Banyak generasi muda merasa mereka bekerja lebih keras daripada generasi sebelumnya, namun tetap mengalami kesulitan untuk mencapai kekayaan. Perasaan ini bukan tanpa alasan karena kondisi ekonomi saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan era orangtua atau kakek nenek mereka. Ketika harga rumah dan tanah dulu masih terjangkau, era sekarang memperlihatkan kenaikan properti yang jauh melampaui laju kenaikan gaji.
1. Perbedaan Nilai Aset Antar Generasi
Pada masa lalu, rumah dan tanah yang dibeli dengan tabungan dari satu pekerjaan tetap menjadi aset produktif yang nilainya terus meningkat. Sebaliknya, generasi muda sekarang harus mengalokasikan pendapatan besar hanya untuk sewa atau cicilan, sehingga sulit mengumpulkan aset bernilai jangka panjang. Fenomena ketimpangan ekonomi antar generasi ini memperlihatkan bagaimana titik awal setiap kelompok usia sudah sangat berbeda.
2. Kenaikan Biaya Hidup yang Drastis
Meski gaji meningkat, biaya hidup pun membengkak terutama di perkotaan. Pengeluaran utama seperti transportasi, hunian, pendidikan, dan kesehatan menghabiskan sebagian besar pendapatan. Alhasil, uang yang bisa ditabung menjadi sangat terbatas meskipun banyak generasi muda menjalani pekerjaan sampingan untuk menambal keuangan keluarga.
3. Model Pekerjaan Modern yang Tidak Stabil
Struktur kerja saat ini lebih cair dengan banyak pekerjaan kontrak, proyek, atau freelance. Cara ini memang memberi fleksibilitas, tetapi pendapatan bulanan menjadi tidak pasti. Berbeda dengan zaman dulu di mana pekerjaan tetap selama bertahun-tahun membuka akses ke pinjaman, tabungan, dan investasi. Ketidakpastian ini memperlambat perjalanan finansial menuju kekayaan.
4. Biaya Pendidikan yang Semakin Tinggi
Pendidikan merupakan investasi penting, tapi biayanya kini lebih mahal dan memberatkan. Banyak generasi muda memulai karier dengan beban cicilan pinjaman pendidikan sehingga tabungan dan investasi bisa dilakukan setelah beberapa tahun bekerja. Hal ini menyebabkan penundaan dalam pembentukan aset dan pengumpulan modal awal.
5. Akses Terbatas ke Aset atau Modal dari Keluarga
Bagi yang lahir dari keluarga dengan aset lebih banyak, jalan meraih stabilitas keuangan lebih mudah. Dukungan dalam bentuk modal, properti, atau usaha bisa menjadi pijakan awal yang signifikan. Namun, generasi muda tanpa warisan atau dukungan finansial harus memulai dari nol di tengah kenaikan harga aset yang tinggi, memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi.
Faktor-faktor tersebut menggambarkan bahwa kesulitan generasi muda mencapai kekayaan bukan akibat kurang kerja keras atau pengeluaran boros. Perubahan besar dalam harga aset, biaya hidup, sistem pekerjaan, serta akses modal dari keluarga membentuk sebuah realitas ekonomi yang menantang. Dalam konteks ini, fokus perlu bergeser pada bagaimana menciptakan sistem dan kebijakan yang memberikan peluang lebih adil bagi semua generasi.
Untuk menghadapi tantangan ini, pemerintah dan sektor swasta dapat mempertimbangkan langkah-langkah berikut:
- Menstabilkan harga properti agar lebih terjangkau bagi warga muda.
- Meningkatkan insentif untuk tabungan dan investasi jangka panjang generasi baru.
- Menyediakan program bantuan pendidikan dan beasiswa yang meminimalkan hutang mahasiswa.
- Mendorong pekerjaan dengan jaminan sosial dan penghasilan yang stabil.
- Memfasilitasi akses modal bagi pelaku usaha muda atau yang belum mendapat warisan.
Dengan adanya dukungan yang tepat, diharapkan generasi muda bisa memiliki peluang nyata untuk membangun kekayaan sekaligus meningkatkan kualitas hidup mereka. Pekerjaan keras memang penting, tapi sistem ekonomi yang adil dan inklusif menjadi kunci untuk meraih kemakmuran secara berkelanjutan.
Source: www.idntimes.com