Banjir sering datang lebih cepat daripada bantuan, dan 72 jam pertama kerap jadi masa paling rawan bagi keluarga yang belum siap. Karena itu, survival kit pria saat banjir perlu disusun sejak awal, bukan menunggu air naik dan akses bantuan terputus.
Di Indonesia, banjir tercatat sebagai bencana yang paling sering melanda. BNPB mencatat lebih dari 1.000 kejadian sepanjang 2024, dari Aceh hingga Papua, dan banyak korban terdampak karena tidak punya persiapan sama sekali.
Dokumen yang tak boleh tercecer
Langkah paling dasar adalah menjaga dokumen penting tetap aman di dalam wadah kedap air. KTP, Kartu Keluarga, SIM, paspor, polis asuransi, dan sertifikat tanah sulit diganti dalam waktu singkat saat kondisi darurat.
Proses penerbitan ulang KTP saja disebut membutuhkan rata-rata 14 hari kerja berdasarkan Permendagri Nomor 76 Tahun 2020. Karena itu, semua dokumen penting sebaiknya dimasukkan ke plastik zipper kedap udara lalu disimpan di tas anti-air sebelum banjir musiman tiba.
Tambahkan juga catatan medis keluarga di dalamnya. Data seperti golongan darah, riwayat penyakit kronis, dan daftar obat rutin bisa sangat membantu tenaga medis di posko pengungsian yang belum mengenal kondisi pasien.
Air bersih harus jadi prioritas
Kebutuhan air minum orang dewasa rata-rata berada di kisaran dua hingga tiga liter per hari dalam kondisi normal. Saat bencana, kebutuhan ini bisa meningkat karena stres fisik dan psikologis, sementara sumber air bersih justru cepat tercemar.
Air PAM bisa berhenti mengalir, sumur bisa terendam, dan air kemasan di pasaran bisa habis dalam hitungan jam setelah banjir terjadi. Karena itu, simpan setidaknya enam botol air mineral 1,5 liter per orang di tas darurat.
Cadangan lain yang penting adalah tablet purifikasi seperti Aquatabs. Produk ini mengandung NaDCC atau natrium dikloroisosianurat, mampu membunuh bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, hingga virus hepatitis A dalam satu liter air tercemar hanya dalam 30 menit.
P3K harus disesuaikan dengan risiko banjir
Kotak P3K standar memang penting, tetapi banjir membutuhkan isi yang lebih spesifik. Selain perban, kasa steril, plester, antiseptik, obat penurun demam, dan obat alergi, tambahkan oralit untuk mengatasi dehidrasi akibat diare.
Diare termasuk salah satu penyakit yang paling sering mewabah pascabanjir. Krim antijamur juga perlu disiapkan karena kulit yang lama terendam air kotor rentan terhadap infeksi dermatofit.
Masker N95 lebih disarankan dibanding masker bedah biasa untuk situasi ini. Air banjir bisa membawa gas hidrogen sulfida dari saluran pembuangan, sementara sarung tangan lateks sekali pakai membantu melindungi tangan saat membersihkan luka atau menyentuh permukaan terkontaminasi.
Penerangan dan komunikasi jangan bergantung pada listrik
Pemadaman listrik hampir selalu menyertai banjir skala menengah ke atas. Kondisi gelap di rumah yang terendam membuat risiko kecelakaan sekunder meningkat, terutama saat harus memindahkan barang atau mengevakuasi anak.
Headlamp lebih fungsional daripada senter genggam karena membebaskan kedua tangan. Pilih yang punya ketahanan air minimal IPX4 dan daya tahan baterai minimal 50 jam pada mode redup.
Radio portabel berbasis baterai atau engkol tangan juga perlu ada di tas. Saat jaringan seluler lumpuh, radio menjadi alat komunikasi satu arah yang tetap bisa menerima informasi evakuasi dan kondisi lapangan dari RRI secara real-time tanpa internet.
Multitool untuk kebutuhan darurat
Multitool memberi banyak fungsi dalam satu alat dan efisien untuk tas darurat. Leatherman Wave+ disebut sebagai salah satu acuan, dengan pisau lipat, tang, gunting, obeng, pembuka kaleng, hingga gergaji kawat dalam bodi baja tahan karat 420HC berbobot 247 gram.
Alat ini bisa dipakai untuk memotong tali, membuka makanan kaleng, atau memperbaiki perlengkapan evakuasi secara darurat. Simpan di kantong terluar tas agar bisa diambil dalam hitungan detik, lalu rawat mata pisaunya dengan mengasah setiap tiga bulan sekali agar tetap tajam saat dibutuhkan.
Source: www.idntimes.com






