Media sosial sering menampilkan potongan hidup yang tampak serba baik-baik saja. Namun, cara seseorang membagikan konten justru kadang memberi sinyal bahwa ia sedang menutupi rasa tidak nyaman, kesepian, atau masalah yang tidak ingin terlihat oleh orang lain.
Pola seperti ini tidak selalu berarti orang tersebut benar-benar tidak bahagia. Tetapi, beberapa kebiasaan posting tertentu bisa menjadi petunjuk bahwa ada upaya keras untuk meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa semuanya baik-baik saja.
Oversharing yang berlebihan
Salah satu tanda yang paling mudah dilihat adalah kebiasaan membagikan terlalu banyak detail pribadi. Orang dengan pola ini sering mengunggah cerita tentang betapa bahagianya hidup mereka, kedekatan dengan keluarga, atau berbagai hal hebat yang terjadi dalam hidupnya.
Masalahnya, unggahan semacam itu tidak selalu mencerminkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dalam penelitian yang diterbitkan di Computers in Human Behavior Reports, para peneliti menemukan bahwa orang yang melakukan oversharing di media sosial sering berusaha terlihat bahagia dengan membagikan terlalu banyak informasi pribadi.
Kebiasaan ini bisa muncul sebagai bentuk penyangkalan terhadap situasi yang tidak menyenangkan. Di luar tampilan yang ramai dan positif, ada kemungkinan orang tersebut sedang berjuang menghadapi sesuatu yang ingin ia tutupi.
Kutipan positif yang muncul terus-menerus
Tanda lain terlihat dari unggahan quotes atau kutipan positif yang terlalu sering. Banyak orang memang membagikan kalimat motivasi, tetapi jika pola ini muncul terus-menerus, hal itu bisa menjadi sinyal bahwa seseorang sedang berusaha menutupi kondisi emosional yang tidak nyaman.
Postingan seperti ini juga kerap dikaitkan dengan toxic positivity. Menurut Kendra Cherry, MSEd, toxic positivity adalah gagasan bahwa seseorang harus selalu bersikap positif apa pun yang terjadi dalam hidupnya.
Cherry menjelaskan bahwa perilaku semacam itu dapat menjadi cara untuk menghindari situasi emosional yang membuat seseorang merasa tidak nyaman. Karena itu, deretan unggahan penuh semangat tidak selalu berarti isi hati pengunggahnya juga sedang baik.
Foto-foto nostalgia yang muncul berulang
Petunjuk berikutnya bisa terlihat dari kebiasaan mengunggah foto lama atau foto bernuansa nostalgia. Orang yang sedang berusaha tampak bahagia sering kembali ke momen-momen masa lalu yang terasa lebih hangat dan lebih nyaman baginya.
Unggahan seperti ini bisa dipakai untuk membangkitkan kembali perasaan bahagia yang pernah dirasakan. Di saat yang sama, foto-foto lama juga dapat menjadi cara untuk mengingatkan diri sendiri bahwa pernah ada masa ketika keadaan terasa lebih baik.
Ada alasan emosional yang lebih dalam di balik kebiasaan itu. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Psychological Science menemukan bahwa nostalgia dapat meningkatkan jumlah dukungan sosial yang dirasakan seseorang.
Artinya, melihat kembali kenangan lama bisa membuat seseorang merasa tidak terlalu kesepian. Dalam konteks media sosial, foto-foto nostalgia sering menjadi jalan aman untuk menampilkan sisi yang hangat tanpa harus membuka keadaan yang sebenarnya.
Mengapa pola ini penting diperhatikan
Media sosial memang sudah menjadi kebutuhan bagi banyak orang untuk mencari informasi, menunjukkan pencapaian, dan berbagi pengalaman. Namun, ruang digital juga sering dipakai sebagai tempat pelarian ketika seseorang ingin menjauh dari hal-hal yang tidak menyenangkan.
Karena itu, satu unggahan tidak bisa dipakai untuk langsung menyimpulkan kondisi emosional seseorang. Meski begitu, pola yang berulang seperti oversharing, kutipan positif tanpa henti, dan foto nostalgia yang terus muncul dapat menjadi tanda bahwa ada emosi yang sedang disembunyikan di balik tampilan bahagia.
Source: www.beautynesia.id