Split-Shift Parenting, Cara Bagi Tugas Rumah Tangga yang Bikin Hubungan Lebih Adil

Author: Qoo Media

Pasangan yang sama-sama bekerja kerap menghadapi beban ganda saat harus mengasuh anak sekaligus mengurus rumah. Di situ, pembagian tugas yang tidak seimbang bisa memicu stres, kelelahan, dan konflik yang sebenarnya dapat dikurangi.

Salah satu pola yang mulai banyak dipakai adalah split-shift parenting. Konsep ini membagi pengasuhan dan pekerjaan rumah berdasarkan waktu, kemampuan, dan kesepakatan bersama agar beban tidak menumpuk pada satu pihak.

Membagi kerja secara bergantian

Split-shift parenting berarti pasangan bergantian memegang peran pada waktu yang berbeda. Satu orang bisa fokus pada anak di pagi hari, lalu pasangannya mengambil alih pada sore atau malam.

Pola yang sama juga dapat diterapkan pada pekerjaan rumah tangga. Dengan cara ini, pembagian tidak hanya dihitung dari jumlah tugas, tetapi juga dari jam dan tanggung jawab yang dijalankan masing-masing pihak.

Penelitian yang dimuat di European Sociological Review berjudul “Couples’ Division of Employment and Household Chores and Relationship Satisfaction: A Test of the Specialization and Equity Hypotheses” menunjukkan bahwa kesetaraan jam kerja dalam pembagian pekerjaan rumah tangga berdampak positif pada kepuasan hubungan. Ketika kontribusi dianggap setara dan dihargai, kualitas hubungan cenderung membaik.

Daniel Carlson, profesor madya di Universitas Utah, mengatakan kepada Time bahwa jumlah tugas yang dibagi merata sangat penting bagi kualitas hubungan pria dan perempuan. Ia juga menambahkan bahwa semakin banyak tugas yang dikerjakan bersama, semakin besar rasa keadilan dan kepuasan terhadap pengaturan rumah tangga.

Jangan abaikan beban mental

Masalah pembagian kerja tidak berhenti pada tugas fisik seperti mencuci piring atau menyapu lantai. Ada beban lain yang sering tidak terlihat, yaitu mental load, yang mencakup merencanakan, mengingat, mengatur jadwal, dan mengantisipasi kebutuhan keluarga.

Michelle Felder, LCSW, MA, yang meninjau artikel Parents, menjelaskan bahwa mental load adalah pekerjaan yang sering tidak disadari saat orangtua memikul sebagian besar pekerjaan rumah tangga. Situasi itu dapat memunculkan rasa tidak senang dan membuat distribusi tugas terasa tidak merata.

Karena itu, pasangan perlu membicarakan beban mental dan emosional yang masing-masing tanggung. Daftar tugas sebaiknya disusun bersama, lalu dibahas sesuai kekuatan dan kemampuan masing-masing.

Buat jadwal yang realistis

Tidak semua keluarga punya ritme kerja yang sama. Ada pasangan yang lebih cocok membagi tugas berdasarkan jam kerja, sementara yang lain memilih pembagian berdasarkan hari tertentu.

Kuncinya ada pada komunikasi dan negosiasi yang aktif. Pasangan perlu mencari sistem yang cocok dengan kebutuhan rumah tangga mereka, bukan memaksakan pola yang terasa berat bagi salah satu pihak.

Daniel Carlson menekankan bahwa hubungan berkualitas dibangun lewat komunikasi yang baik, rasa kebersamaan, dan pengambilan keputusan bersama. Fleksibilitas juga penting karena memungkinkan pasangan saling menggantikan saat salah satu sedang menghadapi beban kerja atau kondisi tertentu.

Samakan standar rumah tangga

Konflik sering muncul bukan semata karena jumlah tugas, tetapi karena perbedaan standar. Apa yang dianggap cukup bersih oleh satu orang belum tentu sama bagi pasangannya.

Persepsi ketidakadilan juga bisa muncul dari perbedaan definisi soal kapan sebuah tugas harus dikerjakan dan seberapa sering hal itu perlu dilakukan. Kesepakatan tentang standar rumah tangga dapat membantu mengurangi konflik dan membuat pembagian terasa lebih adil.

Periksa ulang sistem secara berkala

Pembagian tugas yang efektif hari ini belum tentu cocok beberapa waktu mendatang. Anak bertambah besar, jadwal kerja berubah, dan kebutuhan keluarga ikut bergeser.

Karena itu, split-shift parenting perlu dievaluasi secara berkala. Evaluasi ini bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk memastikan sistem masih berjalan baik bagi seluruh keluarga.

Carlson menyebut pasangan yang lebih banyak berbagi tugas bersama cenderung melaporkan hubungan yang lebih adil dan memuaskan. Split-shift parenting pada akhirnya bukan soal menghitung siapa paling sibuk, melainkan menjaga kerja sama agar tidak ada satu pihak yang terus-menerus merasa lelah atau terbebani.

Source: www.idntimes.com
Terbaru