Sering Disepelekan, IDAI Ingatkan Influenza Pernah Tewaskan Hingga 100 Juta Orang

Author: Qoo Media

Influenza masih sering dianggap penyakit ringan karena gejalanya kerap mirip flu biasa dan bisa mereda sendiri. Padahal, Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan virus ini pernah memicu pandemi besar yang menewaskan sekitar 50 juta hingga 100 juta orang di dunia.

Peringatan itu disampaikan Prof. Dr. dr. Soedjatmiko saat membahas risiko influenza yang hingga kini tetap perlu diwaspadai. Menurut dia, sejarah wabah influenza A pada 1918–1919 menunjukkan bahwa virus ini bukan ancaman sepele.

Ancaman influenza menjadi lebih serius karena penyakit ini dapat berkembang dari keluhan awal yang tampak ringan menjadi infeksi berat. Gejala biasanya diawali demam dan batuk, tetapi pada kondisi tertentu dapat menyebar ke seluruh tubuh hingga membuat pasien lemas dan kehilangan nafsu makan.

Risiko terberat muncul pada kelompok rentan, terutama bayi, balita, lansia, dan orang dewasa dengan penyakit penyerta. Prof. Soedjatmiko menyebut komorbiditas seperti diabetes dan obesitas dapat memperbesar kemungkinan terjadinya kondisi berat.

Bisa menyerang paru, jantung, hingga otak

Salah satu komplikasi yang paling diwaspadai adalah ketika virus menyerang paru-paru dan memicu pneumonia. Kondisi ini bisa menyebabkan sesak napas, kekurangan oksigen, dan membuat pasien membutuhkan bantuan oksigen.

Dampaknya tidak berhenti di saluran pernapasan. Influenza juga berpotensi menyerang organ vital lain seperti jantung dan otak, sehingga pasien dapat memerlukan perawatan intensif di rumah sakit, termasuk di unit perawatan intensif atau ICU.

Karena itu, IDAI menegaskan influenza tipe A dan B tetap memiliki potensi menyebabkan infeksi berat hingga kematian. Penilaian bahwa influenza selalu ringan dinilai berbahaya, terutama jika membuat kelompok rentan terlambat mendapatkan perlindungan dan penanganan.

Di tengah masih adanya anggapan bahwa influenza tidak berbahaya, pencegahan dinilai menjadi aspek yang tidak kalah penting dari pengobatan. Salah satu langkah yang dianjurkan adalah vaksinasi influenza untuk anggota keluarga, terutama mereka yang memiliki risiko lebih tinggi.

Vaksin belum masuk program nasional

Hingga saat ini, vaksin influenza belum masuk ke dalam program imunisasi nasional di Indonesia. Menurut Prof. Soedjatmiko, keputusan itu berkaitan dengan berbagai pertimbangan pemerintah, mulai dari besarnya beban penyakit, tingkat keparahan, hingga analisis biaya dan manfaat kesehatan.

Pemerintah dan Komite Imunisasi Nasional menilai seberapa besar dampak penyakit tersebut, termasuk apakah menyebabkan kematian atau kecacatan, serta berapa biaya yang dibutuhkan untuk pencegahannya. Karena itu, status vaksin influenza di Indonesia masih berupa rekomendasi, bukan kewajiban.

Di sejumlah negara lain, vaksin influenza sudah menjadi bagian dari program nasional, terutama di wilayah dengan angka kasus dan kematian yang tinggi. Sementara di Indonesia, organisasi profesi kesehatan tetap menganjurkan vaksinasi meski belum menjadi program pemerintah.

Anjuran ini terutama ditujukan bagi anak-anak, lansia, dan individu dengan penyakit penyerta. Kelompok tersebut dinilai paling membutuhkan perlindungan karena lebih rentan mengalami komplikasi berat jika terinfeksi influenza.

Peralihan ke vaksin trivalent

Dalam penjelasannya, Prof. Soedjatmiko juga menyoroti penggunaan vaksin influenza trivalent atau TIV. Ia menyebut vaksin influenza trivalent produksi PT Kalventis Sinergi Farma memiliki profil imunogenisitas, efektivitas, dan keamanan yang sebanding dengan vaksin quadrivalent.

Selama lebih dari satu dekade, vaksin influenza quadrivalent digunakan untuk melindungi dua galur virus influenza A, yakni H1N1 dan H3N2, serta dua galur influenza B, yaitu Victoria dan Yamagata. Namun perubahan pola peredaran virus membuat komposisi vaksin ikut dievaluasi.

Menurut Prof. Soedjatmiko, sejak 2020 virus B/Yamagata tidak ditemukan lagi di seluruh dunia. Karena itu, pada 2023 WHO menilai komponen virus B/Yamagata dalam vaksin tidak lagi diperlukan.

Ia menegaskan, efektivitas vaksin influenza ditentukan oleh kesesuaian antigen dengan virus yang sedang beredar. Dengan dasar itu, transisi dari vaksin quadrivalent ke trivalent bukan dipandang sebagai penurunan perlindungan, melainkan penyesuaian berdasarkan bukti ilmiah terbaru.

IDAI pun tetap mendorong vaksin influenza sebagai bentuk perlindungan optimal untuk keluarga. Prof. Soedjatmiko menilai vaksin influenza trivalent dapat digunakan untuk melindungi anggota keluarga dari bayi hingga lansia, dengan harga yang lebih ekonomis dan dapat diberikan setiap tahun.

Pesan utamanya adalah influenza tidak boleh diremehkan hanya karena sering dianggap penyakit musiman. Ketika menyerang kelompok rentan, virus ini bisa berkembang cepat menjadi pneumonia, gangguan organ vital, hingga kondisi yang membutuhkan perawatan intensif.

Source: www.suara.com
Terbaru