5 Tradisi Waisak yang Sering Dilakukan, Dari Lampion Hingga Baju Putih

Hari Raya Waisak selalu identik dengan ibadah yang khidmat dan simbol-simbol yang sarat makna. Di banyak wihara dan rumah umat Buddha, ada tradisi yang terus dijalankan sebagai bentuk penghormatan, pengendalian diri, dan doa bersama.

Tradisi itu bukan sekadar rangkaian acara seremonial. Setiap kebiasaan yang dilakukan saat Waisak membawa pesan spiritual yang terkait dengan kesucian, kebijaksanaan, dan perdamaian.

Menerapkan lima sila Buddha

Salah satu tradisi yang paling mendasar adalah menjalankan lima sila Buddha. Ajaran ini tidak hanya dipraktikkan saat Waisak, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Lima sila tersebut bersumber dari kitab Tripitaka dan menjadi komitmen yang harus dipatuhi umat. Isinya mencakup larangan membunuh, mencuri, melakukan pelecehan seksual, berbohong, dan mengonsumsi minuman keras.

Menyalakan lilin dan melepas lampion

Waisak juga sangat lekat dengan cahaya. Karena itu, umat Buddha menyalakan lilin sebagai bagian dari perayaan, dengan bentuk lilin yang sering menyerupai bunga lotus.

Lilin dipahami sebagai simbol untuk mengusir kegelapan dunia. Bunga lotus dipilih karena mampu hidup di air keruh dan dimaknai sebagai lambang yang memperindah dunia.

Dalam sejumlah perayaan, pelepasan lampion juga menjadi bagian yang menonjol. Ritual ini kerap dilakukan di candi dan hadir sebagai tradisi khas Hari Waisak.

Memandikan patung Buddha di wihara

Menjelang Waisak, umat Buddha juga menjalankan ritual memandikan patung Siddharta atau Sang Buddha. Prosesi ini dilakukan di wihara dan biasanya diiringi doa dari biksu.

Maknanya adalah menyucikan hati dan pikiran. Karena itu, ritual ini tidak dipahami sebatas membersihkan patung, melainkan juga sebagai latihan batin bagi umat yang ikut berpartisipasi.

Memakai baju putih

Soal pakaian, tidak ada aturan yang benar-benar khusus saat ibadah Waisak. Yang penting adalah busana yang sopan dan tidak mencolok.

Namun, banyak pemuka agama Buddha menyarankan umat memakai baju putih. Warna putih dimaknai sebagai kemurnian dan kesucian, sehingga selaras dengan semangat menyambut Waisak dengan hati yang bersih.

Mengibarkan bendera khas Buddha

Tradisi lain yang juga dijalankan sebagian umat adalah mengibarkan bendera khas Buddha di depan rumah. Kebiasaan ini memang tidak seumum tradisi lain, tetapi tetap hadir dalam perayaan Waisak.

Bendera tersebut memiliki lima warna dengan makna yang berbeda. Biru melambangkan pengabdian, kuning emas berarti kebijaksanaan, merah tua berarti cinta kasih, putih berarti kesucian, dan jingga melambangkan semangat.

Kelima warna itu juga disebut Prabhasvara, yang berarti bersinar. Selain itu, bendera khas Buddha dipahami sebagai simbol perdamaian antarumat beragama.

Di Indonesia, pusat perayaan Waisak nasional kerap dipusatkan di Candi Borobudur. Tempat ini dipilih karena merupakan candi Buddha terbesar di dunia dan memiliki nilai spiritualitas yang tinggi bagi umat Buddha.

Selain lima tradisi itu, perayaan Waisak juga dikenal dengan kebersamaan umat dalam puja bakti dan meditasi. Di berbagai tempat, Waisak menjadi momen untuk memperkuat persaudaraan dan menegaskan kembali nilai kebajikan yang dijaga sepanjang waktu.

Source: www.idntimes.com
Terkait