Iduladha selalu identik dengan kurban dan ibadah haji, tetapi cara masyarakat merayakannya ternyata sangat beragam di berbagai negara. Di sejumlah tempat, perayaannya tidak hanya berpusat pada ibadah, melainkan juga pada tradisi lokal yang sudah menyatu dengan budaya setempat.
Keunikan itu membuat Iduladha terasa berbeda dari satu negara ke negara lain. Dari hiasan tubuh dengan henna hingga arak-arakan hasil bumi, tiap tradisi memperlihatkan bagaimana nilai religius dan kebiasaan masyarakat berjalan berdampingan.
Hiasan henna di Uni Emirat Arab dan Asia Selatan
Di banyak wilayah Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, serta di negara-negara Asia Selatan, perempuan kerap menghias tangan dan kaki dengan henna menjelang Iduladha. Tradisi ini menjadi bagian dari pelestarian budaya lokal sekaligus menambah nuansa perayaan.
Biasanya para perempuan berkumpul untuk saling menghias dengan motif rumit, mulai dari bentuk floral hingga simbol tradisional. Sebagian juga memilih memakai jasa henna artist profesional untuk menghasilkan pola yang lebih detail.
Dupa di Tiongkok dan penghormatan pada leluhur
Di Tiongkok, komunitas Muslim memperingati Iduladha dengan memadukan perayaan agama dan budaya masyarakat setempat. Salah satu kebiasaan yang dikenal adalah membakar dupa.
Asap dupa dipercaya membawa doa yang dipanjatkan ke surga. Tradisi ini juga berkaitan dengan cara masyarakat Timur menghargai leluhur mereka.
Rumah bersih dan dekorasi indah di Maroko
Di Maroko, Iduladha tidak hanya diisi dengan kurban, tetapi juga persiapan rumah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Warga biasanya membersihkan rumah lalu mendekorasinya dengan indah sebelum hari raya tiba.
Kebiasaan itu dimaknai sebagai awal yang baru dan kesiapan menyambut keberkahan hari raya di rumah. Suasana perayaan pun terasa lebih hangat karena keluarga menyambut momen ini bersama di ruang yang tertata rapi.
Festival, kuda hias, dan Ileya di Nigeria
Di Nigeria, Iduladha dikenal juga sebagai Ileya. Perayaannya berlangsung meriah seperti festival, dengan keluarga berkumpul dan menikmati hidangan tradisional Nigeria.
Ada pula tradisi unik yang pernah dilakukan penjaga Emir di Kano untuk menandai selesainya salat Id sebelum ada jam. Mereka melepaskan tembakan dari senapan lontar, lalu perayaan dilanjutkan dengan parade kuda hias.
Uang di balik kursi di Filipina
Filipina juga memiliki cara khas dalam merayakan Iduladha. Selain menjadi waktu berkumpul dan makan bersama keluarga, tuan rumah di sejumlah rumah menaruh uang di balik penutup kursi di sekitar meja makan.
Uang itu diperuntukkan bagi orang yang duduk di kursi tersebut. Tradisi ini menambah unsur kebersamaan dalam perayaan yang berfokus pada makan bersama keluarga.
Belanja bahan masak dan berbagi di Singapura
Di Singapura, Iduladha disambut dengan antusias oleh umat Islam. Mereka biasanya memborong bahan makanan dan bumbu untuk memasak daging kurban.
Setelah dimasak, keluarga-keluarga akan makan bersama dan memanfaatkan momen itu untuk berbagi kepada orang-orang di sekitar. Pola perayaannya menunjukkan bahwa kebersamaan tetap menjadi inti dari tradisi yang dijalankan.
Sekaten dan arak-arakan hasil bumi di Indonesia
Di Indonesia, keberagaman suku dan budaya membuat Iduladha memiliki warna lokal yang kuat di berbagai daerah. Di Surakarta, tradisi Gamelan Sekaten dikenal sebagai simbol keagungan Islam.
Di beberapa tempat seperti Semarang hingga Yogyakarta, Iduladha juga dirayakan dengan arak-arakan hasil bumi. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus sarana berbagi di tengah masyarakat.
Ragam tradisi itu menunjukkan bahwa Iduladha bisa dirayakan dengan cara yang sangat berbeda, tergantung budaya masing-masing negara. Namun, benang merahnya tetap sama, yakni berbagi, berkumpul, dan merawat kebersamaan.
Source: www.beautynesia.id