Site icon Qoo10.co.id

52% Gen Z Enggan Jadi Manajer Kerja, Ini 5 Alasan Utama dari Studi Terbaru yang Wajib Anda Tahu

52% Gen Z Enggan Jadi Manajer Kerja, Ini 5 Alasan Utama dari Studi Terbaru yang Wajib Anda Tahu

Fenomena “conscious unbossing” kini sedang menjadi sorotan, di mana lebih dari separuh pekerja muda generasi Z (Gen Z) menolak untuk naik ke posisi manajerial. Studi terbaru dari perusahaan solusi talenta global Robert Walters mengungkap bahwa sekitar 52% profesional Gen Z di Inggris enggan mengambil peran sebagai manajer tingkat menengah. Sementara itu, hampir 72% memilih jalur karier yang fokus pada pengembangan individual ketimbang memimpin tim.

Penolakan ini bukanlah karena kurangnya ambisi, melainkan pola pikir baru tentang bagaimana kesuksesan karier seharusnya diukur. Ada beberapa penyebab utama yang membuat Gen Z enggan menjadi manajer di tempat kerja.

Stres Tinggi dengan Imbalan yang Tidak Seimbang

Salah satu alasan utama tanpa ragu adalah persepsi bahwa posisi manajer membawa beban stres yang sangat tinggi, namun imbalan yang didapat tidak sebanding. Survei Robert Walters mencatat bahwa 69% profesional Gen Z memandang manajer tingkat menengah sebagai posisi yang “stres tinggi, imbalan rendah.” Beban kerja yang membengkak, ekspektasi harus selalu siap menghadapi permintaan tim, serta target pribadi yang harus dicapai membuat posisi ini menimbulkan kelelahan fisik dan mental.

Penjelasan ini diperkuat oleh data dari survei Capterra yang menunjukkan 75% manajer menengah mengalami stres yang berlebihan bahkan burnout. Hal tersebut menjadi contoh nyata yang dilihat Gen Z sehingga mereka enggan mengikuti jejak tersebut.

Pengalaman Melihat Orang Tua Mengalami Burnout

Gen Z juga dibentuk oleh pengalaman melihat orang tua atau kakak mereka yang sudah lebih dahulu terjun ke dunia manajemen. Mereka menyaksikan bagaimana kerja keras dan loyalitas berlebih tidak selalu menghasilkan kehidupan yang seimbang dan memuaskan secara emosional. Flo Falayi dari firma konsultansi Korn Ferry menuturkan bahwa Gen Z melihat langsung kasus burnout yang dialami para manajer di keluarga mereka.

Selain itu, pandemi COVID-19 memperberat tantangan manajer dengan adanya pekerjaan jarak jauh serta beban tambahan menjaga keterlibatan karyawan. Kondisi ini memberikan gambaran nyata bagi Gen Z bahwa tanggung jawab manajer kerap kali datang tanpa kompensasi yang memadai.

Prioritas Utama pada Kesehatan Mental

Generasi Z secara umum menghadapi tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Menurut penelitian Walton Family Foundation, 42% Gen Z berjuang dengan depresi dan perasaan putus asa. Laporan dari Harmony Healthcare IT menyebutkan 61% Gen Z telah didiagnosis memiliki kondisi kecemasan secara medis.

Menurut survei WorkTango, hampir 90% mahasiswa Gen Z memandang kesehatan mental sebagai isu yang tidak bisa ditawar. Penelitian Deloitte juga mengungkap bahwa kesejahteraan jiwa menjadi prioritas yang lebih utama dibanding kenaikan jabatan. Oleh karena itu, menghindari posisi manajerial yang sering menimbulkan tekanan dianggap sebagai langkah untuk menjaga kesehatan mental.

Menginginkan Fleksibilitas dan Keseimbangan Hidup-Kerja

Fleksibilitas dalam bekerja—mulai dari tempat, waktu, hingga cara bekerja—merupakan kebutuhan penting bagi Gen Z. Berdasarkan laporan Randstad, 46% Gen Z menempatkan fleksibilitas tempat kerja sebagai prioritas, dan 51% memilih jam kerja yang fleksibel sebagai faktor utama dalam mencari pekerjaan baru. Bekerja dari rumah juga menjadi hal yang “tidak bisa ditawar” bagi 48% dari mereka.

Posisi manajerial tradisional sering dianggap menghalangi fleksibilitas tersebut karena menuntut kehadiran fisik lebih banyak, rapat yang padat, serta kendali ketat terhadap tim. Hal ini bertolak belakang dengan keinginan Gen Z yang ingin mengatur hidup dan karier secara otonom dan lebih kreatif.

Memilih Pertumbuhan Individual Daripada Mengelola Orang

Gen Z lebih mengutamakan pengembangan diri dan akumulasi keterampilan ketimbang mengelola orang lain. Mereka dikenal memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi dan suka membawa “diri sepenuhnya” dalam proyek-proyek individu. Hasil survei Robert Walters menyebutkan 72% Gen Z memilih jalur individu untuk kemajuan karier.

Alih-alih menjadi bos, pekerja Gen Z lebih sering ingin berkontribusi dari belakang layar, fokus pada pekerjaan yang bermakna tanpa harus berada di puncak hirarki. Mereka mendefinisikan kesuksesan dengan cara yang berbeda, menyesuaikan dengan nilai-nilai dan kebutuhan hidup yang mereka anggap penting.

Dengan berbagai faktor tersebut, jelas bahwa arah karier dan definisi kepemimpinan bagi Gen Z tidak lagi sama dengan generasi sebelumnya. Mereka memilih menjaga kesehatan mental, menyeimbangkan hidup dan kerja, serta mengembangkan diri secara personal daripada menghadapi beban berat posisi manajerial tradisional. Sikap ini menunjukkan bahwa penting bagi perusahaan memahami preferensi dan nilai Gen Z agar dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan produktif.

Exit mobile version