Banyak perempuan kerap mempertanyakan nilai dirinya saat hendak melangkah ke pengalaman baru, termasuk saat ingin terlibat dalam kegiatan sosial. Pertanyaan itu juga pernah dialami Sesilia Agnes, sosok yang akhirnya menemukan rasa percaya diri lewat keterlibatannya sebagai relawan di berbagai kegiatan kemanusiaan.
Perjalanan Agnes menunjukkan bahwa nilai diri tidak selalu datang dari pencapaian besar atau pengakuan dari orang lain. Dalam pengakuannya kepada IDN Times, ia menekankan bahwa makna terbesar justru lahir saat seseorang hadir dengan tulus untuk membantu, mendengar, dan terlibat langsung di lapangan.
Awal langkah dari sebuah unggahan
Titik awal perjalanan Agnes bermula dari satu unggahan di Instagram pada masa pandemi. Saat itu, ia melihat informasi dari organisasi kemanusiaan Cakra Abhipraya mengenai banjir bandang di Masamba, Sulawesi, dan keputusan kecil itu mengubah arah geraknya.
Ia tidak bisa langsung turun ke lokasi karena kondisi saat itu membuat banyak orang fokus bertahan hidup. Namun ia memilih mengambil peran lain bersama teman-temannya dengan menggalang dana secara daring untuk masyarakat terdampak.
“Aku ngelihat ada orang-orang yang mereka tuh tulus buat ngebantuin masyarakat di sana,” kata Agnes.
Langkah itu menjadi penghubung pertama antara kepedulian di media sosial dan aksi nyata di lapangan. Dari sana, ia mulai melihat bahwa kontribusi tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Masuk organisasi dan belajar dari kegiatan kecil
Setelah penggalangan dana berjalan, Agnes memutuskan bergabung sebagai anggota Cakra Abhipraya. Ia kemudian mengikuti berbagai kegiatan sosial secara bertahap, mulai dari pembagian sembako di Pulau Seribu hingga turun membantu saat gempa Cianjur.
Perjalanan itu tidak berlangsung instan, karena ia memulai dari kegiatan yang relatif sederhana sebelum benar-benar terjun ke wilayah bencana. Pola itu justru membuatnya lebih siap secara mental saat akhirnya mendapat kesempatan menjadi relawan di Papua.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa relawan bukan hanya soal hadir saat bencana besar. Ada proses panjang yang biasanya dimulai dari komitmen kecil, konsistensi, dan kesiapan untuk belajar di setiap kesempatan.
Keraguan diri yang perlahan berubah
Sebelum aktif lebih jauh di dunia sosial, Agnes sempat berada pada situasi yang akrab bagi banyak perempuan, yakni merasa belum cukup. Ia mempertanyakan apakah dirinya punya nilai yang bisa dibagikan kepada orang lain, terutama saat ingin mendaftar sebagai volunteer.
Keraguan itu tidak datang sekali lalu hilang begitu saja. Namun, semakin ia terlibat, semakin ia menyadari bahwa rasa berharga tidak harus menunggu validasi dari luar.
Berikut beberapa pelajaran yang ia dapat dari proses tersebut:
- Nilai diri tidak selalu terlihat dari luar.
- Keberanian sering muncul setelah seseorang mulai mencoba.
- Rasa percaya diri bisa tumbuh dari pengalaman nyata, bukan sekadar pikiran.
Agnes menyebut bahwa ia sempat insecure saat ingin mendaftar sebagai relawan. “Emang aku punya nilai apa yang bisa aku share?” ujarnya, sebelum akhirnya menyadari bahwa kemampuan itu sebenarnya sudah ada dalam dirinya sejak awal.
Papua dan pengalaman yang membekas
Di distrik Walaik, Papua, Agnes ikut membantu kegiatan belajar untuk anak-anak setempat. Ia mengajarkan hal-hal dasar seperti berhitung, memakai seragam dengan urutan yang benar, serta kebiasaan menjaga kebersihan diri.
Bagi warga kota, hal-hal tersebut tampak biasa. Namun bagi anak-anak di daerah itu, pengalaman tersebut punya nilai tersendiri karena menyentuh kebutuhan sehari-hari yang nyata.
Selain di ruang belajar, momen lain yang paling membekas datang saat ia duduk bersama mama-mama setempat dan merangkai buket bunga. Mereka menyambut Agnes dengan hangat, mengenalkannya pada budaya lokal, lalu memakaikannya busana khas daerah bernama Sali.
“Aku ngerasa kayak, wah, ini momen mahal sih,” kata Agnes.
Makna memberi yang tidak selalu tentang skala besar
Dari seluruh pengalaman sosial yang dijalaninya, Agnes membawa satu prinsip yang terus ia pegang. Ia menilai memberi tidak harus mewah, besar, atau terlihat heroik di mata publik.
Bagi Agnes, yang paling penting adalah ketulusan dan kehadiran penuh saat membantu orang lain. Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin hadir sebagai “penyelamat”, melainkan sebagai sosok yang mau mendengar kebutuhan nyata masyarakat yang ditemui.
Sikap itu penting karena aksi sosial yang sehat biasanya tidak berhenti pada simbol bantuan. Relasi yang setara, empati, dan keberanian untuk memahami kebutuhan lokal justru membuat kehadiran relawan lebih bermakna.
Perempuan dan ruang untuk memilih hidupnya sendiri
Pengalaman Agnes juga membentuk pandangannya tentang perempuan dan kemandirian. Ia percaya perempuan tidak perlu hidup sesuai ekspektasi orang lain, karena setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri.
Menurutnya, menjadi perempuan berdaya bukan soal memenuhi definisi yang kaku. Itu lebih dekat pada keberanian untuk mengenali nilai diri, terus bertumbuh, dan tetap melangkah meski belum sepenuhnya yakin.
“Perempuan tuh gak melulu harus jadi apa yang orang mau,” ujarnya.
Bagi Agnes, perjalanan menemukan nilai diri justru tumbuh dari tindakan sederhana yang dilakukan berulang, dari dunia sosial yang mempertemukan dirinya dengan banyak cerita, dan dari keyakinan bahwa ketulusan adalah bentuk kontribusi yang paling bertahan lama.
Source: www.idntimes.com








