Manis Gurih dan Penuh Makna Ini Dia 4 Camilan Khas Imlek yang Wajib Ada di Meja Saat Perayaan Tahun Baru

Tahun Baru Imlek selalu diwarnai oleh tradisi kuliner yang kaya makna. Selain hidangan utama saat malam pergantian tahun, camilan khas Imlek juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam perayaan ini. Camilan tersebut tidak hanya sekadar pengganjal rasa lapar, tetapi juga membawa simbol keberuntungan dan kebersamaan.

Ngemil biji-bijian panggang sejak lama menjadi kebiasaan dalam tradisi Imlek. Aktivitas memecahkan biji dan menikmatinya bersama keluarga disebut dengan istilah Tionghoa “kē”. Biji bunga matahari menjadi favorit karena rasanya yang gurih dan mudah disantap kapan saja, baik saat berkumpul ataupun menonton TV bersama.

Selain kuaci, biji dios gua dikenal sebagai “raja biji-bijian” karena tekstur isinya yang tebal dan rasa yang lebih nikmat. Biji labu, semangka, oyong, dan mentimun kering juga kerap disajikan sebagai pilihan camilan tambahan yang melengkapi meja Imlek. Keberadaan berbagai jenis biji ini melambangkan harapan akan kelimpahan dan kemakmuran di tahun yang baru.

Tanghulu juga menjadi camilan manis yang populer selama perayaan Imlek. Terbuat dari buah hawthorn yang ditusuk seperti sate, lalu diselimuti sirup gula yang mengeras dan berkilau. Ragam isian tanghulu bisa bervariasi, termasuk pasta kacang merah, kenari, anggur, atau ubi Tiongkok, memberikan sensasi rasa yang segar sekaligus manis.

Selain nikmat, tanghulu memiliki makna keberuntungan dalam cerita rakyat Tionghoa. Camilan ini dipercaya membawa manfaat baik dan melambangkan harapan agar tahun baru membawa rejeki yang manis. Tak heran camilan ini sering menjadi favorit anak-anak hingga orang dewasa selama Imlek.

Permen kacang menjadi camilan tradisional yang sederhana namun penuh makna dalam budaya Imlek. Terbuat dari bahan utama kacang tanah dan gula, teksturnya bisa keras ataupun kenyal. Permen kacang Zherong terkenal sebagai persembahan kepada Dewa Dapur untuk “memaniskan” tutur kata sang dewa dan mendatangkan keberuntungan bagi keluarga.

Variasi rasa permen kacang juga cukup beragam. Ada yang mencampurkan wijen hitam, krim, buah, hingga lemak babi untuk memperkaya rasa. Tak hanya sebagai camilan, permen kacang memperkuat nilai tradisi dan simbol harapan akan keharmonisan dalam keluarga yang dirayakan setiap tahun.

Kue pilin goreng, atau dikenal dengan nama má huā, memiliki sejarah unik dan bentuk khas yang mirip ekor kalajengking. Awalnya kue ini dipercaya sebagai simbol penolak bala. Kini, má huā menjadi camilan favorit yang tak pernah absen saat perayaan Imlek dan bisa dinikmati kapan saja.

Kue pilin ini biasanya digoreng hingga berwarna keemasan dan hadir dalam rasa manis maupun gurih. Beberapa varian menambahkan campuran herbal hijau untuk menambah cita rasa. Versi terkenal berasal dari Tianjin, khususnya “18th Street má huā” yang berukuran lebih besar dan berisikan bahan tambahan seperti bunga osmanthus, kenari, dan biji melon.

Camilan-camilan khas Imlek ini punya nilai lebih dari sekadar rasa. Mereka menjadi simbol tradisi, harapan, dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan ragam pilihan dari biji-bijian panggang hingga permen dan kue tradisional, setiap keluarga dapat merayakan Imlek dengan makna yang lebih mendalam.

Menghadirkan camilan khas ini saat Imlek bukan hanya soal menikmati ragam rasa, tapi juga mengenalkan tradisi dan nilai budaya kepada generasi muda. Hidangan sederhana ini menguatkan ikatan keluarga dan menjadi penguat suasana hangat dalam perayaan Tahun Baru Imlek.

Berita Terkait

Back to top button