkan intensitas bullying secara signifikan.
Jika diterapkan secara berkesinambungan, langkah-langkah ini akan membantu menghentikan praktik bullying secara damai. Upaya bersama sangat diperlukan, baik oleh individu, komunitas, maupun sistem pendidikan agar setiap orang dapat tumbuh di lingkungan yang sehat dan penuh rasa hormat. Mendukung korban, mendorong keberanian berbicara, serta membangun solidaritas harus menjadi bagian dari budaya bersama untuk mengakhiri bullying tanpa kekerasan.





