Deretan korban tewas ditembak oleh petugas U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Amerika Serikat terus bertambah dan menimbulkan perhatian serius. Sejak September 2025, tercatat ada setidaknya 12 warga sipil yang menjadi korban fatal dari tindakan petugas ICE dalam serangkaian operasi imigrasi di berbagai wilayah AS.
Operasi yang dipimpin oleh pemerintahan sebelumnya ini bertujuan untuk mengatasi masalah kejahatan lintas batas dan imigrasi ilegal. Namun, hingga kini, beragam laporan menyebut bahwa tindakan petugas justru merampas hak warga dan memicu gelombang protes di sejumlah kota besar Amerika.
Alex Pretti: Perawat ICU Minneapolis
Salah satu korban terbaru adalah Alex Pretti, seorang perawat ICU berusia 37 tahun di Minneapolis VA Medical Center. Video yang beredar di media sosial menunjukkan bagaimana petugas ICE menyemprotkan semprotan merica kepada Pretti dan beberapa orang lainnya saat aksi protes berlangsung. Pretti kemudian ditahan, mendapat penindasan fisik, dan ditembak hingga tewas di lokasi kejadian pada 24 Januari 2026.
Pihak Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyatakan bahwa penembakan dilakukan karena Pretti diduga membawa senjata api. Namun, Kepala Polisi Minneapolis Brian O’Hara mengonfirmasi bahwa Pretti adalah pemilik senjata yang sah dan tidak memiliki catatan kriminal kecuali pelanggaran lalu lintas.
Renee Nicole Good: Ibu Tiga Anak yang Ditembak dalam Mobil
Sebelum peristiwa Pretti, Renee Nicole Good juga menjadi korban penembakan oleh petugas ICE di Minneapolis. Good, seorang ibu dari tiga anak yang dikenal sebagai penyair dan penulis, tewas ditembak di dalam mobilnya. Keluarga Good menyatakan bahwa ia bukan bagian dari aktivis demonstran dan sosoknya dikenal penuh kasih sayang. Kasus ini memicu kritik keras terhadap kebijakan operasi ICE yang dianggap terlalu keras dan melakukan tindakan berlebihan terhadap warga sipil.
Keith Porter Jr.: Warga Los Angeles yang Tewas dalam Insiden Malam Tahun Baru
Peristiwa tragis lain terjadi di kawasan Northridge, Los Angeles, saat pergantian tahun 2026. Keith Porter Jr., ayah dua anak berusia 43 tahun, tewas ditembak oleh petugas ICE yang sedang tidak bertugas. Meski sejumlah dokumen menyebut Porter memiliki catatan kontroversial terkait pengasuhan dan ujaran rasis, menurut saksi dan pengacara, pada malam kejadian Porter tidak mengancam siapa pun dan hanya hendak merayakan tahun baru. Kasus ini menambah kedalaman perdebatan seputar tindakan dan integritas aparat imigrasi.
Silverio Villegas González: Imigran Meksiko yang Tewas saat Hendak Melarikan Diri
Korban lain adalah Silverio Villegas González, seorang imigran ilegal asal Meksiko berusia 38 tahun yang ditembak pada September 2025. González, yang bekerja sebagai koki dan merupakan ayah tunggal, ditembak saat berusaha melarikan diri dari penangkapan. Saudara González mengungkapkan bahwa penggunaan kekuatan mematikan terhadap seseorang yang tidak bersenjata seperti Silverio sangat tidak masuk akal dan tidak dapat dibenarkan.
Data Korban Penembakan oleh ICE (September 2025 – Januari 2026)
| Nama | Usia | Lokasi | Status | Keterangan Singkat |
|---|---|---|---|---|
| Silverio Villegas González | 38 | Franklin Park | Meninggal dunia | Imigran ilegal, ditembak saat melarikan diri |
| Renee Nicole Good | 37 | Minneapolis | Meninggal dunia | Ibu tiga anak, ditembak dalam mobil |
| Keith Porter Jr. | 43 | Los Angeles | Meninggal dunia | Ditembak oleh petugas ICE tidak bertugas |
| Alex Pretti | 37 | Minneapolis | Meninggal dunia | Perawat ICU, ditembak setelah insiden protes |
Kasus-kasus ini mencerminkan kompleksitas sekaligus kontroversi yang menyelimuti operasi penegakan imigrasi di Amerika Serikat. Kritik publik semakin menguat seiring dengan kemunculan bukti-bukti yang menunjukkan potensi pelanggaran hak asasi manusia dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh petugas ICE.
Kendati pemerintah menegaskan operasi tersebut perlu untuk menjaga keamanan nasional, insiden penembakan warga sipil tanpa latar belakang kriminal serius menimbulkan pertanyaan besar mengenai prosedur dan akuntabilitas aparat di lapangan. Berbagai kelompok masyarakat dan hak asasi manusia menyerukan adanya penyelidikan menyeluruh dan reformasi besar terhadap operasi penegakan imigrasi AS.







