Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Cepat Dan Panjang, Ancaman Kekeringan Meluas Di 57 Persen Wilayah Indonesia

Memasuki awal Maret 2026, sejumlah wilayah di Indonesia masih mengalami musim hujan. Bahkan daerah Jabodetabek dilaporkan masih menerima hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sepanjang hari.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan akan segera berakhir pada bulan Maret 2026. Setelah itu, Indonesia diperkirakan akan memasuki musim kemarau lebih cepat dari biasanya.

Faktor Pengaruh Peralihan Musim
BMKG menyebut bahwa berakhirnya fenomena La Nina lemah pada Februari 2026 menjadi faktor utama perubahan musim. Fenomena ini kini bergeser ke fase Netral dan memungkinkan munculnya El Nino pada pertengahan tahun 2026.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa indeks ENSO (El Niño Southern Oscillation) saat ini berada di angka -0,28 atau Netral. BMKG memprediksi kondisi ini akan terus bertahan hingga Juni 2026. Selanjutnya, peluang munculnya El Nino kategori lemah hingga moderat mencapai 50-60% mulai pertengahan tahun.

Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan tetap stabil dalam fase Netral sepanjang tahun 2026. Hal ini mengindikasikan tidak adanya perubahan signifikan yang memengaruhi pola curah hujan di Indonesia dari arah Samudera Hindia.

Penanda Awal Musim Kemarau 2026
Peralihan angin dari Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) menandai dimulainya musim kemarau. BMKG mencatat pada April 2026, sekitar 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3% wilayah Indonesia sudah mulai memasuki musim kemarau.

Wilayah yang diperkirakan mengalami awal musim kemarau di bulan April meliputi pesisir utara Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, dan sebagian kecil di Kalimantan dan Sulawesi.

Pada Mei 2026, 184 ZOM atau 26,3% wilayah lainnya juga mengikuti masuk musim kemarau. Lanjut pada Juni 2026, 163 ZOM (23,3%) akan mulai mengalami musim kering. Secara total, terdapat 325 ZOM (46,5% wilayah) yang mengalami kemarau lebih cepat dari siklus normal.

Wilayah dengan Musim Kemarau Lebih Awal
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua akan mengalami awal kemarau lebih maju.

Sebaliknya, sekitar 173 ZOM (24,7%) diperkirakan memasuki musim kemarau sesuai waktu normal, sedangkan 72 ZOM (10,3%) mengalami kemarau yang mundur atau lebih lambat dari biasanya.

Puncak Musim Kemarau 2026
BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan jatuh pada Agustus 2026. Pada saat itu, sekitar 429 ZOM atau 61,4% wilayah Indonesia akan berada pada kondisi puncak musim kering.

Wilayah yang mengalami puncak kemarau di bulan Agustus mencakup Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Papua.

Pada Juli 2026, puncak kemarau lebih dahulu terjadi di sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan tengah dan utara, serta sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan kawasan barat Papua. Sedangkan di bulan September, puncak musim kering dialami di Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, serta wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, Maluku Utara, Maluku, dan sebagian kecil Papua.

Sifat Musim Kemarau dan Durasi
Secara umum, musim kemarau 2026 diperkirakan bersifat lebih kering dari biasanya atau bawah normal. Sekitar 451 ZOM (64,5%) wilayah Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau lebih kering.

Sementara, 245 ZOM (35,1%) akan mengalami musim kemarau dengan kondisi normal. Hanya 3 ZOM (0,4%) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami musim kemarau lebih basah atau atas normal.

Kepala BMKG menambahkan bahwa durasi musim kemarau di sekitar 57,2% wilayah Indonesia kemungkinan lebih panjang dari normal. Kondisi ini harus diwaspadai karena berpotensi memengaruhi sektor pertanian, ketersediaan air, dan sumber daya alam lainnya.

Dengan demikian, masyarakat di berbagai daerah disarankan untuk mengantisipasi dampak kemarau lebih awal dan memperhatikan informasi prakiraan cuaca dari BMKG secara berkala. Pemantauan iklim global juga tetap menjadi kunci dalam mengantisipasi perubahan musim yang dinamis di Indonesia sepanjang tahun 2026.

Source: www.beautynesia.id
Exit mobile version