Profil dan Kekayaan Sudaryono, Anak Petani yang Sebut Jutaan Petani Happy Saat Rupiah Melemah

Pernyataan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono soal rupiah yang melemah justru membuat “jutaan petani kita happy” langsung menyita perhatian. Ucapan itu muncul karena ia melihat ada kelompok petani komoditas ekspor yang menerima pembayaran dalam mata uang asing, sehingga nilai tukar memberi dampak berbeda dibanding sektor lain.

Sudaryono menyoroti petani kopi, cengkeh, karet, hingga serabut kelapa sebagai pihak yang bisa mendapat keuntungan saat dolar AS menguat terhadap rupiah. Pandangan ini kemudian memicu rasa ingin tahu publik terhadap profil, latar belakang, hingga kekayaannya sebagai pejabat yang kini berada di lingkaran strategis sektor pertanian.

Di acara KNPED di Jakarta, Sudaryono menyebut pelemahan rupiah tidak selalu menjadi kabar buruk bagi semua pihak. Menurut dia, ada jutaan petani lokal yang berorientasi ekspor justru diuntungkan oleh kondisi tersebut.

Sorotan publik terhadap pernyataan itu makin besar karena Sudaryono bukan hanya menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian. Ia juga dipercaya sebagai Komisaris PT Pupuk Indonesia (Persero), posisi yang menempatkannya dekat dengan kebijakan dan ekosistem penting di sektor pangan serta pupuk nasional.

Latar belakang anak petani

Sudaryono berasal dari Dusun Mangunrejo, Desa Tambirejo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ia tumbuh sebagai anak petani dari pasangan Yahyo dan Suwarni, dengan latar keluarga yang jauh dari kesan elite.

Sebagai anak semata wayang, ia disebut dibesarkan dalam disiplin yang tinggi sejak kecil. Lingkungan itu membentuknya menjadi siswa berprestasi yang langganan masuk peringkat delapan besar di sekolah.

Jejak akademiknya kemudian menonjol. Ia menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara melalui jalur beasiswa, sebelum melanjutkan studi ke Jepang di National Defense Academy of Japan pada bidang Mechanical System Engineering.

Pendidikan formalnya tidak berhenti di sana. Ia juga meraih gelar Master of Business Administration di Swiss German University pada 2017, lalu melanjutkan hingga meraih gelar doktor di Institut Pertanian Bogor.

Tanggal lahir Sudaryono tercatat 23 Januari 1985. Kombinasi latar keluarga petani dan pendidikan tinggi itu ikut membentuk citra dirinya sebagai figur yang memahami pertanian dari akar rumput sekaligus dari sisi kebijakan dan manajemen.

Karier di korporasi dan pemerintahan

Sebelum aktif di dunia politik bersama Partai Gerindra, Sudaryono lebih dulu dikenal sebagai profesional di sektor korporasi. Ia memegang sejumlah posisi penting di beberapa perusahaan strategis.

Ia tercatat pernah menjadi Chairman PT Boga Halal Nusantara pada periode 2015-2024. Selain itu, ia juga pernah menjabat Direktur PT Nusantara Telematics System pada 2019.

Di sektor media, ia sempat menjadi CEO Garuda TV pada periode 2022-2024. Rekam jejak ini memperlihatkan bahwa kariernya tidak hanya bertumpu pada jalur politik, tetapi juga pada pengalaman manajerial di dunia usaha.

Setelah masuk pemerintahan sebagai Wakil Menteri Pertanian, tanggung jawabnya bertambah. Sejak 16 Juni 2025, ia juga dipercaya mengemban jabatan Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) oleh Menteri BUMN.

Kekayaan bersih Rp8,86 miliar, harta kotor Rp69,3 miliar

Data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara menunjukkan total harta Sudaryono mencapai Rp69.331.192.525. Namun angka itu belum menggambarkan posisi akhirnya karena ia juga memiliki utang dalam jumlah besar.

Nilai utangnya tercatat Rp60.470.000.000. Setelah dikurangi kewajiban tersebut, total kekayaan bersih Sudaryono berada di angka Rp8.861.192.525.

Porsi terbesar hartanya berasal dari tanah dan bangunan. Nilainya mencapai Rp50,2 miliar, tersebar di sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan Jabodetabek.

Beberapa aset bernilai besar yang tercatat antara lain tanah dan bangunan seluas 2.000 meter persegi dan 200 meter persegi di Kota Semarang senilai Rp16 miliar. Ada juga tanah dan bangunan seluas 2.050 meter persegi dan 1.800 meter persegi di Klaten senilai Rp14 miliar.

Aset lain yang menonjol ialah tanah dan bangunan seluas 237 meter persegi dan 200 meter persegi di Kota Semarang senilai Rp9 miliar. Selain itu, ia juga memiliki tanah seluas 19.440 meter persegi di Jepara senilai Rp1,944 miliar.

Isi garasi dan aset keuangan

Untuk alat transportasi, total nilai kendaraan Sudaryono tercatat Rp750 juta. Koleksinya terdiri dari tiga mobil, yakni Toyota Fortuner tahun 2014 senilai Rp250 juta, Toyota Innova tahun 2018 senilai Rp150 juta, dan Toyota Fortuner tahun 2022 senilai Rp350 juta.

Selain properti dan kendaraan, ia juga memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp2.325.000.000. Nilai surat berharganya mencapai Rp7.558.000.000.

Kas dan setara kas yang dilaporkan berjumlah Rp8.404.192.525. Komposisi harta itu menunjukkan bahwa profil finansial Sudaryono tidak hanya ditopang aset fisik, tetapi juga instrumen keuangan dan likuiditas yang besar.

Di tengah perhatian pada data kekayaannya, pernyataan Sudaryono soal pelemahan rupiah tetap menjadi titik paling menonjol. Ucapan itu memperlihatkan cara pandangnya terhadap pertanian ekspor, sekaligus menegaskan bahwa dampak nilai tukar tidak dirasakan sama oleh seluruh pelaku ekonomi, termasuk para petani di Indonesia.

Source: www.suara.com
Exit mobile version