Mutia Hanifah Ubah Konservasi Jadi Konten, Lawan Perdagangan Satwa Ilegal dari Media Sosial

Mutia Hanifah atau Mudi muncul sebagai salah satu contoh kreator muda yang memakai media sosial untuk membangun kesadaran konservasi dengan cara yang lebih mudah dicerna. Lewat akun Instagram @ke.mudian, ia menggabungkan pengalaman lapangan, dokumentasi alam, dan penjelasan yang sederhana agar isu perlindungan satwa tidak terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Pendekatan itu relevan karena topik konservasi kerap dianggap rumit, penuh istilah ilmiah, dan hanya dekat dengan kalangan akademik. Mudi justru melihat ruang besar di platform digital untuk menjembatani jarak antara pengetahuan teknis dan pemahaman publik, terutama generasi muda yang aktif mengonsumsi konten pendek dan visual.

Dari lapangan ke layar ponsel

Perjalanan Mudi di dunia konservasi tidak datang dalam sekejap. Ia berlatar belakang Biologi dengan fokus konservasi, setelah sempat menempuh pendidikan farmasi saat SMK, lalu mulai menekuni isu lingkungan secara serius ketika terlibat sebagai relawan pengumpulan data primata owa pada 2021.

Pengalaman itu membuatnya melihat langsung bagaimana isu perdagangan satwa ilegal, kerusakan habitat, dan minimnya pemahaman publik saling berkaitan. Dari situ, ia memutuskan fokus menjadi content creator pada September 2025 dengan membawa bekal pengalaman lapangan dan pengetahuan dari sejumlah NGO lingkungan.

Mudi menyebut dirinya ingin memanfaatkan kemampuan yang ia punya untuk menerjemahkan isu konservasi agar bisa dipahami orang awam. Ia mengatakan, “Gak ada yang menyederhanakan kalimat-kalimat ilmuwan, menyederhanakan konten-konten tersebut agar bisa dimengerti orang awam.”

Mengubah isu berat jadi konten yang dekat

Bagi Mudi, tantangan utama bukan hanya membuat konten, tetapi memastikan informasi yang disampaikan tetap akurat. Ia mengaku sempat ragu karena takut memberi data yang salah atau memakai bahasa yang terlalu ilmiah, sehingga kontennya ia arahkan untuk masyarakat umum.

Ia juga sadar bahwa generasi muda perlu diajak lewat bahasa yang relevan dengan keseharian mereka. Karena itu, Mudi menggunakan narasi yang lebih ringan tanpa meninggalkan substansi, termasuk memanfaatkan tren digital agar pesan konservasi lebih mudah masuk ke ruang percakapan anak muda.

Berikut fokus edukasi yang kerap ia dorong melalui konten dan kegiatan lapangan:

  1. Pengenalan satwa endemik dan fungsinya dalam ekosistem.
  2. Penjelasan soal dampak perdagangan satwa ilegal.
  3. Edukasi agar masyarakat tidak memelihara satwa liar.
  4. Sosialisasi konservasi di sekolah dan pesantren.
  5. Aksi bersih lingkungan dan kegiatan sukarela di alam.

Perdagangan satwa ilegal masih jadi ancaman

Mudi menaruh perhatian besar pada jual beli satwa ilegal yang masih terjadi, termasuk melalui transaksi daring. Ia menilai banyak orang belum memahami bahwa satwa liar punya peran ekologis penting, sehingga keberadaannya tidak bisa ditempatkan sebagai hewan peliharaan biasa.

Ia juga menyinggung soal kesejahteraan satwa atau animal welfare yang tak terpenuhi jika hewan liar dipelihara secara pribadi. Menurutnya, satwa liar harus bebas dari lapar, takut, cemas, dan tetap bisa berperilaku alami, sesuatu yang sulit terwujud di lingkungan rumah.

Karena itu, edukasi yang ia bangun tidak berhenti pada larangan memelihara satwa liar. Ia juga menekankan pentingnya mengenali jenis satwa endemik, memahami fungsinya di alam, serta mengetahui bahwa pembelian satwa ilegal ikut menyuburkan perburuan liar.

Konservasi juga soal manusia

Mudi menolak pandangan bahwa konservasi hanya membicarakan hewan. Ia menilai pelestarian alam juga menyangkut masyarakat yang hidup di sekitar habitat, termasuk bagaimana mereka mendapatkan penghidupan yang layak tanpa merusak lingkungan.

Ia mencontohkan dukungan pada lembaga atau komunitas konservasi sebagai cara yang lebih tepat untuk menunjukkan kepedulian. Dalam penjelasannya, membeli produk dari kelompok lokal yang terlibat dalam perlindungan alam, seperti kain dari Ibu-ibu Halimun, bisa membantu ekonomi warga sekaligus mendukung konservasi.

Pilihan itu menunjukkan bahwa perlindungan satwa dan pemberdayaan manusia bisa berjalan bersamaan. Dalam praktiknya, konservasi yang kuat justru membutuhkan kerja bersama antara komunitas lokal, pegiat lingkungan, dan publik yang bersedia memberi dukungan nyata.

Aksi yang ia bawa ke ruang publik

Selain aktif di media sosial, Mudi juga turun ke sekolah-sekolah, pesantren, dan kegiatan komunitas untuk berbagi edukasi lingkungan. Ia terlibat dalam clean up sampah di Bogor dan ikut program seperti Nusantara Wilderness, yang mempertemukan peserta dengan satwa, serangga, dan tumbuhan secara langsung di lapangan.

Model ini memperlihatkan bahwa edukasi konservasi tidak harus selalu lewat dialog formal. Konten digital, kunjungan lapangan, dan interaksi langsung bisa saling melengkapi untuk membangun kesadaran yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Mudi berharap generasi muda tidak hanya tertarik berkunjung ke alam, tetapi juga memahami etika, ilmu, dan tanggung jawab saat berada di sana. Ia percaya konservasi tidak bisa berjalan sendiri, sehingga kolaborasi menjadi kunci agar edukasi, perlindungan satwa, dan kepedulian publik bisa tumbuh lebih luas.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait

Back to top button