Reda Gaudiamo Pembuat Dunia Na Willa, Penulis dan Musisi yang Hidupkan Puisi Menjadi Lagu Memikat

Reda Gaudiamo adalah sosok penulis dan musisi Indonesia yang dikenal luas melalui karya sastra dan musikalisasi puisinya. Ia lahir di Surabaya pada tanggal 1 Agustus 1962 dan menempuh pendidikan Jurusan Sastra Prancis di Universitas Indonesia. Sejak muda, Reda sudah aktif menulis berbagai artikel dan cerita pendek yang banyak dimuat di media massa ternama.

Setelah lulus, kariernya berkembang pesat di dunia media cetak. Reda pernah bekerja di beberapa majalah populer seperti Gadis, Mode, HAI, dan Cosmopolitan. Tak hanya itu, ia juga berperan sebagai publisher di Kompas Gramedia dengan menangani beberapa majalah seperti Chic, Kawanku, serta Martha Stewart Living.

Selain menulis, Reda Gaudiamo juga tekun dalam menggeluti dunia musik. Ia dikenal sebagai penyanyi lagu-lagu bergenre balada dan berduet dengan Ari Malibu. Kolaborasi mereka menghasilkan beberapa album musikalisasi puisi yang sangat diapresiasi oleh pecinta sastra dan musik.

Perjalanan Karier dan Karya Musikalisasi Puisi

Reda mempopulerkan musikalisasi puisi, khususnya karya-karya Sapardi Djoko Damono. Beberapa album yang dihasilkan adalah:

  1. Hujan Bulan Juni (1989), bersama Ari Malibu, Tatyana Soebianto, dan Gatot Wibowo.
  2. Hujan dalam Komposisi (1996), bersama Ari Malibu dan Tatyana Soebianto.
  3. Gadis Kecil (2005), berkolaborasi dengan Tatyana Soebianto, Jubing Kristianto, dan M. Umar Muslim.
  4. Becoming Dew (2007), bersama Ari Malibu.

Selain itu, Reda juga menggarap musikalisasi puisi karya penyair lain seperti Ags. Arya Dipayana, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, dan Emha Ainun Najib dalam album Yang Paling Cinta (2002). Ia pernah berpartisipasi dalam proyek album Nyanyian Laut bersama kelompok Komplotan di tahun 2010.

Karya Sastra Reda Gaudiamo

Selain kecintaannya pada musik dan puisi, Reda dikenal sebagai penulis yang produktif. Ia telah menerbitkan tiga kumpulan cerpen, yaitu Bisik-bisik (2004), Pengantin Baru (2011), dan Tentang Kita (2015). Kumpulan cerpennya juga dimuat dalam antologi seperti Gallery of Kisses dan China Moon pada awal 2000-an.

Karya terpentingnya adalah novel Na Willa, yang merupakan kumpulan cerita pendek yang disusun menjadi satu buku. Na Willa pertama kali diterbitkan lewat POST Press, penerbit independen, dan dikenal lewat bahasa yang ringan dan mengalir, cocok untuk pembaca anak hingga dewasa.

Na Willa: Dari Buku ke Layar Lebar

Novel Na Willa mengisahkan kehidupan seorang gadis kecil berusia enam tahun yang penuh imajinasi, berlatar Surabaya tahun 1960-an. Cerita ini menonjolkan kejujuran dan keluguan seorang anak, sehingga mudah diterima oleh berbagai kalangan pembaca. Hingga kini, seri Na Willa telah berkembang dengan tiga judul:

  1. Na Willa
  2. Na Willa dan Rumah Dalam Gang
  3. Na Willa dan Hari-Hari Ramai

Film adaptasi Na Willa diproduksi oleh Visinema dan disutradarai oleh Ryan Adriandhy. Film ini mulai tayang di bioskop tanggal 18 Maret mendatang. Ryan mengaku kagum pada cara Reda menghadirkan karakter anak-anak yang polos dan penuh imajinasi. Ia merasa cerita Na Willa sangat relevan dan menyentuh berbagai generasi.

Profil Reda Gaudiamo memperlihatkan sosok seniman yang totalitas dalam berkarya, baik di bidang sastra maupun musik. Karyanya yang memadukan keduanya berhasil menciptakan ruang ekspresi yang unik dan menginspirasi pembacanya. Na Willa adalah contoh nyata kontribusinya untuk dunia sastra anak dan dewasa.

Bagi penggemar karya sastra, terutama yang berpadu dengan sentuhan musik, mengenal lebih dalam perjalanan Reda Gaudiamo tentu membuka wawasan baru. Apakah kamu termasuk yang sudah membaca buku Na Willa atau menantikan film adaptasinya? Keduanya menawarkan pengalaman yang menyentuh dan menghangatkan hati lewat kisah sederhana namun penuh makna.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait

Back to top button