Usus Ternyata Ikut Mengatur Emosi, Makanan Ultra Proses Bisa Merusak Mood

Apa yang kita makan tidak hanya memengaruhi berat badan atau kadar gula darah. Sejumlah riset juga menunjukkan pola makan berkaitan dengan suasana hati, tingkat stres, hingga risiko gejala depresi.

Hubungan ini penting karena banyak orang mencari cara sederhana untuk menjaga mood tetap stabil. Salah satu faktor yang kini makin diperhatikan adalah kualitas makanan sehari-hari, bukan sekadar jumlah kalori yang masuk.

Kaitan usus dan otak

Artikel rujukan mengutip Healthline yang menjelaskan adanya gut-brain connection atau hubungan dua arah antara usus dan otak. Jalur ini membantu menjelaskan mengapa kondisi pencernaan dapat berpengaruh pada emosi dan sebaliknya.

Di dalam usus hidup triliunan mikroorganisme yang dikenal sebagai mikrobiota usus. Mikroorganisme ini ikut berperan dalam pembentukan senyawa penting, termasuk neurotransmiter yang terkait dengan tidur, respons stres, dan suasana hati.

Karena itu, usus sering disebut sebagai “otak kedua”. Istilah ini bukan berarti usus berpikir seperti otak, melainkan menegaskan bahwa kesehatan pencernaan punya peran nyata dalam regulasi emosi.

Temuan ilmiah yang lebih luas juga mendukung arah hubungan tersebut. Harvard T.H. Chan School of Public Health menilai pola makan yang tinggi makanan nabati utuh dan rendah makanan ultra-proses cenderung berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental yang lebih baik.

Pola makan lebih penting daripada satu makanan

Banyak orang berharap ada satu makanan yang bisa langsung memperbaiki mood. Faktanya, bukti ilmiah lebih kuat pada pola makan secara keseluruhan dibanding efek instan dari satu bahan tertentu.

Artikel referensi menekankan hal ini dengan jelas. Pola makan yang kaya buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan, dan lemak sehat dikaitkan dengan suasana hati yang lebih stabil dan tingkat stres yang lebih rendah.

Sebaliknya, asupan tinggi gula, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses cenderung berdampak kurang baik. Pola makan seperti itu dikaitkan dengan peradangan yang lebih tinggi, sementara peradangan kronis sering dibahas dalam penelitian sebagai salah satu faktor yang berhubungan dengan gangguan mood.

Temuan serupa juga terlihat pada pola makan Mediterania. Sejumlah ulasan studi menyebut pola ini konsisten dikaitkan dengan risiko depresi yang lebih rendah, meski hubungan tersebut tidak berarti makanan menjadi satu-satunya penyebab atau solusi masalah mental.

Nutrisi yang banyak diteliti terkait mood

Beberapa zat gizi dinilai punya peran penting untuk fungsi otak dan kestabilan emosi. Artikel referensi menyebut omega-3, vitamin B, magnesium, zat besi, dan zinc sebagai nutrisi yang mendukung regulasi emosi.

Omega-3 banyak ditemukan pada ikan berlemak seperti salmon, sarden, dan makarel. Nutrisi ini diteliti karena berperan pada struktur sel otak dan proses peradangan.

Vitamin B, terutama folat dan B12, terlibat dalam pembentukan neurotransmiter. Kekurangan vitamin ini pada sebagian orang dapat berkaitan dengan kelelahan, penurunan konsentrasi, dan perubahan suasana hati.

Magnesium membantu fungsi saraf dan otot. Sumbernya antara lain kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran hijau, dan cokelat hitam dengan kadar kakao tinggi.

Zat besi dan zinc juga penting bagi fungsi otak. Kekurangan zat besi dapat memicu lemas dan sulit fokus, sedangkan zinc berperan dalam berbagai proses biologis termasuk kerja sistem saraf.

Selain itu, serat dan makanan fermentasi ikut mendapat perhatian. Yogurt, kefir, kimchi, tempe, dan makanan tinggi serat dapat membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di usus.

Makanan yang perlu dibatasi

Bukan berarti semua makanan “tidak sehat” harus dilarang total. Namun, beberapa kelompok makanan memang layak dibatasi jika dikonsumsi terlalu sering dan dalam jumlah berlebihan.

Berikut yang paling sering disebut dalam penelitian dan artikel referensi:

  1. Gula tambahan dan minuman manis.
    Lonjakan gula darah dapat diikuti penurunan energi yang cepat dan membuat mood lebih mudah berubah.

  2. Makanan ultra-proses.
    Produk ini biasanya tinggi garam, gula, lemak tidak sehat, dan rendah serat serta mikronutrien.

  3. Makanan cepat saji.
    Jika menjadi pola makan utama, asupan nutrisi penting untuk otak cenderung menurun.

  4. Alkohol.
    Efek awalnya bisa terasa menenangkan, tetapi alkohol dapat mengganggu tidur dan memperburuk kestabilan emosi.

  5. Kafein berlebih.
    Pada sebagian orang, konsumsi berlebihan dapat memicu gelisah, jantung berdebar, dan gangguan tidur.

Penting untuk melihat konteks konsumsi, bukan hanya jenis makanannya. Secangkir kopi atau makanan manis sesekali belum tentu bermasalah, tetapi pola berulang yang tidak seimbang dapat memberi dampak berbeda.

Langkah sederhana untuk menjaga mood lewat makanan

Perubahan pola makan tidak harus ekstrem. Pendekatan yang bertahap justru lebih realistis dan lebih mudah dipertahankan.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

Langkah Contoh praktis
Tambah serat Masukkan satu porsi buah atau sayur di tiap waktu makan
Pilih karbohidrat utuh Ganti roti putih dengan roti gandum atau nasi putih dengan beras merah sesekali
Perbaiki camilan Pilih kacang, yogurt, atau buah dibanding camilan tinggi gula
Tambah protein berkualitas Konsumsi telur, ikan, tahu, tempe, atau kacang-kacangan
Jaga ritme makan Hindari melewatkan makan jika itu membuat energi dan emosi tidak stabil

Artikel referensi juga menyoroti pentingnya makan secara mindful. Kebiasaan makan yang lebih sadar dapat membantu orang mengenali rasa lapar, kenyang, dan respons tubuh setelah mengonsumsi makanan tertentu.

Meski begitu, makanan bukan satu-satunya penentu kesehatan mental. Mood juga dipengaruhi tidur, aktivitas fisik, stres, kondisi medis, dukungan sosial, dan faktor psikologis.

Karena itu, perubahan pola makan sebaiknya dipandang sebagai salah satu bagian dari perawatan diri. Jika seseorang mengalami sedih berkepanjangan, cemas berat, atau kehilangan minat pada aktivitas harian, evaluasi profesional tetap diperlukan.

Dalam praktik sehari-hari, fokus paling masuk akal adalah memperbaiki pola makan sedikit demi sedikit. Saat asupan lebih kaya serat, protein, lemak sehat, dan mikronutrien penting, tubuh mendapat fondasi biologis yang lebih baik untuk menjaga energi, konsentrasi, dan kestabilan suasana hati.

Source: www.beautynesia.id
Exit mobile version