Harga plastik yang naik dalam beberapa waktu terakhir bukan sekadar keluhan pedagang di pasar. Pemerintah menyebut lonjakan ini terkait gangguan pasokan bahan baku utama plastik yang masih sangat bergantung pada impor.
Di lapangan, kenaikannya terasa nyata dan langsung menekan biaya usaha kecil hingga perdagangan harian. Sejumlah pedagang melaporkan harga plastik berbagai ukuran naik sampai Rp6.000 per pak, dari sekitar Rp17 ribu menjadi Rp23 ribu per pak.
Apa yang membuat harga plastik naik?
Pemicunya ada di rantai hulu industri plastik. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan kenaikan harga plastik terjadi karena pasokan nafta ikut terganggu akibat faktor global, terutama konflik internasional yang memengaruhi distribusi bahan baku.
Nafta adalah bahan penting dalam produksi plastik. Indonesia masih mengimpor komoditas ini, terutama dari kawasan Timur Tengah, sehingga gejolak di wilayah tersebut cepat menular ke harga dalam negeri.
Dalam pernyataannya di Jakarta pada Rabu (1/3/2026), Budi Santoso menyebut kenaikan harga plastik yang beredar di masyarakat memang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Ia menegaskan kondisi itu merupakan bagian dari dampak perang karena salah satu bahan baku plastik, yakni nafta, masih diimpor dari Timur Tengah.
Pernyataan senada datang dari Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Ia mengatakan kenaikan harga plastik ditemukan di berbagai daerah dan lonjakannya tergolong tinggi.
Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, mengaku mendapat keluhan langsung dari pedagang saat meninjau Pasar Minggu, Jakarta Selatan, bersama Menteri Perdagangan. Saat itu keduanya sedang mengecek stok bahan pangan dan pergerakan harga di pasar.
Menurut Zulhas, kenaikan itu berkaitan dengan lonjakan harga BBM yang terdorong situasi perang di Timur Tengah. Ia juga menyoroti kenaikan harga bijih plastik yang disebut melonjak sangat tajam.
Kenapa konflik global bisa berdampak ke harga plastik lokal?
Industri plastik tidak berdiri sendiri. Bahan baku hulu seperti nafta terhubung langsung dengan sektor energi, pengolahan petrokimia, pengiriman laut, hingga biaya distribusi internasional.
Saat konflik memanas di kawasan pemasok utama, efeknya bisa muncul dalam beberapa lapis. Pasokan terganggu, biaya logistik naik, harga energi terdorong, lalu produsen dan distributor menyesuaikan harga jual.
Bagi Indonesia, dampaknya lebih besar karena ketergantungan impor masih tinggi. Artinya, ketika harga global bergejolak atau pengiriman tersendat, pasar domestik sulit sepenuhnya terlindungi.
Secara umum, jalur kenaikan harga plastik dapat dibaca sebagai berikut:
- Konflik internasional mengganggu rantai pasok.
- Pasokan nafta dari Timur Tengah tertekan.
- Harga energi dan biaya distribusi ikut naik.
- Biaya produksi plastik meningkat.
- Harga plastik di tingkat pedagang dan konsumen ikut terdorong.
Kondisi ini menjelaskan mengapa kenaikan harga plastik tidak hanya terjadi di satu pasar. Pemerintah menyebut lonjakan tersebut terjadi di banyak daerah, yang menunjukkan masalahnya bersumber dari pasokan dan biaya, bukan semata permainan harga lokal.
Dampaknya terasa sampai pedagang kecil
Bagi pedagang pasar, plastik bukan barang sekunder. Plastik dipakai setiap hari untuk membungkus belanjaan, mengemas makanan, hingga mendukung aktivitas usaha kecil yang perputarannya cepat dan marginnya tipis.
Saat harga per pak naik dari Rp17 ribu menjadi Rp23 ribu, beban biaya langsung bertambah. Pedagang punya pilihan yang sama-sama berat, yakni menyerap kenaikan biaya sendiri atau meneruskannya ke konsumen.
Efek lanjutan bisa merembet ke banyak sektor. Industri pangan, logistik, dan manufaktur juga memakai plastik sebagai bagian dari sistem pengemasan dan distribusi, sehingga kenaikan harga bahan ini berpotensi mendorong biaya operasional secara luas.
Langkah pemerintah yang sedang disiapkan
Pemerintah menyatakan akan membahas masalah ini secara khusus dengan pihak terkait. Fokus utamanya adalah mencari jalan agar pasokan bahan baku lebih aman dan harga di dalam negeri tidak terus tertekan.
Salah satu opsi yang ditempuh ialah diversifikasi sumber impor. Pemerintah mulai menjajaki negara pemasok alternatif dari kawasan Afrika, India, hingga Amerika untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah.
Namun peralihan itu tidak bisa dilakukan seketika. Pemerintah mengakui perlu waktu untuk membuka kerja sama baru, memastikan mutu bahan baku, dan menyesuaikan rantai distribusi yang selama ini sudah terbentuk.
Selain itu, koordinasi dengan asosiasi dan pelaku industri plastik dalam negeri juga terus dilakukan. Langkah ini dinilai penting agar solusi yang diambil tidak hanya menahan gejolak harga sementara, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan bahan baku di tengah tekanan pasar global yang masih belum stabil.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.suara.com