Sebuah sekolah ramah lingkungan kini berdiri di Mauk, Tangerang, dengan material yang tidak biasa. Bangunan pendidikan ini memanfaatkan 2,2 ton sampah plastik yang diolah menjadi eco-blocks, sekaligus menekan emisi karbon hingga sekitar 5,2 ton CO2.
Proyek ini menarik perhatian karena menjawab dua kebutuhan sekaligus dalam satu langkah. Di satu sisi, sekolah tersebut menghadirkan fasilitas belajar yang lebih layak, dan di sisi lain menunjukkan bahwa limbah plastik bisa diubah menjadi infrastruktur yang berguna.
Sekolah yang dibangun adalah KB Cahaya Persada. Fasilitas ini hadir melalui kolaborasi PT Lautan Luas Tbk dengan Happy Hearts Indonesia.
Kehadiran bangunan baru itu memberi akses pendidikan yang lebih baik bagi sekitar 100 anak di wilayah setempat. Dampaknya tidak berhenti pada penyediaan ruang belajar, tetapi juga membawa contoh nyata praktik pembangunan yang lebih ramah lingkungan.
Sampah plastik jadi bahan bangunan
Material utama yang dipakai dalam proyek ini adalah eco-blocks. Bahan ini merupakan material konstruksi inovatif yang dibuat dari hasil daur ulang plastik.
Penggunaan eco-blocks membuat proyek sekolah tersebut memiliki nilai lebih dibanding pembangunan konvensional. Selain mengurangi timbunan limbah plastik, pendekatan ini juga membantu menekan jejak karbon dari proses pembangunan.
Angka yang dicatat dalam proyek ini cukup signifikan. Sebanyak 2,2 ton sampah plastik berhasil dimanfaatkan kembali, dengan pengurangan emisi karbon mencapai sekitar 5,2 ton CO2.
Model seperti ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak harus berakhir di tempat pembuangan. Dalam konteks tertentu, limbah justru dapat diproses menjadi material bernilai guna yang mendukung kebutuhan sosial dasar seperti pendidikan.
Dampak sosial dan lingkungan berjalan bersama
Sekolah ini diposisikan bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai simbol pendekatan keberlanjutan yang lebih praktis. Proyek tersebut memperlihatkan bahwa upaya pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
PT Lautan Luas Tbk menilai pembangunan ini sebagai bentuk nyata komitmen perusahaan untuk menciptakan dampak berkelanjutan. Head of Investor Relations, Corporate Communications and ESG PT Lautan Luas Tbk, Eurike Hadijaya, menyatakan pemanfaatan sampah plastik menjadi fasilitas pendidikan menunjukkan solusi lingkungan dapat sejalan dengan peningkatan kualitas hidup warga.
Pernyataan itu menegaskan arah proyek yang tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa gedung sekolah. Ada pesan yang ingin disampaikan, yakni bahwa inovasi lingkungan bisa diterapkan dalam kebutuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dari sisi sosial, manfaatnya langsung terasa pada anak-anak yang memperoleh tempat belajar lebih layak. Dari sisi lingkungan, proyek ini memperlihatkan cara konkret mengelola sampah plastik agar tidak berhenti sebagai beban ekologis.
Keterlibatan relawan membuat sekolah lebih hidup
Pembangunan sekolah ini juga melibatkan karyawan perusahaan dalam kegiatan relawan. Sejumlah relawan ikut menghias dinding sekolah melalui mural painting untuk menciptakan suasana belajar yang lebih ceria dan inspiratif.
Keterlibatan tersebut memberi nilai tambah pada proyek yang sejak awal dirancang bukan semata pembangunan bangunan. Sentuhan mural membuat lingkungan sekolah terasa lebih ramah bagi anak-anak yang akan belajar di dalamnya.
Langkah itu sekaligus menunjukkan bahwa kontribusi pada proyek sosial tidak selalu berbentuk pendanaan atau material. Keterlibatan langsung dalam menata ruang belajar juga menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman pendidikan yang lebih menyenangkan.
Dapat apresiasi sebagai sarana edukasi masyarakat
Apresiasi terhadap kehadiran sekolah ini datang dari Ketua HIMPAUDI Kecamatan Pakuhaji, Juanedi. Ia menilai sekolah tersebut memberi manfaat ganda karena menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih baik sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah plastik.
Menurut Juanedi, kolaborasi semacam ini memperlihatkan bahwa limbah yang selama ini dipandang sebagai masalah dapat diolah menjadi solusi nyata untuk kebutuhan sosial. Pandangan itu memperkuat posisi proyek ini sebagai contoh penerapan keberlanjutan yang dapat dipahami langsung oleh masyarakat.
Pesan edukatifnya juga cukup kuat karena terlihat dalam bentuk yang nyata. Warga dapat melihat sendiri bahwa sampah plastik tidak selalu identik dengan pencemaran, melainkan juga berpotensi menjadi bahan bangunan yang memiliki fungsi sosial.
Di tengah persoalan sampah plastik yang terus menjadi tantangan, pembangunan KB Cahaya Persada di Mauk memberi gambaran pendekatan yang lebih aplikatif. Sekolah ini berdiri sebagai bukti bahwa pengelolaan limbah, pengurangan emisi, dan penyediaan akses pendidikan layak dapat diwujudkan dalam satu proyek yang sama.
Source: www.suara.com






