Bolehkah Orangtua Marah Saat Nilai Anak Jelek? Ini Penjelasan dan Solusi Bijaknya

Nilai jelek pada rapor sering kali memicu emosi pada orangtua, mulai dari kaget hingga takut masa depan anak akan suram. Banyak orangtua merasa kecewa karena menganggap nilai adalah bukti nyata usaha dan sebagai penentu keberhasilan anak di masa depan. Namun, penting untuk mempertanyakan: apakah reaksi marah benar-benar berdampak positif terhadap perkembangan anak?

Bagi anak, nilai rendah kerap dimaknai dengan cara berbeda. Bisa jadi karena soal yang memang sulit, kondisi kesehatan sedang menurun, atau sekadar kurang memahami materi pelajaran. Jika orangtua langsung marah, anak justru bisa merasa disalahkan, bukan didampingi. Hubungan emosional bisa menjadi renggang jika emosi mendominasi reaksi.

Mengelola Emosi Orangtua dengan Sadar

Marah adalah reaksi manusiawi dan wajar saat melihat hasil belajar anak menurun. Rasa kecewa dan khawatir berasal dari kepedulian orangtua. Namun, jika tidak dikelola, kemarahan dapat melukai anak—membuatnya merasa gagal bukan hanya dalam akademik, tetapi juga dalam kehidupan. Psikolog anak merekomendasikan untuk memberi jeda sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum bereaksi. Pendekatan tenang ini membantu orangtua berpikir jernih. Anak pun lebih terbuka saat diajak berdiskusi ketimbang dimarahi.

Nilai Bukan Satu-satunya Ukuran Kemampuan Anak

Angka pada rapor sering diperlakukan sebagai satu-satunya indikator keberhasilan. Faktanya, nilai tak bisa mencerminkan seluruh kemampuan, potensi, atau bakat anak. Hasil ujian bisa dipengaruhi banyak faktor—mulai dari emosi, kesehatan, tanggung jawab lain, hingga kecocokan metode belajar. Kesalahan orangtua adalah fokus pada hasil, bukan proses. Jika hanya melihat angka semata, anak merasa apa pun usaha yang dilakukan tidak cukup berarti. Akibatnya, motivasi bisa turun drastis.

Risiko Kesehatan Mental Anak Akibat Kemarahan Berlebihan

Riset dari lembaga pendidikan mengungkapkan bahwa anak yang sering dimarahi karena nilai berisiko mengalami tekanan mental. Mereka tumbuh dengan rasa takut gagal yang lebih besar daripada keinginan untuk belajar. Banyak anak akhirnya memilih menyembunyikan hasil ujiannya demi menghindari amarah. Kebiasaan ini bisa mengikis kejujuran dan menodai kepercayaan orangtua-anak. Dalam jangka panjang, tekanan mental tersebut menghambat perkembangan karakter anak dan menurunkan kepercayaan diri.

Perbedaan Tegas dan Marah dalam Mendidik

Tegas dan marah adalah dua hal sangat berbeda. Tegas berarti konsisten, adil, dan jelas menyampaikan harapan maupun konsekuensinya secara tenang. Sementara marah sering kali penuh luapan emosi dan kata-kata yang melukai. Ahli parenting menyarankan orangtua untuk berorientasi pada solusi dan membuka ruang dialog dengan anak ketika terjadi masalah nilai. Ketegasan yang disampaikan dengan empati lebih mudah diterima oleh anak.

Panduan Langkah Menyikapi Nilai Anak yang Turun

Berikut pendekatan yang direkomendasikan para ahli:

  1. Ambil waktu sebelum bereaksi.
  2. Tanyakan pada anak apa yang terjadi dan apa tantangannya.
  3. Dengarkan penjelasannya tanpa menghakimi.
  4. Diskusikan solusi atau bantuan yang mungkin dibutuhkan.
  5. Cari alternatif metode belajar yang sesuai.
  6. Fokuskan pujian pada usaha, bukan sekadar hasil.
  7. Bangun komitmen bersama untuk perbaikan.

Nilai Jelek sebagai Peluang Memahami dan Tumbuh Bersama

Alih-alih menjadi penyebab amarah, nilai jelek bisa menjadi pintu masuk untuk orangtua mengenali kebutuhan anak. Setiap anak memiliki tantangan unik—mungkin mereka membutuhkan variasi belajar, waktu istirahat yang cukup, atau dorongan motivasi. Jika orangtua mampu mengubah perspektif, nilai jelek tidak lagi terasa sebagai ancaman, tetapi sebagai kesempatan membangun komunikasi yang lebih sehat lewat dialog dan kepercayaan.

Anak akan belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, bukan akhir perjalanan. Sikap orangtua dalam menghadapi nilai jelek justru menjadi kunci membangun ketahanan mental dan kepercayaan diri anak untuk menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan. Pendampingan yang sabar lebih efektif dalam membentuk karakter, ketimbang respons marah yang hanya bersifat sesaat.

Exit mobile version