Kecerdasan buatan atau AI kini semakin sering masuk ke dunia kencan, tetapi banyak jomblo di Asia justru menaruh batas yang tegas. Mereka bersedia memakai AI untuk menyaring pasangan, menilai keamanan, dan merapikan profil, namun tetap menolak jika teknologi ikut campur terlalu jauh dalam urusan perasaan.
Sikap ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap AI bukan datang dari ketakutan semata, melainkan dari kebutuhan untuk menjaga koneksi yang dianggap autentik. Dalam konteks kencan modern, AI dipandang sebagai alat bantu yang praktis, bukan pengganti hati.
AI diterima saat membantu, bukan saat menggantikan manusia
Temuan dari The Singles Dating Survey memperlihatkan pola yang cukup jelas. Sebanyak 61 persen lajang percaya pendamping berbasis AI tidak akan pernah mampu menggantikan kedalaman emosional dalam hubungan antarmanusia.
Angka itu menjelaskan mengapa AI mudah diterima untuk tugas teknis, tetapi sulit diterima untuk urusan batin. Banyak responden melihat AI berguna saat dipakai untuk menyusun bio, memperbaiki pesan pembuka, atau memilih profil yang lebih relevan.
Namun, saat AI mulai dikaitkan dengan romantisme dan pendampingan emosional, responsnya berubah. Survei yang sama mencatat 68 persen responden belum pernah memakai alat berbasis AI seperti chatbot atau pengoptimal profil untuk membantu pengalaman kencan mereka.
Meski begitu, ada ruang untuk rasa ingin tahu. Sebanyak 42 persen responden menyatakan terbuka berkencan dengan seseorang yang memakai AI untuk membantu profil atau pesan, sedangkan 36 persen masih bersikap ragu-ragu.
Violet Lim, Co-Founder dan CEO Lunch Actually, menegaskan bahwa sikap ini bukan penolakan total. Menurut dia, para lajang hanya ingin batas yang jelas antara teknologi yang membantu dan teknologi yang mulai mengaburkan koneksi tulus.
Mengapa AI cocok untuk penyaringan
AI punya nilai paling kuat saat dipakai untuk efisiensi. Dalam kencan digital, pengguna ingin proses yang cepat, profil yang lebih relevan, dan risiko yang lebih rendah sebelum melangkah ke pertemuan langsung.
Survei itu menunjukkan faktor yang paling mendorong penggunaan aplikasi kencan adalah kualitas kecocokan yang lebih baik sebesar 58 persen, profil terverifikasi sebesar 58 persen, dan pengalaman kencan yang lebih aman sebesar 48 persen. Data ini memperlihatkan bahwa lajang menilai AI dari manfaat praktis, bukan dari kemampuan membangun kedalaman emosional.
Keamanan juga menjadi pertimbangan utama. Meski 46 persen responden masih belum yakin apakah AI benar-benar bisa membuat kencan lebih aman, keraguan itu lebih banyak muncul karena kekhawatiran soal penyalahgunaan, identitas palsu, dan penerapan fitur keamanan yang tidak seragam di tiap platform.
Dengan kata lain, AI dipercaya saat ia berfungsi seperti filter. AI membantu memilah, menandai risiko, dan menghemat waktu, tetapi keputusan akhir tetap harus datang dari manusia.
Mengapa perasaan tetap dianggap wilayah manusia
Kecenderungan ini terlihat lebih jelas saat bicara tentang AI companionship. Hanya 24 persen responden yang pernah berinteraksi dengan chatbot AI dalam konteks romantis atau dukungan emosional.
Dari kelompok itu, cuma 3 persen yang mengaku merasakan keterikatan emosional yang mendalam. Angka ini cukup kecil untuk menunjukkan bahwa percakapan dengan mesin belum bisa menggantikan pengalaman yang hadir lewat tatap muka, kebiasaan bersama, dan rasa dipahami secara utuh.
Violet Lim menyebut teknologi memang bisa menawarkan percakapan dan kemudahan. Namun, teknologi tidak bisa menggantikan pengalaman bersama, keterbukaan, dan perasaan yang benar-benar dipahami.
Kelelahan aplikasi ikut mengubah perilaku lajang
Respons hati-hati terhadap AI juga tidak lahir di ruang kosong. Banyak pengguna sudah lebih dulu lelah dengan aplikasi kencan yang terasa melelahkan dan berulang.
Survei mencatat 66 persen responden frustrasi dengan profil palsu, 49 persen terganggu oleh ghosting, dan 47 persen merasa kurang terhubung secara emosional. Akibatnya, 43 persen responden yang pernah memakai aplikasi kencan mengaku mengurangi penggunaan atau berhenti sama sekali.
Kondisi itu membuat kencan offline kembali mendapat perhatian. Lebih dari 51 persen responden menilai acara kencan offline terasa lebih autentik dibanding aplikasi kencan atau kencan berbantuan AI.
Fakta utama dari survei lajang
- 61 persen lajang menilai AI tidak akan menggantikan kedalaman emosional hubungan manusia.
- 68 persen responden belum pernah memakai alat AI untuk kencan.
- 58 persen menilai kecocokan yang lebih baik sebagai alasan penting memakai aplikasi kencan.
- 66 persen frustrasi dengan profil palsu.
- 43 persen pengguna mengurangi atau berhenti memakai aplikasi kencan.
- 51 persen lebih percaya pada kencan offline yang terasa autentik.
Pilihan lajang untuk memakai AI sebagai penyaring, tetapi bukan sebagai penentu rasa, menunjukkan batas yang tegas dalam budaya kencan digital saat ini. Mereka menerima teknologi selama AI mempercepat proses, menjaga keamanan, dan membantu menemukan peluang yang lebih tepat, tetapi perasaan tetap dipandang sebagai ruang yang hanya bisa diisi oleh manusia.
[crp]