Duduk dalam waktu lama kini menjadi kebiasaan umum, terutama bagi mereka yang bekerja di depan komputer atau menikmati hiburan digital. Namun, posisi ini sebenarnya membawa dampak negatif yang serius bagi kesehatan, karena tubuh manusia tidak dirancang untuk diam statis dalam jangka waktu panjang.
Berbagai fungsi tubuh dapat terganggu akibat duduk terlalu lama. Berikut adalah delapan dampak utama yang penting diketahui agar kebiasaan ini dapat diatasi secara tepat.
1. Atrofi Otot: Otot Kaki dan Bokong Melemah
Duduk lama membuat otot kaki dan bokong jarang digunakan. Otot-otot besar ini pun kehilangan kekuatannya karena minimnya gerakan, kondisi yang disebut atrofi otot. Peneliti dari McMaster University, Dr. Darryl Leong, menyebut otot bagian bawah tubuh bisa “mati suri” akibat kontraksi yang sangat sedikit. Akibatnya, tubuh mudah lelah dan risiko cedera meningkat saat harus berdiri atau berjalan tiba-tiba.
2. Postur Tubuh Memburuk dan Risiko Osteoporosis
Kebiasaan duduk sering disertai dengan posisi membungkuk atau mencondongkan tubuh ke depan. Posisi ini menekan tulang belakang secara berlebihan dan berkontribusi pada perubahan postur permanen, bahkan kelengkungan tulang yang tidak alami. Kurangnya gerakan juga membuat tulang jarang mendapat rangsangan sehingga kepadatan tulang menurun. University of Sydney menegaskan bahwa kondisi ini meningkatkan risiko osteoporosis.
3. Timbul Nyeri Punggung, Pinggul, dan Bahu
Posisi duduk yang statis menyebabkan ketegangan otot dan ketidakseimbangan kerja sendi. Back Fit Pro melaporkan bahwa tekanan pada tulang belakang saat duduk bahkan lebih besar dibanding berdiri. Tekanan ini memicu keluhan nyeri dan kaku pada punggung, pinggul, dan bahu. Jika berlangsung lama, gangguan pada jaringan sendi juga berpotensi terjadi.
4. Kualitas Sperma Memburuk pada Pria
Menurut American Society of Andrology, duduk berjam-jam dapat menaikkan suhu di sekitar organ reproduksi pria. Suhu tinggi mengganggu produksi sperma yang optimal dan meningkatkan kerusakan DNA sperma. Ini berisiko menurunkan kesuburan pria terutama jika kebiasaan kurang bergerak berlangsung lama.
5. Saraf Terjepit (Herniated Nucleus Pulposus/HNP)
Posisi duduk yang salah menambah tekanan pada bantalan tulang belakang. Jika tekannya terus menerus, bantalan tersebut bisa menonjol dan menjepit saraf sekitar tulang belakang. Rochester Medical Center menerangkan bahwa saraf terjepit ini menimbulkan nyeri hebat, kesemutan, dan kelemahan otot di kaki maupun tangan.
6. Kaki Bengkak dan Varises
Sirkulasi darah dari kaki ke jantung terganggu karena otot kaki jarang bergerak untuk memompa darah. Akibatnya, cairan dan darah menumpuk di kaki. The Whiteley Clinic menyatakan bahwa hal ini bisa menyebabkan kaki bengkak dan munculnya varises akibat pembuluh darah vena melebar oleh tekanan darah yang tinggi.
7. Sirkulasi Otak Berkurang
Duduk terlalu lama menurunkan aliran darah ke otak sehingga asupan oksigen dan nutrisi menjadi kurang optimal. Neurosains Internasional menyebutkan dampak ini membuat seseorang mudah lelah, susah fokus, dan menurunkan konsentrasi, terutama saat bekerja atau belajar.
8. Risiko Obesitas, Diabetes Tipe 2, dan Penyakit Jantung
Kurangnya aktivitas fisik membuat kalori tidak terbakar sempurna. Lemak pun mudah menumpuk terutama di area perut, yang lama kelamaan menyebabkan obesitas. Otot yang jarang bergerak juga kurang mampu menyerap gula darah sehingga risiko diabetes tipe 2 meningkat. Dr. James Levine dari Mayo Clinic menyampaikan bahwa tubuh yang terlalu lama duduk berpotensi mengganggu kerja jantung dan pembuluh darah secara perlahan.
Mengingat berbagai risiko di atas, penting untuk membiasakan diri berdiri dan bergerak secara berkala. Setiap 30-60 menit, lakukan peregangan atau jalan singkat supaya tubuh tetap aktif dan fungsi organ tubuh dapat berlangsung optimal. Langkah sederhana ini mampu membantu mengurangi efek negatif yang mungkin terjadi dari duduk terlalu lama.
