Prilly Latuconsina kembali menarik perhatian publik bukan karena proyek layar kaca, melainkan lewat kebiasaannya membaca buku. Aktris sekaligus dosen Ilmu Komunikasi LSPR ini membagikan tiga buku favorit yang menurutnya ikut mengubah cara berpikir dan cara ia mengambil keputusan.
Pilihan bacaan Prilly tidak hanya menyoroti sisi hiburan, tetapi juga pengembangan diri dan psikologi manusia. Tiga buku itu ia rekomendasikan karena memberi sudut pandang baru tentang pengaruh lingkungan, perilaku manusia, dan cara menghadapi hidup dengan lebih sadar.
Bacaan yang memengaruhi cara pandang
Prilly menyebut buku bukan sekadar sumber informasi, tetapi alat untuk memahami diri dan orang lain. Dari ketiga judul yang ia bagikan, benang merahnya cukup jelas, yakni pembaca diajak melihat bahwa keputusan manusia sering dipengaruhi banyak faktor yang tidak selalu disadari.
Pendekatan ini sejalan dengan minat Prilly pada pengembangan diri. Sebagai figur publik yang aktif di dunia seni dan pendidikan, ia menunjukkan bahwa membaca dapat menjadi kebiasaan yang berdampak langsung pada kualitas berpikir dan ketepatan mengambil langkah.
1. Invisible Influence: The Hidden Forces That Shape Behavior
Buku pertama adalah Invisible Influence: The Hidden Forces That Shape Behavior karya Jonah Berger. Penulis yang juga profesor pemasaran di University of Pennsylvania ini membahas bagaimana pengaruh dari luar ikut membentuk keputusan, kebiasaan, dan perilaku seseorang.
Prilly menilai buku ini penting karena membantu pembaca menyadari bahwa pilihan hidup tidak selalu lahir dari dorongan internal semata. Lingkungan, orang lain, dan norma sosial kerap ikut bekerja secara halus, bahkan ketika seseorang merasa sedang membuat keputusan yang sepenuhnya pribadi.
Berikut poin utama yang bisa dipetik dari buku ini:
- Keputusan manusia sering dipengaruhi faktor eksternal yang tidak terlihat.
- Kebiasaan dan perilaku terbentuk dari interaksi sosial yang berulang.
- Kesadaran atas pengaruh sekitar bisa membantu seseorang lebih bijaksana.
Prilly juga menekankan bahwa buku ini tidak mengajak pembaca menolak pengaruh dari luar. Ia justru mendorong pembaca mengenali mana yang benar-benar dipilih sendiri dan mana yang terbentuk karena tekanan sosial.
2. Concise Laws Of Human Nature
Buku kedua yang ia rekomendasikan adalah Concise Laws Of Human Nature karya Robert Greene. Greene dikenal luas lewat buku The 48 Laws of Power, dan lewat karya ini ia mengulas sifat manusia yang sering tidak disadari pemiliknya sendiri.
Menurut Prilly, isi buku ini mendorong pembaca memahami emosi, sisi psikologis manusia, dan pentingnya kecerdasan emosional. Ia menilai pemahaman semacam ini bisa membantu seseorang membaca pola perilaku orang lain sekaligus mengendalikan reaksi diri sendiri.
Buku ini relevan untuk pembaca yang ingin lebih tenang dalam relasi sosial. Saat seseorang memahami motif dan kecenderungan manusia, risiko terseret emosi atau dimanipulasi oleh orang lain bisa menjadi lebih kecil.
3. The Myth of Sisyphus
Pilihan ketiga adalah The Myth of Sisyphus karya Albert Camus. Buku ini berupa esai filosofis yang membahas absurditas hidup dan ketegangan antara keinginan manusia menemukan makna dengan kenyataan bahwa dunia tidak selalu memberi jawaban.
Prilly menjelaskan bahwa buku ini mengajak pembaca menerima hidup apa adanya tanpa ilusi, tetapi tetap menjalaninya dengan kesadaran, kebebasan, dan gairah. Pandangan itu membuat pembaca diajak melihat makna hidup bukan hanya dari tujuan akhir, tetapi juga dari sikap saat menjalani proses.
Camus dikenal sebagai tokoh besar filsafat eksistensialisme, dan karya ini sering dibaca sebagai refleksi atas cara manusia merespons ketidakpastian. Dalam konteks yang lebih luas, buku ini memberi ruang bagi pembaca untuk berpikir ulang tentang daya tahan mental dan alasan seseorang terus melangkah.
Mengapa rekomendasi Prilly relevan untuk pembaca muda
Tiga buku pilihan Prilly menunjukkan pola yang konsisten, yaitu ketertarikan pada tema perilaku, psikologi, dan makna hidup. Kombinasi itu membuat rekomendasinya terasa dekat dengan pembaca muda yang ingin berkembang tanpa kehilangan arah dalam mengambil keputusan.
Di tengah derasnya informasi dan tekanan sosial, bacaan seperti ini bisa menjadi bekal penting untuk membangun cara berpikir yang lebih kritis. Prilly sendiri tampak menaruh perhatian pada buku yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga memberi pengaruh nyata pada cara seseorang memahami diri, orang lain, dan hidup yang dijalani setiap hari.
Source: www.idntimes.com








