Dalam kehidupan sosial, rasa terima kasih bukan sekadar sopan santun, tetapi penanda penting bahwa seseorang mampu mengakui bantuan orang lain. Psikologi menilai, orang yang sulit berterima kasih sering memperlihatkan pola pikir yang berpusat pada diri sendiri, merasa paling berhak, dan melihat relasi secara transaksional.
Pola ini bisa dikenali dari ucapan sehari-hari, cara mereka bereaksi saat diberi bantuan, hingga bagaimana mereka memandang kontribusi orang lain. Karena itu, mengenali ciri-cirinya lebih awal penting agar kita bisa membaca dinamika hubungan dengan lebih jernih dan tidak terjebak dalam ekspektasi yang tidak seimbang.
1. Selalu Menuntut Pengakuan atas Kebaikan yang Mereka Lakukan
Salah satu ciri yang sering muncul adalah kebiasaan mengucapkan, “Tidak ada seorang pun yang berterima kasih saat aku menolong mereka.” Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa bantuan yang mereka berikan tidak sepenuhnya lahir dari ketulusan, melainkan juga dari harapan akan imbalan.
Dalam banyak kasus, mereka merasa kecewa ketika kebaikannya tidak dibalas secara langsung. Sikap ini sejalan dengan pola pikir transaksional, yaitu relasi dipahami seperti pertukaran untung-rugi, bukan hubungan yang tumbuh dari empati.
Penelitian tentang rasa syukur juga memberi gambaran yang relevan. Studi tahun 2023 yang dipublikasikan di PubMed Central menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh bersama pengasuh yang menanamkan rasa syukur cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih baik dan kesehatan emosional lebih seimbang.
2. Sulit Mengakui Kesalahan dan Sering Menyalahkan Orang Lain
Orang yang tak tahu berterima kasih kerap enggan mengambil tanggung jawab atas tindakannya. Saat muncul masalah, mereka lebih cepat mencari faktor luar, termasuk menyalahkan pasangan, teman, atau keluarga.
Dalam studi yang dikutip PLOS One, sebagian orang dengan pola ini cenderung memakai strategi “menyelamatkan muka” ketika berhadapan dengan konsekuensi atas tindakannya. Mereka mengalihkan perhatian dari kesalahan diri sendiri agar tetap terlihat sebagai pihak yang benar atau sebagai korban.
Pola seperti ini sering membuat hubungan jadi sulit stabil. Jika setiap konflik selalu diarahkan keluar, ruang untuk refleksi diri dan perbaikan hubungan ikut mengecil.
3. Sering Mengucapkan Kalimat Bernada Menuntut
Beberapa kalimat yang kerap muncul bisa menjadi petunjuk kuat, misalnya “Kamu berutang padaku” atau “Kamu selalu membuatku merasa seperti ini.” Ucapan seperti ini menunjukkan adanya tuntutan tersembunyi dan dorongan untuk mengendalikan orang lain lewat rasa bersalah.
Alur pikir semacam ini biasanya membuat hubungan terasa berat. Alih-alih menghargai bantuan yang sudah diterima, mereka justru fokus pada kekurangan dan menempatkan orang lain dalam posisi harus membuktikan loyalitas terus-menerus.
4. Lebih Fokus pada yang Kurang daripada yang Sudah Dimiliki
Sebuah studi dari jurnal Personality and Social Psychology menyebut bahwa orang yang tidak tahu berterima kasih cenderung terlalu fokus pada apa yang “hilang” dalam hidup mereka. Mereka lebih sering melihat kekurangan dibandingkan menilai dukungan, hubungan sehat, atau stabilitas yang sudah ada.
Tabel berikut merangkum perbedaannya secara sederhana.
| Pola pikir bersyukur | Pola pikir tidak bersyukur |
|---|---|
| Melihat bantuan sebagai dukungan | Melihat bantuan sebagai kewajiban orang lain |
| Menghargai yang sudah dimiliki | Menyoroti yang kurang |
| Mudah mengakui kontribusi orang lain | Sulit memberi apresiasi |
| Relasi terasa saling mendukung | Relasi terasa penuh tuntutan |
Ketidakpuasan yang terus berulang ini membuat mereka mudah merasa dirugikan. Dalam jangka panjang, sikap tersebut dapat mengganggu keintiman karena hubungan berubah menjadi ajang menagih.
5. Hadir Hanya Saat Membutuhkan Sesuatu
Ciri lain yang sering terlihat adalah kedekatan yang tidak konsisten. Mereka cenderung muncul ketika butuh bantuan, tetapi menghilang saat orang lain membutuhkan dukungan balik.
Kalimat seperti “Aku lupa kamu hanya datang saat butuh sesuatu” menggambarkan hubungan yang tidak seimbang. Dalam perspektif psikologi, perilaku ini bisa terkait dengan proyeksi, yaitu memindahkan rasa bersalah sendiri kepada orang lain agar beban emosinya terasa lebih ringan.
Studi yang dimuat American Psychologist juga menyoroti bahwa orang yang rutin mempraktikkan syukur mengalami lebih sedikit emosi negatif. Sebaliknya, mereka yang jarang bersyukur sering membawa emosi yang belum selesai, seperti malu, bersalah, dan rasa berhak yang berlebihan.
6. Respons Emosinya Mudah Meledak saat Dibatasi
Orang yang tidak terbiasa mengucap terima kasih sering menunjukkan ketahanan emosional yang rendah ketika keinginannya tidak dipenuhi. Saat batasan diberikan, mereka dapat merespons dengan kemarahan, kekecewaan berlebihan, atau sentimen bahwa orang lain tidak peduli.
Kondisi ini penting dibaca hati-hati karena kemarahan tersebut tidak selalu muncul dari masalah saat ini. Dalam banyak kasus, reaksi itu berkaitan dengan pola lama yang membentuk keyakinan bahwa dunia harus terus memenuhi kebutuhannya.
Harvard Health Publishing mencatat bahwa orang yang lebih sering mengungkapkan rasa syukur umumnya lebih bahagia dibanding mereka yang tidak bersyukur. Data ini memperkuat pandangan bahwa syukur bukan hanya etika sosial, tetapi juga bagian dari kesehatan psikologis dan kualitas relasi.
Dalam praktik sehari-hari, mengenali orang yang tak tahu berterima kasih bukan berarti langsung memberi label negatif, tetapi membaca pola yang berulang dengan lebih cermat. Jika seseorang terus menuntut, sulit mengakui kesalahan, dan mengubah hubungan menjadi transaksi, maka masalah utamanya kemungkinan ada pada cara ia memaknai penghargaan, tanggung jawab, dan kedekatan dengan orang lain.
Source: www.beautynesia.id