Buah merupakan sumber nutrisi penting yang mudah ditemukan dan cocok dikonsumsi harian. Kandungan vitamin, serat, mineral, dan antioksidan di dalam buah membantu tubuh tetap bugar serta mendukung upaya menurunkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kanker.
Namun, manfaat buah tidak selalu muncul optimal jika cara makannya keliru. Sejumlah kebiasaan seperti memadukan buah tertentu, memakannya bersama makanan lain secara sembarangan, atau memilih buah yang belum matang bisa membuat tubuh kurang nyaman dan justru mengganggu pencernaan.
Mengapa cara makan buah perlu diperhatikan
Buah memang tergolong makanan sehat, tetapi setiap jenis buah punya karakteristik berbeda. Ada buah yang lebih baik dimakan utuh, ada yang lebih aman setelah matang, dan ada pula yang sebaiknya tidak dikombinasikan dengan bahan tertentu dalam satu waktu.
Dalam laporan referensi yang dikutip dari CNBC Indonesia dan detikHealth, beberapa kebiasaan makan buah disebut dapat memengaruhi kerja pencernaan dan penyerapan nutrisi. Karena itu, memahami waktu, porsi, dan kombinasi yang tepat menjadi penting, terutama bagi orang dengan kondisi tertentu seperti diabetes tipe 2 atau gangguan lambung.
1. Pilih buah yang matang sebelum dimakan
Buah matang umumnya lebih mudah dicerna dibanding buah yang masih mentah. Pepaya matang, misalnya, mengandung enzim papain yang membantu memecah protein menjadi asam amino dan dapat mengurangi rasa tidak nyaman seperti kembung atau sembelit.
Sebaliknya, pepaya muda masih mengandung lateks dan kadar papain yang tinggi, sehingga bisa mengiritasi sistem pencernaan pada sebagian orang. Karena itu, menyantap buah dalam kondisi matang bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal kenyamanan tubuh.
2. Jangan asal mengombinasikan buah tertentu
Salah satu kombinasi yang disebut perlu dihindari adalah pepaya dan lemon. Menurut sumber referensi, kombinasi ini dinilai dapat memicu ketidakseimbangan hemoglobin dan berpotensi menimbulkan anemia, sehingga tidak disarankan untuk dikonsumsi bersamaan.
Meski demikian, penting dicatat bahwa reaksi tubuh tiap orang bisa berbeda. Jika seseorang punya riwayat gangguan darah atau pencernaan sensitif, memilih kombinasi buah yang sederhana dan aman menjadi langkah yang lebih bijak.
3. Perhatikan cara makan buah bersama sayur
Buah dan sayur sama-sama baik untuk tubuh, tetapi mengonsumsinya bersamaan tidak selalu memberi hasil terbaik. Dalam referensi disebutkan bahwa kandungan gula pada buah dapat menghambat proses pencernaan sayur dan memunculkan rasa tidak nyaman di perut.
Untuk banyak orang sehat, kombinasi buah dan sayur dalam menu harian masih dapat dilakukan. Namun, bila tujuan utamanya adalah memperbaiki kenyamanan cerna, memberi jeda waktu antara makan buah dan sayur bisa menjadi pilihan yang lebih aman.
4. Konsumsi buah tanpa kulit jika kulitnya mengandung bahan berbahaya
Tidak semua buah harus dikupas sebelum dimakan. Apel misalnya, justru memiliki kandungan antioksidan tinggi pada bagian kulitnya, dan antioksidan itu bermanfaat melawan radikal bebas serta mendukung produksi kolagen.
Berikut panduan sederhana yang bisa diterapkan saat memilih buah dengan kulit:
| Jenis buah | Disarankan dimakan dengan kulit? | Catatan |
|---|---|---|
| Apel | Ya, jika sudah dicuci bersih | Kulit mengandung antioksidan |
| Pir | Bisa, bila aman dan bersih | Perhatikan kebersihan permukaan |
| Pepaya | Tidak | Kulit keras dan tidak umum dimakan |
| Jeruk | Tidak | Kulit tebal dan pahit |
Meski begitu, buah yang dimakan bersama kulit harus dicuci sampai bersih untuk mengurangi risiko residu pestisida dan kotoran.
5. Atur waktu konsumsi sesuai kondisi tubuh
Mengutip Healthline, sebenarnya tidak ada waktu mutlak yang paling benar untuk makan buah karena buah bisa dikonsumsi kapan saja. Meski begitu, penderita diabetes tipe 2 perlu lebih berhati-hati saat menggabungkan buah dengan makanan tinggi lemak, protein, atau karbohidrat karena hal itu dapat memicu lonjakan gula darah.
Bagi orang dengan kondisi metabolik tertentu, makan buah sebagai camilan terpisah sering kali lebih aman dibanding mencampurnya dengan makanan berat. Cara ini membantu tubuh memproses gula alami buah secara lebih terkendali.
6. Perhatikan porsi, bukan hanya jenis buah
Buah tetap mengandung gula alami, jadi porsi tetap perlu dijaga. Konsumsi buah berlebihan bisa membuat asupan kalori dan gula naik, terutama jika buah dikonsumsi dalam bentuk jus tanpa serat atau ditambah pemanis.
Pakar gizi umumnya menganjurkan buah utuh karena seratnya masih lengkap. Serat membantu rasa kenyang lebih lama dan membuat pelepasan gula ke darah terjadi lebih perlahan dibanding jus buah.
7. Utamakan buah utuh daripada olahan
Buah segar utuh biasanya memberi manfaat lebih besar dibanding produk buah olahan. Saat buah dijus atau dicampur bahan tambahan, serat bisa berkurang dan kadar gula total bisa meningkat.
Cara ini penting diperhatikan oleh orang yang ingin menjaga berat badan, mengontrol gula darah, atau memperbaiki pola makan harian. Memilih buah utuh juga membuat tubuh mendapatkan tekstur, serat, dan volume yang lebih baik saat dikonsumsi.
Pada akhirnya, cara makan buah yang tepat tidak hanya bergantung pada jenis buah, tetapi juga pada kondisi tubuh, waktu konsumsi, serta kebiasaan mengolahnya. Dengan memilih buah matang, menghindari kombinasi yang tidak perlu, menjaga porsi, dan memprioritaskan buah utuh yang bersih, manfaat buah untuk kesehatan bisa didapat secara lebih optimal tanpa mengganggu pencernaan.
Source: www.beautynesia.id