
Krisis energi kembali menjadi perhatian karena konflik di Timur Tengah memicu gangguan pasokan minyak dan LPG dunia. Dampaknya tidak hanya terasa di sektor energi, tetapi juga merambat ke harga pangan, transportasi, penerbangan, dan biaya hidup rumah tangga.
Risiko itu membesar setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan energi global. Mengacu pada data yang dikutip CNBC Indonesia, sekitar 20% perdagangan minyak dunia melintasi selat tersebut, sementara negara-negara Asia membeli lebih dari 80% minyak mentah yang melewati rute itu.
Mengapa krisis energi cepat terasa di banyak negara
Ketika jalur pasokan minyak terganggu, harga energi biasanya langsung bergejolak. Negara pengimpor akan menghadapi tekanan ganda berupa pasokan yang menipis dan biaya impor yang naik.
Efek lanjutannya menyentuh hampir semua aktivitas ekonomi. Distribusi barang bergantung pada BBM, industri makanan memakai energi untuk produksi, dan rumah tangga memerlukan LPG atau listrik untuk kebutuhan dasar sehari-hari.
Dalam situasi seperti ini, negara yang bergantung pada impor energi menjadi paling rentan. Mereka sulit menjaga harga tetap stabil jika pasokan global terganggu dalam waktu singkat.
Asia menjadi kawasan yang paling terpapar
Kawasan Asia dinilai menghadapi tekanan besar karena ketergantungan tinggi pada minyak dari Timur Tengah. Gangguan di Selat Hormuz membuat negara-negara di kawasan ini harus menyiapkan langkah darurat untuk menjaga stok domestik.
Filipina menjadi salah satu contoh paling jelas. Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. menetapkan status darurat energi pada 24 Maret 2026 setelah gangguan pasokan bahan bakar domestik dan volatilitas harga dinilai mengancam stabilitas ekonomi, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.
Kondisi serupa juga terlihat di Kamboja. Kelangkaan BBM bahkan sempat membuat 6.300 SPBU tutup pada minggu kedua Maret, menunjukkan bahwa krisis pasokan dapat dengan cepat mengganggu layanan publik dan aktivitas ekonomi harian.
Dampaknya ke harga barang dan biaya hidup
Krisis energi hampir selalu diikuti kenaikan harga barang. Sebab, ongkos transportasi dan produksi akan ikut naik ketika BBM serta LPG menjadi lebih mahal atau sulit diperoleh.
Bahan makanan termasuk yang paling cepat terpengaruh. Distribusi hasil pertanian, pengolahan makanan, pendinginan, hingga pengiriman ke pasar membutuhkan energi dalam berbagai bentuk.
Akibatnya, tekanan inflasi bisa meluas. Rumah tangga berpendapatan rendah biasanya paling terdampak karena porsi pengeluaran mereka untuk pangan dan energi jauh lebih besar dibanding kelompok pendapatan atas.
Krisis LPG memperbesar beban rumah tangga
Selain minyak bumi, pasokan LPG juga ikut terganggu. Ini penting karena LPG menjadi bahan bakar utama untuk memasak di banyak negara Asia, termasuk India.
Laporan Reuters yang dikutip CNN Indonesia menyebut India mengimpor lebih dari 40% minyak mentah dan 90% LPG dari Timur Tengah. Ketergantungan sebesar itu membuat gangguan pengiriman langsung berdampak pada pasokan dalam negeri.
Sekretaris Khusus di Kementerian Perhubungan India, Rajesh Kumar Sinha, mengatakan empat kapal tanker minyak India yang membawa total 1,6 juta metrik ton minyak mentah tertahan di Selat Hormuz. Enam kapal tanker yang memuat 320.000 ton LPG dan satu kapal lain dengan 200.000 ton LPG juga masih terhambat.
Pemerintah India kemudian meminta warga menghindari pembelian panik. Konsumen juga didorong beralih ke gas alam pipa jika tersedia atau menggunakan kompor listrik.
Sebagai langkah respons, sekitar 120 ribu sambungan gas pipa baru ditambahkan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa diversifikasi sumber energi menjadi penting saat pasokan impor terguncang.
Penerbangan ikut terganggu
Krisis energi tidak berhenti pada kendaraan darat dan kebutuhan rumah tangga. Sektor penerbangan juga ikut terdampak karena pasokan avtur atau bahan bakar jet terbatas dan harganya meningkat.
Vietnam Airlines, menurut laporan yang dikutip DetikTravel dalam artikel referensi, berencana memangkas 23 penerbangan domestik per pekan mulai 1 April 2026. Langkah itu diambil karena krisis avtur yang dipicu gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Otoritas penerbangan setempat menyatakan keterbatasan pasokan Jet A-1 menempatkan maskapai domestik pada risiko kekurangan bahan bakar. Karena itu, pengurangan penerbangan dilakukan sambil tetap mempertahankan rute domestik utama dan penerbangan internasional.
Filipina juga mengantisipasi skenario serupa. Presiden Marcos Jr. menyebut kemungkinan terburuknya adalah pesawat tidak bisa beroperasi jika pasokan bahan bakar makin menipis.
Selain pengurangan frekuensi, sejumlah penerbangan ke kawasan Timur Tengah juga ditangguhkan. Rute ke Dubai, Abu Dhabi, Tel Aviv, Doha, Amman, dan Beirut termasuk yang terdampak pembatalan atau penyesuaian jadwal.
Langkah yang mulai diambil sejumlah negara
Beberapa negara Asia mulai menahan ekspor bahan bakar untuk menjaga pasokan dalam negeri. Thailand, Vietnam, dan China disebut membatasi ekspor bahan bakar setidaknya hingga akhir Maret.
Negara-negara lain juga meningkatkan produksi energi alternatif. Strategi ini ditempuh untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan minyak dan gas yang sedang terganggu.
Berikut respons yang terlihat di sejumlah negara:
- Thailand, Bangladesh, dan Filipina meningkatkan pembangkit listrik tenaga batu bara.
- Pakistan memperbesar produksi listrik tenaga surya.
- Korea Selatan meningkatkan produksi listrik tenaga nuklir.
- India menambah sambungan gas pipa baru untuk mengurangi tekanan pada LPG.
Langkah-langkah itu belum tentu menyelesaikan masalah dalam waktu cepat. Namun, respons tersebut menunjukkan bahwa ketahanan energi kini menjadi isu strategis, bukan sekadar soal harga BBM di SPBU.
Dalam konteks yang lebih luas, krisis energi memperlihatkan betapa erat hubungan geopolitik dengan kehidupan sehari-hari. Saat pasokan minyak, LPG, dan avtur terganggu, dampaknya bisa segera terlihat dalam bentuk harga yang naik, mobilitas yang terbatas, serta tekanan baru pada ekonomi rumah tangga dan sektor usaha.
Source: www.beautynesia.id








