4 Cara Menjadi Performative Male Tanpa Pencitraan, Tetap Autentik dan Bebas Takut Berbeda dari Image Umum

Performative male adalah tren gaya maskulinitas yang mulai banyak diminati oleh pria masa kini. Tren ini menampilkan sisi maskulin yang lembut dengan ciri khas seperti menggunakan totte bag berisi boneka Labubu, mendengarkan musik edgy dengan earphone kabel, memakai pakaian thrifted berfitur baggy, serta minum matcha sambil membaca buku bertema feminisme. Namun, gaya ini kerap dicap sebagai pencitraan jika hanya dilakukan sekadar penampilan tanpa rasa atau komitmen sejati.

Untuk itu, penting bagi kamu yang ingin menjadi performative male agar tetap autentik dan tidak terjebak pada pencitraan semu. Berikut ini empat cara yang bisa kamu terapkan agar gaya ini benar-benar mencerminkan dirimu, bukan sekadar tren yang diikuti.

1. Tetap Sesuaikan dengan Preferensi Pribadi
Jangan memaksakan diri untuk mengikuti semua kriteria performative male jika tidak sesuai dengan selera kamu. Misalnya bila kamu tidak nyaman memakai totte bag, tas selempang kulit bisa jadi alternatif yang tetap menunjukkan karakter personal tanpa harus meniru secara mentah gaya orang lain. Adaptasi gaya dengan preferensimu akan membuat penampilanmu lebih orisinal dan menghindarkan dari kesan template atau sekadar ikut-ikutan.

2. Perdalam Performative Male Hingga Kamu Menyukai Beberapa Aspeknya
Keaslian suatu gaya muncul dari kesukaan yang mendalam, bukan dari tampilan luar saja. Cobalah dalami beberapa aspek performative male, seperti membaca buku dengan tema feminisme atau mendengarkan musik dengan genre edgy. Lama kelamaan, kamu bisa benar-benar menyukai kebiasaan tersebut dan menjadikannya bagian dari hidup, bukan hanya sebagai aksesoris penampilan. Seperti hasil studi psikologi sosial, pengguna gaya otentik cenderung lebih puas dan percaya diri karena pengalaman yang mereka lakukan sesuai dengan nilai diri pribadi.

3. Jadilah Performative Male di Mana Pun Kamu Berada, Bukan Sekadar Di Hadapan Orang
Autentisitas performative male ditandai dengan konsistensi kamu menjalankan ciri khas gaya tersebut kapan saja dan di mana saja. Bila kamu menyukai membaca buku feminisme atau menikmati matcha, lakukan itu meskipun sedang sendiri tanpa perhatian orang lain. Kejujuran pada preferensi ini akan membentuk karakter yang natural, sehingga saat kamu tampil di depan umum, tidak ada kesan dibuat-buat atau sekadar sandiwara.

4. Tidak Perlu Takut Jika Tidak Sesuai Image di Situasi Tertentu
Salah satu tanda bahwa performative male sudah menjadi bagian dari diri kamu adalah mampu fleksibel menyesuaikan diri tanpa merasa kehilangan identitas. Misalnya saat mengikuti kegiatan olahraga atau acara formal di mana tidak bisa mengenakan outfit performative male, kamu tidak merasa cemas atau kehilangan jati diri. Ketidakbergantungan pada image tertentu menunjukkan gaya tersebut memang melekat dalam karakter, bukan hanya pencitraan luar.

Mengutip IDN Times yang membahas tren performative male, gaya ini bukan hanya tentang penampilan, tapi bagaimana gaya tersebut menjadi cerminan kenyamanan dan keunikan diri sendiri. Jadi, jangan takut bereksperimen serta sesuaikan gaya dengan kepribadian agar tetap terasa natural dan otentik.

Dengan memahami keempat cara ini, kamu bisa mengadopsi konsep performative male sebagai ekspresi diri yang tulus. Gaya ini tidak hanya membuat penampilanmu menarik, tapi juga memperkuat rasa percaya diri dan identitas sejati. Jadi, mulailah dari preferensi pribadi dan biarkan performative male menjadi bagian dari karakter dirimu yang autentik.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version