Menjadi orang tua sering terasa seperti ujian yang tidak pernah selesai, padahal tidak ada sekolah formal yang benar-benar mengajarkan cara menjalaninya. Di sisi lain, beban itu nyata: survei American Psychological Association tahun 2023 terhadap 3.815 orang dewasa menunjukkan hampir separuh orang tua, 48 persen, merasa stres hampir setiap hari.
Psikolog, ibu, dan penulis buku parenting Dr. Juli Fraga menilai banyak orang tua kewalahan saat mengurus anak yang masih kecil. Ketika emosi dipendam atau diri sendiri terus disalahkan, stres justru bisa makin berat.
Fraga mengatakan stres bukan tanda bahwa orang tua harus bertahan sendirian dan selalu tampil sempurna. Stres justru sinyal tubuh untuk berhenti sejenak, lalu mencari cara yang lebih sehat untuk menghadapi masalah.
1. Hadapi masalah dengan tenang
Stres dapat memengaruhi kondisi fisik, psikologis, dan sosial. Tubuh bisa terasa tegang, detak jantung meningkat, sementara pikiran dipenuhi kekhawatiran dan kecemasan.
Karena itu, Fraga menyarankan orang tua berhenti sejenak dan bermeditasi. Menarik napas dalam-dalam dapat mengubah situasi yang menekan menjadi momen yang lebih terkendali.
2. Ganti perbandingan dengan belas kasih
Banyak orang tua terjebak membandingkan diri dengan orang lain, dan kebiasaan ini justru dapat menaikkan stres. Pola seperti itu membuat orang tua merasa kurang dan sulit melihat situasi secara lebih jernih.
Fraga menyarankan welas asih pada diri sendiri sebagai gantinya. Kalimat sederhana seperti mengakui bahwa semua orang tua pernah mengalami momen penuh tekanan bisa membantu perspektif berubah dan beban terasa lebih ringan.
3. Jangan ragu meminta bantuan
Meminta bantuan saat kewalahan bukan tanda kelemahan. Sikap itu juga mengajarkan pada anak bahwa bergantung pada orang lain tidak apa-apa dan dapat melindungi kesehatan mental.
Fraga menyebut, saat orang tua meminta bantuan, orang terdekat punya kesempatan menunjukkan kepedulian. Dampaknya, orang tua bisa merasa tidak terlalu kesepian saat menghadapi tekanan.
Penelitian juga menunjukkan kebahagiaan orang tua memengaruhi cara stres berdampak pada anak. Stres memang bisa menular, tetapi dukungan yang tepat membantu orang tua tidak mewariskan masalah atau trauma emosional kepada anak.
4. Ekspresikan empati saat berhadapan dengan anak
Empati disebut sebagai obat penenang emosi karena membantu orang tua merespons dengan lebih baik saat stres muncul. Ini menjadi penting terutama ketika tekanan terjadi di tengah relasi dengan anak.
Alih-alih langsung memarahi, orang tua yang bijak cenderung mendengarkan kebutuhan anak. Mereka juga bertanya dengan rasa ingin tahu, misalnya apa yang membuat anak sedih atau bagaimana bisa membantu.
Cara ini mendorong respons yang lebih tulus dan membuka ruang untuk berbagi emosi. Menurut penelitian, orang tua yang berempati cenderung lebih percaya diri, menemukan tujuan hidup yang lebih besar, dan merasa peran pengasuhan tidak terlalu melelahkan, bahkan di hari yang sulit.
5. Cari dan nikmati emosi positif
Stres bisa merampas kebahagiaan dan membuat otak seolah mencari masalah baru. Karena itu, orang tua perlu sengaja mencari momen positif agar tekanan tidak terus mendominasi.
Hal sederhana seperti meminta pelukan dari pasangan, meminta senyuman anak, atau mengingat pujian dari orang lain dapat membantu. Momen itu layak dinikmati karena bisa meringankan stres dan memberi jeda pada pikiran yang lelah.
Pada akhirnya, pengasuhan yang lebih sehat bukan soal menjadi sempurna, melainkan soal mengenali tekanan dan meresponsnya dengan lebih sadar. Dengan berhenti sejenak, lebih penuh belas kasih, mau meminta bantuan, berempati pada anak, dan memberi ruang pada emosi positif, beban mengasuh bisa terasa lebih ringan.
Source: www.beautynesia.id






