Pertumbuhan Ekonomi Jalan Terus, Kelas Menengah Indonesia Justru Semakin Menyusut

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali terlihat kuat di atas kertas, tetapi di lapangan kelas menengah justru terus menyusut. Data yang dipaparkan dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 menunjukkan tekanan hidup yang membuat banyak rumah tangga bergeser ke lapisan ekonomi yang lebih rentan.

Badan Pusat Statistik membagi masyarakat ke lima kelompok berdasarkan pengeluaran bulanan per kapita dibanding Garis Kemiskinan nasional, mulai dari kelas atas, kelas menengah, kelas menuju menengah, rentan miskin, hingga miskin. Peta ini penting karena memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu bergerak sejalan dengan kekuatan daya beli warga.

Kelas menengah terus tergerus

Lewat data Mandiri Institute, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia turun 1,2 juta dibanding tahun sebelumnya. Dalam periode 2019-2025, kelompok middle class menyusut lebih dari 11 juta orang, sementara Upper Aspiring Middle Class cenderung stagnan di bawah ambang batas kelas menengah.

Pada saat yang sama, kelompok aspiring middle class justru membesar. Dari 137,5 juta orang, kelompok ini naik menjadi 142 juta orang pada 2025, yang menandakan semakin banyak warga berada di batas tipis antara aman dan rentan.

Lebih banyak warga berada di zona rentan

Data yang sama menunjukkan kelompok rentan miskin meningkat dari 67,7 juta pada 2024 menjadi 67,9 juta orang pada 2025. Sementara itu, kelompok miskin turun dari 25,2 juta menjadi 23,9 juta, dan kelas atas hanya 0,4 persen dari total populasi atau sekitar 1,2 juta orang.

Komposisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk berada di kelompok yang belum menjadi penggerak utama ekonomi. Proporsi aspiring middle class dan vulnerable lebih besar dibanding kelas menengah dan atas, sehingga mayoritas warga berada di kelompok non-penggerak ekonomi.

Risiko turun kelas masih besar

Ombudsman menyoroti bahwa masyarakat di kelompok aspiring middle class berada dalam posisi yang rentan jatuh ke kategori poor. Risiko itu datang dari PHK, keterbatasan perlindungan hak-hak dasar pekerja, dan sempitnya peluang kerja di tengah pesatnya AI.

Akses pinjaman online juga menambah tekanan baru. Bagi masyarakat dengan literasi finansial yang rendah, kemudahan berutang dapat mendorong rumah tangga masuk ke siklus utang yang sulit diputus.

Angka makro masih kuat, tetapi tidak merata

Di sisi lain, pemerintah tetap menekankan penguatan fondasi domestik sebagai basis ekonomi. Dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyebut laporan sejumlah kepala daerah menunjukkan kemiskinan dan pengangguran terbuka mulai menurun.

BPS mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Konsumsi rumah tangga juga menguat menjadi 5,52 persen year on year, naik dari 4,98 persen sepanjang 2025.

Daya beli bergeser ke kebutuhan pokok

Meski konsumsi per kapita naik 4,3 persen, perubahan pola belanja menunjukkan tekanan yang nyata. Uang masyarakat kini lebih banyak terserap untuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda, seperti kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi dan penyusutan kelas menengah perlu dibaca bersamaan. Angka makro menunjukkan ketahanan ekonomi secara umum, tetapi data distribusi pendapatan dan pengeluaran memperlihatkan banyak warga masih berjuang menjaga posisi ekonomi mereka agar tidak turun satu lapis lagi.

Source: www.idntimes.com

Terkait