3 Cara Jitu Biar Nggak Ketarik FOMO, Dari Kurangi Paparan Sampai Hadir Penuh

FOMO sering terasa sepele, tetapi dampaknya bisa membuat seseorang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Saat lini masa dipenuhi unggahan yang tampak seru, bahagia, dan produktif, rasa cemas untuk tidak ikut tertinggal bisa muncul tanpa disadari.

Perasaan itu dikenal sebagai FOMO, atau fear of missing out. Ini adalah kecemasan ketika seseorang merasa orang lain menjalani pengalaman yang lebih menarik dan menyenangkan dibandingkan dirinya.

Langkah pertama untuk meredamnya adalah mengenali pemicunya dengan jujur. Menurut NPR, pemicu FOMO bisa berbeda pada setiap orang, mulai dari unggahan rumah baru teman hingga postingan parenting orang lain.

Setelah tahu apa yang memicunya, paparan terhadap konten semacam itu perlu dikurangi. Salah satu cara yang dinilai efektif adalah log out dari media sosial untuk sementara agar pikiran punya ruang bernapas.

Pengurangan ini tidak harus dilakukan drastis. Frekuensi membuka media sosial bisa dikurangi secara bertahap supaya perubahan terasa lebih mudah dijalani.

Kenali apa yang membuat cemas

FOMO kerap muncul karena terlalu sering melihat hidup orang lain dari layar ponsel. Ketika seseorang terus terpapar potongan momen yang tampak sempurna, perasaan “kurang” terhadap diri sendiri bisa ikut menguat.

Karena itu, mengenali pola pemicu menjadi penting sebelum emosi makin berkembang. Dengan cara ini, batas yang dibutuhkan untuk menjaga ketenangan mental bisa disusun lebih sadar.

Cara kedua adalah melatih pola pikir kelimpahan atau abundance mindset. Pola pikir ini berangkat dari keyakinan bahwa kebahagiaan dan kesempatan cukup untuk semua orang.

FOMO sering tumbuh ketika seseorang percaya kebahagiaan orang lain otomatis berarti ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Padahal, perspektif seperti itu justru membuat fokus bergeser ke kekurangan, bukan ke hal yang sudah dimiliki.

Salah satu praktik yang bisa membantu adalah menulis jurnal rasa syukur setiap hari. Calm Blog menyebut kebiasaan mencatat hal-hal yang disyukuri dapat menggeser fokus dari apa yang terlewat ke apa yang sudah ada dalam hidup.

Kebiasaan ini bisa dimulai dengan tiga hal kecil setiap malam sebelum tidur. Cara sederhana itu membantu seseorang melihat bahwa masih banyak hal baik yang hadir, bahkan di hari biasa sekalipun.

Latih pikiran untuk hadir di momen sekarang

Cara ketiga berkaitan langsung dengan inti masalah FOMO itu sendiri. Menurut NPR, ironi FOMO adalah seseorang justru melewatkan momen nyata di depan mata karena terlalu sibuk memikirkan hal lain yang mungkin hilang di tempat berbeda.

Untuk mengatasinya, mindfulness dan meditasi bisa menjadi latihan yang relevan. Seseorang tidak perlu menjadi ahli meditasi, cukup duduk diam dua hingga lima menit sehari dan fokus pada napas.

Latihan singkat seperti itu membantu pikiran kembali ke momen saat ini. Di tengah kebiasaan mengecek layar tanpa henti, jeda kecil semacam ini bisa memberi efek yang lebih terasa pada kondisi mental.

Selain itu, interaksi nyata dengan orang terdekat juga penting diperbanyak. Alih-alih terus scrolling feed Instagram, obrolan langsung, makan bersama, atau jalan santai bisa membuat seseorang lebih hadir dalam hidupnya sendiri.

Koneksi yang terjadi di dunia nyata sering memberi rasa hangat yang tidak selalu muncul dari layar. Di titik itu, fokus perlahan bergeser dari apa yang terlihat di media sosial ke pengalaman yang benar-benar sedang dijalani.

Source: www.beautynesia.id

Terkait