
Banyak orang masih meremehkan jarak antara minum obat dan kopi, padahal keduanya bisa saling memengaruhi di dalam tubuh. Karena kopi rutin diminum saat pagi dan obat sering harus dikonsumsi tepat waktu, jeda yang aman menjadi hal penting untuk dipahami.
Kopi tidak hanya soal rasa dan kebiasaan harian, tetapi juga soal kafein yang bekerja cepat setelah masuk ke tubuh. Pada sebagian obat, interaksi itu dapat muncul hanya dalam waktu singkat jika kopi dan obat diminum berdekatan.
Jeda waktu yang disarankan
Secara umum, jeda minum kopi dan obat disarankan setidaknya 1-2 jam. Namun, 2-3 jam lebih disarankan tergantung jenis obat yang dikonsumsi.
Jeda ini membantu obat diserap tubuh secara maksimal tanpa gangguan dari senyawa dalam kopi. Jennifer Bourgeois, Pharm.D., menjelaskan bahwa kopi dapat mengubah cara obat tertentu diserap, dimetabolisme, atau dieliminasi oleh tubuh.
Kafein sendiri diserap dengan cepat dan hampir sepenuhnya di saluran pencernaan. Emmanuel Osei-Boamah, M.D., menyebut konsentrasi tertinggi kafein dalam darah terjadi dalam 15 menit hingga 2 jam setelah dikonsumsi.
Itu sebabnya kopi dan obat dapat berinteraksi cepat bila diminum berdekatan. Risiko itu makin penting diperhatikan pada orang yang sedang sakit dan tetap ingin mempertahankan kebiasaan minum kopi.
Obat yang perlu diwaspadai
Salah satu kelompok yang perlu perhatian adalah obat antidepresan. Obat seperti amitriptyline, Luvox atau fluvoxamine, Prozac atau fluoxetine, Lexapro atau escitalopram, imipramine, dan Paxil atau paroxetine disebut dapat dipengaruhi kafein.
Pada Luvox, risiko ini bahkan bisa terasa lebih jelas. Dr. Kelly Johnson-Arbor, M.D., menjelaskan bahwa Luvox menghambat metabolisme kafein sehingga kadar kafein dalam tubuh meningkat dan efek samping seperti jantung berdebar serta kecemasan bisa lebih lama muncul.
Kelompok lain adalah antipsikotik, terutama clozapine dan olanzapine. Kafein dapat mengganggu kemampuan tubuh memecah clozapine, sehingga kadar obat dalam darah bisa meningkat signifikan.
Obat flu dan alergi tertentu juga tidak aman dikonsumsi bersamaan dengan kopi. Produk yang mengandung pseudoephedrine seperti Sudafed dan fexofenadine seperti Allegra termasuk yang perlu dihindari karena sama-sama bersifat stimulan pada sistem saraf.
Efek samping yang bisa bertambah
Kopi juga dapat memperburuk efek samping pada obat bronkodilator. Obat asma ini dipakai untuk merelaksasikan saluran pernapasan, tetapi efek sampingnya bisa berupa gelisah, jantung berdebar, sakit kepala, dan mudah tersinggung.
Saat dikombinasikan dengan kafein, keluhan itu bisa terasa lebih kuat. Kafein juga dapat mengurangi jumlah obat yang diserap oleh saluran pernapasan.
Situasi ini membuat kebiasaan minum kopi perlu disesuaikan dengan jenis obat yang sedang dikonsumsi. Jeda waktu bukan sekadar anjuran umum, tetapi langkah untuk menjaga agar kerja obat tidak terganggu.
Praktik aman yang perlu diperhatikan
Tidak semua obat akan bereaksi sama dengan kopi, tetapi daftar obat di atas menunjukkan bahwa interaksi memang bisa terjadi. Karena itu, aturan jeda waktu menjadi penting terutama saat menggunakan obat yang sensitif terhadap kafein.
Bila ada keraguan, perhatian utama tetap pada cara konsumsi yang tidak berdekatan. Dengan jeda yang tepat, obat punya peluang lebih baik untuk bekerja sebagaimana mestinya tanpa dipengaruhi efek stimulan kopi.
Source: www.beautynesia.id








