Orang Tua Sering Lewatkan Tanda Ini, WDHD 2026 Ungkap Kunci Pencernaan Anak Sehat

Peringatan World Digestive Health Day (WDHD) 2026 menyoroti satu hal yang sering luput dari perhatian banyak keluarga: kesehatan saluran cerna anak bukan urusan kecil. Danone Specialized Nutrition Indonesia memanfaatkan momentum yang jatuh setiap 29 Mei ini untuk mengajak orang tua lebih peka membaca tanda-tanda pencernaan anak sejak dini.

Tema global tahun ini, “Chronic Diarrhea: Don’t Flush the Signs Away,” menegaskan bahwa gangguan yang tampak ringan tidak selalu bisa diabaikan. Pesan utamanya jelas, yaitu pencegahan, deteksi dini, dan penanganan sejak awal penting untuk mencegah dampak jangka panjang pada anak.

Saluran cerna anak memengaruhi banyak hal

Dokter Spesialis Anak Konsultan Subspesialis Gastrohepatologi Anak, Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), FISQua, menjelaskan bahwa saluran cerna anak adalah sistem yang kompleks dan terus berkembang. Keseimbangan mikrobiota usus berperan besar dalam penyerapan nutrisi dan kenyamanan anak sehari-hari.

Ketika keseimbangan itu terganggu sejak dini, risikonya tidak berhenti pada masalah perut. Kondisi tersebut dapat memicu gangguan pencernaan berulang dan ikut memengaruhi tumbuh kembang anak.

Dampaknya juga sering terlihat dalam keseharian. Anak bisa menjadi kurang nafsu makan, lebih rewel, atau merasa tidak nyaman sehingga aktivitasnya terganggu.

Karena itu, kesehatan saluran cerna tidak hanya dipandang sebagai isu medis. Kondisi ini juga berkaitan erat dengan kualitas hidup anak dan keluarga secara keseluruhan.

Triple Signs untuk membantu orang tua mengenali tanda

Untuk memudahkan orang tua memantau kondisi pencernaan anak, dikenalkan konsep Triple Signs sebagai indikator sederhana. Tiga tanda itu mencakup Golden Poop, frekuensi buang air besar yang teratur sesuai usia, dan rendahnya risiko gangguan saluran cerna.

Golden Poop merujuk pada warna dan konsistensi feses yang normal. Tandanya adalah warna kuning keemasan dengan tekstur yang tidak terlalu cair dan tidak terlalu keras.

Jika ketiga tanda itu tidak terpenuhi secara konsisten, orang tua dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Langkah ini penting agar penanganan bisa dilakukan lebih tepat dan potensi dampak lanjutan bisa dicegah.

Pencegahan sejak dini jadi kunci

Dr. Ariani menegaskan bahwa upaya menjaga kesehatan saluran cerna sejak dini penting agar anak tetap nyaman dan aktif. Saluran cerna yang sehat membantu anak mencapai tumbuh kembang yang optimal.

Dari sisi keluarga, perhatian terhadap pencernaan anak sering muncul karena perubahan kecil yang tampak di rumah. Anak yang kurang makan, mudah tidak nyaman, atau pertumbuhannya belum optimal kerap membuat orang tua cemas.

Danone SN Indonesia menyebut terus menghadirkan inisiatif berbasis sains untuk mendukung kesehatan pencernaan anak Indonesia. Bentuknya mencakup edukasi, publikasi ilmiah, inovasi produk, dan dukungan digital.

Dalam penjelasannya, Dr. Ray Wagiu Basrowi, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, mengatakan kekhawatiran orang tua terhadap anak yang kurang nafsu makan, kurang nyaman, atau pertumbuhannya belum optimal sering kali berakar dari masalah pencernaan yang tidak disadari. Ia juga menyebut adanya edukasi berbasis sains, inovasi digital seperti AI Poop Tracker, serta produk nutrisi dengan kandungan prebiotik pada rangkaian Bebelac.

Melalui rangkaian kegiatan WDHD 2026, Danone SN Indonesia berharap lebih banyak orang tua bisa memahami “bahasa” saluran cerna anak. Target akhirnya adalah mendorong langkah yang tepat, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan saat diperlukan, agar kesehatan pencernaan anak menjadi fondasi kuat bagi tumbuh kembang mereka di masa depan.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait

Back to top button