Menghitung kalori kini tidak harus lewat aplikasi baru yang rumit. Di Indonesia, Kalg menawarkan cara yang lebih sederhana karena layanan ini hadir langsung melalui WhatsApp, aplikasi chat yang sudah dipakai banyak orang setiap hari.
Pendekatan itu ditujukan untuk membantu orang yang ingin menjaga pola makan tanpa harus mengubah kebiasaan digital mereka. Founder Kalg, Chandra Ishano, mengatakan, “Kami ingin teknologi ini menjadi teman yang membantu tanpa mengubah rutinitas secara drastis.”
Hitung kalori dari chat yang biasa dipakai
Kalg dirancang agar pengguna cukup mengirim foto atau deskripsi makanan lewat chat. Menu seperti rendang, nasi goreng, hingga jajanan pasar bisa diidentifikasi lalu diproses untuk memberi estimasi kalori secara cepat.
Cara ini menempatkan kebiasaan sehari-hari sebagai pintu masuk menuju gaya hidup yang lebih sehat. Alih-alih membuka aplikasi lain, pengguna tetap berada di WhatsApp dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam alur percakapan yang sederhana.
Kalg juga mengandalkan basis data masakan khas Indonesia. Menurut Chandra Ishano, sistem ini dibekali database makanan lokal agar hasil estimasi kalori dan rekomendasinya lebih relevan dengan pola makan masyarakat di dalam negeri.
Mengandalkan data makanan lokal
Fokus pada makanan Indonesia menjadi pembeda penting karena hitung kalori sering kali lebih mudah untuk menu internasional daripada hidangan lokal. Kalg mencoba menjawab tantangan itu dengan data yang mencakup porsi, bumbu, dan jajanan pasar dalam konteks kuliner Indonesia.
Pendekatan tersebut membuat hasil analisis terasa lebih dekat dengan kebutuhan pengguna. Saat seseorang mengirim foto makanan, sistem tidak hanya membaca jenis makanannya, tetapi juga mencoba menyesuaikan dengan karakter hidangan yang umum dikonsumsi masyarakat.
Dengan begitu, proses memantau asupan harian bisa dilakukan tanpa langkah yang berbelit. Cara ini penting terutama bagi orang yang ingin mulai peduli pada pola makan, tetapi merasa kerepotan dengan pencatatan manual atau aplikasi yang terasa terlalu kompleks.
Program personal, bukan langganan yang terus berjalan
Selain mudah diakses, Kalg menawarkan model program yang disesuaikan dengan target tiap pengguna. Chandra Ishano menegaskan bahwa layanan ini tidak dibangun dengan pola langganan abadi, melainkan program personal yang mengikuti kebutuhan dan durasi tujuan pengguna.
Ia menjelaskan, target penurunan berat badan bisa dirancang selama 3-6 bulan. Jika seseorang ditargetkan mencapai berat badan ideal dalam tiga bulan, maka program akan berjalan hanya selama periode itu.
Model seperti ini mencoba menjawab kebiasaan pengguna yang lebih nyaman dengan layanan yang jelas batas waktunya. Chandra menyebut masyarakat Indonesia cenderung tidak menyukai aplikasi baru yang berlapis-lapis maupun subscription yang terus berjalan, sehingga Kalg dirancang lebih fleksibel.
Bagi pengguna, pendekatan ini memberi kesan lebih terarah karena program kesehatan tidak dibuat seragam. Setiap orang bisa mendapat durasi pendampingan yang berbeda sesuai target, lalu berhenti saat tujuan utama tercapai.
Dorongan kecil untuk kebiasaan yang lebih sehat
Kehadiran Kalg menunjukkan bahwa teknologi kesehatan tidak selalu harus hadir dalam bentuk aplikasi terpisah. Saat kalkulasi kalori bisa dilakukan lewat chat, proses membangun kesadaran terhadap makanan harian menjadi lebih ringan dan terasa dekat dengan aktivitas rutin.
Di sisi lain, kebiasaan sederhana seperti memotret makanan atau mengirim deskripsi menu dapat menjadi langkah awal untuk memantau asupan. Saat akses dibuat mudah dan personal, peluang orang untuk konsisten menjaga pola makan juga ikut terbuka lebih lebar.
Source: www.idntimes.com






