Kecelakaan Tak Mematahkan Avionita Sinaga, Dari Kursi Roda Menjadi Pendiri SIHODA

Avionita Sinaga atau yang akrab disapa Vio menjadi salah satu sosok yang menarik perhatian karena perjuangannya sebagai penari disabilitas dan pendiri Simalungun Home Dancer atau SIHODA. Di tengah keterbatasan fisik yang ia alami setelah sebuah kecelakaan pada 2017, Vio justru terus menari, melatih generasi muda, dan menghidupkan kembali seni tari tradisional Simalungun.

Kisahnya menunjukkan bahwa disabilitas tidak otomatis memutus ruang berkarya. Vio membuktikan bahwa karya, konsistensi, dan keberanian untuk bangkit bisa mengubah pengalaman pahit menjadi dorongan untuk melestarikan budaya sekaligus menginspirasi banyak orang.

Menari sebagai panggilan hidup

Bagi Vio, tari bukan sekadar minat, melainkan cita-cita yang ia genggam sejak kecil. Ia bahkan memilih kuliah di Jurusan Seni Tari Universitas Negeri Medan untuk mengejar mimpinya menjadi guru tari dan penari.

Ia sempat menghadapi pandangan miring terhadap profesi seniman. Namun, dukungan keluarga, terutama ayahnya, membuatnya tetap melangkah.

“Dari dulu ke situ, gak pernah berubah-ubah,” kata Vio saat menceritakan tekadnya mempertahankan mimpi. Kalimat itu menggambarkan betapa kuat hubungan dirinya dengan dunia tari sejak usia dini.

Tragedi yang mengubah hidup

Tahun 2017 menjadi titik balik paling berat dalam hidup Vio. Ia mengalami kecelakaan yang mengubah kondisi fisiknya secara permanen, lalu menghadapi tekanan mental setelah pernikahan mudanya diwarnai KDRT.

Dalam kondisi terpuruk, ia bahkan sempat mencoba mengakhiri hidupnya. Setelah itu, ia mengalami kelumpuhan total dan harus terbaring di tempat tidur, sementara tiga rumah sakit menyarankan amputasi.

Situasi tersebut sempat membuatnya sulit menerima keadaan. “Sampai hari ini pun, Vio masih belajar menerima keadaan yang sekarang,” ujarnya, menegaskan bahwa proses berdamai dengan diri sendiri tidak selalu singkat.

SIHODA lahir dari cinta pada budaya Simalungun

Jauh sebelum tragedi itu, Vio sudah membangun SIHODA pada 2014. Sanggar ini lahir dari rasa cintanya pada seni tari tradisional Simalungun dan keinginannya menghadirkan ruang pelestarian budaya yang konsisten.

Menurut Vio, SIHODA tidak hanya dibentuk untuk sekadar mencari pekerjaan pentas. Ia ingin sanggar itu menjadi wadah pembinaan dan pelestarian budaya dengan kegiatan yang rutin dan terarah.

  1. Menggelar pagelaran budaya setiap tahun.
  2. Membina anak-anak dan remaja agar mengenal tari Simalungun.
  3. Menjaga nilai tradisi lewat latihan dan pentas tematik.
  4. Membuka ruang belajar bagi penari nondisabilitas dan penyandang disabilitas.

Model pembinaan seperti ini membuat SIHODA bertahan lebih dari satu dekade dan dikenal sebagai komunitas yang aktif menjaga warisan budaya daerah.

Tetap menari meski harus belajar dari tempat tidur

Saat kondisi fisiknya belum pulih, Vio justru mendapat kesempatan tampil dari seorang teman komunitas Rumah Karya Indonesia. Ia diminta mengisi acara Siantarman Arts Festival, padahal saat itu ia belum bisa duduk dan belum memiliki penari.

Lewat Facebook, ia merekrut enam orang untuk dilatih. Proses latihannya bahkan dilakukan di atas tempat tidur karena ia belum mampu berdiri penuh.

“Vio ngelatih, ngajar narinya di tempat tidur,” tuturnya. Dari pengalaman itu, ia sadar bahwa dirinya tetap bisa memimpin, mengajar, dan berkarya meski tubuhnya belum pulih sempurna.

Dari titik itu, Vio perlahan belajar duduk, berdiri, hingga berjalan lagi. Tari menjadi bagian dari terapi sekaligus alasan untuk terus hidup.

Penghargaan nasional hingga panggung dunia

Kerja keras Vio dan SIHODA kemudian mendapat pengakuan luas. Ia menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dalam kategori Pelopor Budaya.

Vio juga masuk jajaran perempuan inspiratif dalam ajang Puspa Bangsa Kompas TV. Di level internasional, SIHODA mencatat prestasi saat menjadi juara dunia di Turki pada 2021 dan 2022, termasuk menyabet kategori The Best Costume selama dua tahun berturut-turut.

Pencapaian itu ia anggap sebagai hasil dari kesabaran dan konsistensi. Ia tak menutup mata bahwa banyak orang sempat meragukan kemampuannya sebagai penyandang disabilitas.

“Vio disabilitas pun, Vio gak minta-minta. Vio berdiri di atas kaki Vio sendiri,” katanya.

Pesan untuk perempuan dan penyandang disabilitas

Vio kerap menekankan pentingnya fokus pada diri sendiri tanpa sibuk membandingkan hidup dengan orang lain. Menurutnya, setiap perempuan punya keunikan dan cara berdaya yang berbeda.

Ia juga mendorong perempuan untuk berdiri di atas kaki sendiri, membangun kemandirian, dan memberi manfaat bagi orang lain. Dalam pandangannya, perempuan berdaya adalah mereka yang mau menerima dirinya, mencintai proses hidupnya, dan tetap berkarya dalam kondisi apa pun.

Bagi Vio, perjalanan hidup yang penuh luka tidak harus berakhir sebagai cerita duka. Dari panggung kecil di daerah hingga pengakuan nasional dan dunia, SIHODA menjadi bukti bahwa ketekunan bisa menjaga budaya tetap hidup, sementara keberanian pribadi bisa mengubah keterbatasan menjadi kekuatan yang nyata.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version