Polytron menunjukkan keseriusannya di pasar motor listrik nasional lewat fasilitas produksi Fox 350 di Kudus dan Demak, Jawa Tengah. Pabrik ini tidak hanya mengandalkan tenaga manusia, tetapi juga memakai robot otomatis untuk mengejar presisi dan konsistensi hasil produksi.
Yang paling mencuri perhatian adalah kapasitas produksinya. Dalam satu shift kerja selama tujuh jam, fasilitas ini disebut mampu menghasilkan hingga 140 unit motor listrik, atau sekitar 20 unit per jam.
Gambaran proses produksi itu terlihat dalam tayangan kanal YouTube AutonetMagz yang mendapat kesempatan meninjau langsung fasilitas Polytron. Dari sana terlihat bahwa pembuatan Fox 350 berlangsung bertahap, mulai dari komponen, pengecatan bodi, produksi baterai, perakitan, hingga inspeksi akhir sebelum unit dipasarkan.
Skala dan pendekatan produksinya memberi sinyal penting bagi pasar. Polytron tampak ingin menegaskan bahwa mereka tidak sekadar menjual motor listrik, tetapi juga membangun fondasi manufaktur yang lebih modern untuk bersaing dengan merek besar lain.
Robot masuk di tahap penting produksi
Pemakaian teknologi robotik terlihat sejak tahap perakitan komponen seperti speedometer dan sektor pencahayaan. Meski masih ada proses yang dikerjakan operator, robot digunakan pada pekerjaan yang menuntut tingkat presisi tinggi.
Salah satu contohnya adalah proses sealing komponen. Robot menangani tahap ini agar hasil penyegelan lebih rapat, lebih presisi, dan kualitas antarkomponen tetap konsisten dengan risiko kesalahan produksi yang lebih kecil.
Penerapan otomasi juga terlihat jelas di area pengecatan body panel Fox 350. Area ini disebut baru beroperasi sekitar tiga hingga enam bulan terakhir, menandakan pengembangan fasilitas yang masih terus berjalan.
Sebelum dicat, seluruh body motor digantung pada conveyor khusus. Setelah itu, panel bodi masuk ke ruang pengecatan otomatis dan robot melakukan pengecatan secara presisi agar hasil cat merata dan kualitas permukaannya tetap terjaga.
Usai proses tersebut, body panel tidak langsung dipasang ke motor. Komponen yang sudah dicat terlebih dahulu masuk ke ruang pengeringan sebelum diteruskan ke tahapan produksi berikutnya.
Baterai LFP jadi sorotan
Bagian lain yang menonjol adalah area produksi baterai. Di lokasi ini diperlihatkan bagaimana sel baterai disusun, lalu disolder dengan laser otomatis sebelum dipasangi casing dan kabel kelistrikan.
Polytron memakai baterai LFP untuk Fox 350. Jenis baterai ini ikut ditampilkan dalam demonstrasi uji ketahanan yang menyoroti aspek keselamatan sebagai salah satu perhatian utama dalam produksi motor listrik.
Dalam demonstrasi tersebut, baterai LFP Polytron disebut lebih aman dibanding baterai lain yang tidak memenuhi standar. Saat mendapat benturan keras, baterai LFP yang ditunjukkan tidak langsung terbakar, berbeda dengan baterai NMC yang dalam demonstrasi terlihat sangat sensitif terhadap benturan dan langsung memicu api.
Selain demonstrasi fisik, Polytron juga melakukan serangkaian pengujian laboratorium. Pengujian itu mencakup vibrasi, drop test, uji tegangan, hingga uji suhu ekstrem untuk memastikan baterai aman digunakan konsumen.
Fokus pada baterai menjadi penting karena komponen ini adalah jantung kendaraan listrik. Dengan menampilkan proses produksi dan pengujian secara terbuka, Polytron sekaligus memperlihatkan bahwa aspek keamanan tidak dipisahkan dari target kapasitas produksi.
Perakitan dilakukan bertahap dan berlapis pemeriksaan
Di area perakitan, seluruh komponen dari pabrik sebelumnya tidak langsung dipasang begitu saja. Setiap bagian diperiksa ulang sebelum masuk ke unit motor.
Proses perakitan dimulai dari pemasangan sasis dan arm belakang. Setelah itu, teknisi melanjutkan ke pemasangan kotak baterai dan drive hub motor sebagai bagian utama sistem penggerak.
Tahap berikutnya mencakup pemasangan stang, perangkat elektronik, kabel wiring, hingga body motor. Setelah seluruh body terpasang, unit masuk ke pemasangan speedometer dan pengecekan awal untuk memastikan motor bisa dinyalakan.
Begitu motor dapat hidup, proses berlanjut ke inspeksi yang lebih ketat. Pada tahap ini, teknisi memeriksa detail unit sekaligus memasang logo dan stiker finishing seperti tulisan Fox 350 dan emblem Polytron.
Pemeriksaan tidak berhenti di sana. Unit yang lolos inspeksi awal masih harus melewati dyno test untuk memastikan performa kendaraan sesuai standar yang ditetapkan.
Polytron kini memiliki dua dyno untuk menunjang produksi dua lini motor listrik mereka. Setelah pengujian performa selesai, unit masuk ke appearance inspection atau inspeksi tampilan akhir agar kendaraan benar-benar siap dipasarkan.
Kapasitas produksi menunjukkan kesiapan ekspansi
Kapasitas hingga 140 unit dalam satu shift menjadi penanda bahwa fasilitas ini tidak dibangun untuk skala kecil. Angka itu juga menunjukkan kesiapan Polytron dalam merespons permintaan pasar motor listrik yang terus tumbuh.
Polytron menyebut fasilitas produksinya kini jauh lebih berkembang dibanding tahun sebelumnya. Jika sebelumnya hanya memproduksi satu lini kendaraan, sekarang mereka sudah mampu memproduksi dua lineup motor listrik sekaligus.
Kombinasi antara robotik, proses pengecekan berlapis, produksi baterai internal, dan kapasitas output yang lebih besar memperlihatkan arah strategi perusahaan. Fox 350 bukan hanya produk, tetapi juga etalase kemampuan manufaktur Polytron di industri motor listrik Indonesia.
