Siaga Bukan Berarti Panik, Enam Cara Menjaga Mental Saat Banjir Informasi Melanda

Situasi ketika negara menetapkan siaga kerap memicu kepanikan, terutama saat informasi bergerak cepat dan berlapis dari media sosial, televisi, hingga percakapan pribadi. Dalam kondisi seperti ini, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan mengikuti perkembangan situasi agar respons yang muncul tetap tenang, terukur, dan tidak berlebihan.

Rasa cemas yang muncul saat mendengar kabar darurat adalah reaksi yang manusiawi. Namun, jika dibiarkan terus-menerus, paparan berita negatif dapat membuat otak bekerja dalam mode siaga berkepanjangan dan memperkuat stres, rasa takut, serta kelelahan emosional.

Mengapa rasa panik mudah menyebar

Ketika situasi nasional terasa tidak pasti, banyak orang masuk ke pola konsumsi informasi tanpa batas. Mereka mengecek kabar berulang kali, membaca komentar yang belum tentu benar, lalu menyimpulkan skenario terburuk sebelum ada kepastian.

Fenomena ini dikenal sebagai news fatigue, yaitu kelelahan mental akibat terlalu banyak menyerap berita. Psikolog juga menjelaskan bahwa saat seseorang terlalu fokus pada ancaman eksternal, ia cenderung merasa tidak berdaya dan kehilangan kendali atas emosi sendiri.

Langkah sederhana untuk menjaga kondisi mental

Berikut sejumlah langkah praktis yang bisa dilakukan saat negara menetapkan siaga:

  1. Batasi waktu membaca berita, misalnya hanya pada jam tertentu.
  2. Pilih sumber informasi resmi dan terpercaya.
  3. Hindari menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
  4. Tetap jalankan rutinitas harian yang sudah biasa dilakukan.
  5. Jaga tidur, makan, dan aktivitas fisik agar tubuh tidak ikut drop.
  6. Hubungi orang terdekat untuk berbagi perasaan.
  7. Lakukan aktivitas menenangkan seperti membaca, menulis jurnal, beribadah, atau meditasi.

Langkah-langkah tersebut membantu otak keluar dari kondisi overstimulasi. Dengan begitu, tubuh tidak terus-menerus memproduksi respons stres yang justru membuat pikiran makin sulit jernih.

Fokus pada hal yang bisa dikendalikan

Dalam psikologi, konsep locus of control menjelaskan bahwa orang yang memusatkan perhatian pada hal-hal yang berada dalam kendalinya biasanya lebih mampu mengelola stres. Sebaliknya, terlalu sibuk memikirkan faktor yang tidak bisa diubah hanya akan menambah rasa cemas.

Di tengah situasi siaga, masyarakat tetap bisa memilih tindakan kecil yang bermanfaat. Misalnya, memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi, mengatur jadwal kerja, menjaga komunikasi keluarga, dan memeriksa informasi dari otoritas resmi sebelum mengambil keputusan.

Rutinitas memberi rasa aman

Rutinitas harian berfungsi sebagai penyangga psikologis saat keadaan luar terasa tidak stabil. Pola yang konsisten membantu otak merasa aman karena tidak harus terus beradaptasi dengan perubahan yang datang tanpa henti.

Pola tidur yang cukup, makan teratur, dan gerak tubuh ringan juga berperan penting dalam menekan hormon stres. Sejumlah penelitian menunjukkan stres yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gangguan mental jika tidak diimbangi dengan kebiasaan hidup sehat.

Dukungan sosial tidak boleh diabaikan

Orang yang cemas sering memilih memendam kekhawatiran, padahal berbicara dengan keluarga atau teman bisa sangat membantu. Dukungan sosial dapat menurunkan beban pikiran dan mencegah seseorang tenggelam dalam rasa takut yang ia bangun sendiri.

Interaksi ringan juga punya nilai besar. Candaan sederhana, obrolan santai, atau sekadar saling menanyakan kabar dapat memberi jeda emosional yang dibutuhkan agar seseorang tidak merasa sendirian menghadapi situasi sulit.

Waspadai konten yang memicu ketakutan

Satu perkara lain yang perlu diperhatikan adalah seleksi konten digital. Judul sensasional, video tanpa konteks, atau kabar yang belum terverifikasi dapat mendorong cognitive distortion, termasuk kebiasaan membayangkan bencana terburuk secara berlebihan.

Kebiasaan itu membuat persepsi terhadap situasi menjadi lebih gelap dari kenyataan. Karena itu, ruang digital perlu dijaga agar tidak menjadi sumber kepanikan baru, terutama saat publik sedang rentan secara emosional.

Di tengah status siaga, masyarakat tetap perlu memperoleh informasi yang akurat tanpa larut dalam kepanikan. Menjaga jarak dari banjir berita, mempertahankan rutinitas, dan mencari dukungan dari orang terdekat dapat membantu pikiran tetap stabil saat situasi belum sepenuhnya pasti.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version