
Paparan logam berat pada makanan sering tidak disadari karena zat berbahaya ini bisa masuk dari tanah, air, hingga proses pengolahan. Dalam jumlah berlebih, merkuri, timbal, arsenik, dan kadmium dapat menumpuk di tubuh dan memicu gangguan kesehatan jangka panjang.
Sejumlah bahan pangan yang terlihat sehat justru berpotensi membawa risiko tersebut. Kontaminasi itu tidak selalu berarti makanan harus dihindari total, tetapi konsumen perlu lebih cermat memilih sumber, frekuensi konsumsi, dan cara pengolahannya.
Mengapa makanan bisa terkontaminasi logam berat
Logam berat dapat berpindah dari lingkungan ke bahan makanan melalui tanah pertanian yang tercemar, air yang kotor, atau proses industri. Pada beberapa kasus, kontaminasi juga datang dari peralatan produksi, wadah penyimpanan, dan bahan tambahan pangan.
Menurut berbagai sumber referensi yang dirangkum dalam artikel ini, paparan yang paling dikhawatirkan adalah ketika logam berat masuk dalam pola makan harian dan terjadi terus-menerus. Situasi seperti itu dapat meningkatkan risiko gangguan saraf, kerusakan organ, hingga masalah perkembangan pada anak.
Makanan yang perlu diwaspadai
-
Ikan tuna dan ikan besar lainnya
Ikan predator berukuran besar cenderung menumpuk merkuri karena berada di puncak rantai makanan laut. Jenis yang perlu dibatasi antara lain tuna bigeye, tuna albacore, tuna sirip biru, hiu, todak, king mackerel, marlin, orange roughy, tilefish, dan beberapa kerapu. -
Sayuran hijau
Selada, bayam, kale, dan brokoli dapat menyerap timbal dan kadmium dari tanah tempat tumbuhnya. Mencuci sayuran memang membantu membersihkan permukaan, tetapi tidak menghilangkan logam berat yang sudah terserap ke jaringan tanaman. -
Kerang-kerangan
Tiram, kerang, dan remis menyaring air dalam jumlah besar sehingga mudah mengakumulasi merkuri dan kadmium. Risiko meningkat bila hewan laut ini berasal dari perairan yang tercemar. -
Beras
Padi dapat menyerap arsenik dari tanah dan air, terutama jika lahan pertanian terpapar pestisida berbasis arsenik. Paparan arsenik jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, kanker, dan gangguan saraf. -
Cokelat dan produk kakao
Tanaman kakao dapat menyerap timbal dan kadmium dari tanah. Proses fermentasi, pengeringan, penggilingan, dan pembuatan bubuk kakao juga bisa membuat kadar logam lebih terkonsentrasi. -
Umbi-umbian
Wortel, kentang, singkong, dan bit dapat menumpuk timbal dari tanah atau pupuk yang terkontaminasi. Pada kentang, kadmium juga menjadi perhatian tergantung kondisi lahan tempat tumbuhnya. - Makanan kalengan
Tomat, buah, sayuran, kacang-kacangan, dan sup dalam kemasan kaleng dapat terpapar logam dari lapisan kaleng, terutama jika makanan tinggi asam dan garam disimpan lama. Walau banyak produsen memakai lapisan bebas BPA, risiko kontaminan lain tetap ada.
Dampak kesehatan yang perlu diperhatikan
Paparan merkuri dapat mengganggu fungsi kognitif, memori, fokus, kemampuan motorik halus, penglihatan, dan sistem imun, terutama pada ibu hamil dan anak-anak. Sementara itu, timbal dan kadmium berhubungan dengan penurunan IQ, gangguan perkembangan otak, kerusakan ginjal, penyakit jantung, serta risiko kanker.
Arsenik juga perlu diwaspadai karena paparan menahun dapat memengaruhi sistem saraf dan meningkatkan risiko penyakit kronis. Karena itu, isu logam berat pada makanan bukan sekadar soal kebersihan, tetapi juga soal keamanan pangan dalam jangka panjang.
Cara mengurangi risiko konsumsi
- Pilih ikan berukuran kecil atau jenis laut yang kadar merkuri-nya lebih rendah.
- Batasi konsumsi ikan predator besar, terutama pada ibu hamil dan anak-anak.
- Beli sayuran dari sumber yang jelas dan terpercaya.
- Cuci beras hingga bersih, masak dengan air lebih banyak, lalu buang air sisa rebusan bila memungkinkan.
- Pilih cokelat dari produsen yang transparan soal pengujian logam berat.
- Variasikan sumber karbohidrat dengan ubi jalar, labu, atau bahan lain.
- Utamakan makanan segar atau beku dibanding produk kalengan jika memungkinkan.
Dalam praktik sehari-hari, pengendalian paparan logam berat tidak hanya bergantung pada pilihan menu, tetapi juga pada asal bahan pangan, kondisi lingkungan produksi, dan kebiasaan memasak di rumah. Karena itu, membaca label, mengetahui sumber bahan baku, dan membatasi konsumsi makanan berisiko tetap menjadi langkah penting untuk menjaga keamanan pangan keluarga.
Source: www.beautynesia.id








