Industri desain dan furnitur Indonesia membidik panggung internasional lewat keikutsertaan di Salone del Mobile Milano 2026, pameran furnitur terbesar di dunia. Langkah ini diarahkan untuk membuka akses pasar ekspor sekaligus mengangkat citra Indonesia sebagai negara dengan kekuatan desain, bukan sekadar pemasok bahan baku.
Momentum ini muncul saat pasar furnitur global terus tumbuh dan semakin menghargai desain yang inovatif serta berkelanjutan. Dalam artikel referensi disebutkan, nilai pasar furnitur dunia telah melampaui USD 700 miliar pada 2025, seiring naiknya permintaan terhadap produk yang menggabungkan fungsi, estetika, dan storytelling budaya.
Indonesia membidik pasar yang sedang tumbuh
Peluang tersebut dinilai relevan bagi Indonesia karena sektor ekonomi kreatif nasional juga menunjukkan kontribusi yang besar. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat kontribusi ekonomi kreatif telah menembus lebih dari Rp1.300 triliun terhadap PDB nasional, dengan subsektor kriya dan desain produk menjadi salah satu penopang utama.
Namun, tantangan utama belum sepenuhnya selesai di level produksi. Pelaku industri masih menghadapi persoalan akses pasar global, penguatan identitas merek, dan persepsi internasional terhadap produk desain asal Indonesia.
Karena itu, tampil di Milan diposisikan sebagai langkah strategis yang lebih luas dari sekadar mengikuti pameran. Indonesia ingin menunjukkan bahwa ekosistem desain nasional mampu hadir utuh, mulai dari desainer, merek, hingga manufaktur.
Mengapa Milan jadi panggung penting
Salone del Mobile Milano 2026 dijadwalkan berlangsung pada 21–26 April di Milan, Italia. Ajang ini dikenal sebagai salah satu barometer utama industri furnitur dan desain interior dunia karena mempertemukan pelaku bisnis, kurator, desainer, arsitek, dan pembeli dari berbagai negara.
CEO Indonesia Design District (IDD) PIK2, Ipeng Widjojo, menegaskan bahwa target utama partisipasi ini adalah peluang bisnis nyata. Dalam artikel referensi, ia menyebut kerja sama tersebut bertujuan membawa para exhibitor Indonesia agar memperoleh “potential business” yang diharapkan dari panggung global itu.
Ipeng juga menggambarkan skala pameran di Milan yang sangat besar. Menurut dia, area pameran mencapai sekitar 200 ribu meter persegi dan membutuhkan waktu sangat lama untuk dijelajahi secara menyeluruh.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Milan bukan ajang biasa. Kota tersebut juga disebut hanya memiliki dua agenda pameran global utama setiap tahun, yaitu furnitur dan fashion, yang mempertegas posisinya sebagai salah satu pusat desain dunia.
House of Indonesia dan strategi citra nasional
Di Milan nanti, Indonesia akan hadir lewat pavilion bertajuk House of Indonesia. Konsep ini dirancang sebagai representasi ekosistem desain nasional yang terintegrasi, kolaboratif, dan siap bersaing di level global.
Ipeng menegaskan Indonesia ingin mengubah persepsi pasar internasional. Ia menyatakan Indonesia tidak ingin hanya dilihat sebagai negara penghasil raw materials, melainkan sebagai sumber kreativitas desain, inovasi material, dan produk dengan nilai artistik tinggi.
Pesan ini penting karena tren pasar global kini tidak hanya menilai bahan dan harga. Pembeli internasional semakin mempertimbangkan cerita di balik desain, proses produksi, keberlanjutan material, dan identitas budaya yang melekat pada produk.
Kurasi karya dan talenta yang dibawa
Kurasi karya untuk pavilion Indonesia dilakukan oleh desainer Alvin Tjitrowirjo. Ia mengusung pendekatan yang memadukan estetika kontemporer, identitas budaya, dan eksplorasi material khas Indonesia.
Dalam referensi, Alvin mengatakan Indonesia memiliki ekosistem yang mampu berpikir secara konseptual dan siap bersaing di panggung global. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa kekuatan desain Indonesia tidak berhenti pada kerajinan tradisional, tetapi juga bergerak ke arah inovasi dan penciptaan nilai tambah.
Desain interior booth digarap oleh Santi Alaysius. Pendekatan yang dipilih menekankan eksplorasi ruang dan narasi visual yang mencerminkan semangat kolaborasi.
Selain pavilion utama, sejumlah nama dari Indonesia juga ikut dalam program SaloneSatellite. Program ini dikenal sebagai ruang bagi talenta muda dunia untuk menampilkan gagasan baru di sektor desain.
Beberapa peserta Indonesia yang disebut dalam referensi antara lain:
- Studio Banda
- Zulyo Kumara
- Cynthia Margaret
Kehadiran mereka memperluas representasi Indonesia di Milan. Tidak hanya brand dan manufaktur yang tampil, tetapi juga desainer yang membawa perspektif baru dan potensi inovasi jangka panjang.
Dukungan lintas lembaga
Partisipasi Indonesia di ajang ini tidak berjalan sendiri. Sejumlah institusi ikut memberi dukungan, termasuk Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Perdagangan RI, Indonesia Design Development Centre, Indonesian Trade Promotion Center Milan, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma.
Kolaborasi lintas lembaga ini penting karena ekspor desain tidak hanya bergantung pada kualitas produk. Pelaku industri juga membutuhkan promosi dagang, fasilitasi jaringan internasional, dukungan diplomasi ekonomi, dan strategi branding negara yang konsisten.
Berikut fokus utama yang dibawa Indonesia ke Milan:
| Fokus | Tujuan |
|---|---|
| Ekspansi pasar ekspor | Membuka peluang bisnis dan buyer baru |
| Penguatan citra nasional | Menampilkan Indonesia sebagai kekuatan desain |
| Kolaborasi ekosistem | Menghubungkan desainer, brand, dan manufaktur |
| Inovasi material | Menunjukkan nilai tambah dan kreativitas produk |
Dengan kombinasi pasar global yang sedang tumbuh, dukungan institusional, dan kurasi yang menonjolkan identitas lokal, pameran di Milan menjadi ujian penting bagi desain Indonesia. Ajang ini juga menjadi ruang pembuktian bahwa produk furnitur nasional dapat hadir sebagai karya bernilai tinggi yang relevan dengan selera dan kebutuhan pasar dunia.
Source: www.suara.com






