5 Kebiasaan Sepele Ini Diam-Diam Membuat Ruang Publik Tak Lagi Ramah untuk Semua

Author: Qoo Media

Ruang publik sering dinilai dari bangunan, jalur landai, atau kursi prioritas yang tersedia. Padahal, perilaku penggunanya ikut menentukan apakah tempat itu benar-benar bisa dipakai semua orang.

Banyak kebiasaan sehari-hari terlihat biasa saja, tetapi justru membuat akses menjadi lebih sulit. Di tengah kebutuhan anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan pejalan kaki lain, lima perilaku ini kerap luput disadari.

Jalur yang semestinya bebas justru tertutup

Trotoar, jalur landai, dan area akses khusus dibuat agar orang bisa bergerak aman dan nyaman. Masalah muncul ketika area itu dipakai untuk parkir kendaraan, menaruh barang, atau berkumpul terlalu lama.

Kebiasaan semacam ini menyulitkan pengguna kursi roda, lansia, dan orang tua dengan kereta bayi. Mereka akhirnya harus mencari rute lain yang belum tentu aman dan nyaman.

Fasilitas prioritas dipakai tanpa kebutuhan

Kursi prioritas, jalur khusus, dan fasilitas tertentu disediakan untuk orang yang punya kebutuhan lebih besar. Namun, masih ada yang memakainya tanpa kebutuhan mendesak dan enggan memberi tempat saat ada orang yang lebih membutuhkan.

Perilaku ini membuat kelompok rentan kesulitan beraktivitas. Fasilitas yang seharusnya membantu aksesibilitas pun kehilangan fungsi utamanya.

Informasi hanya disampaikan dengan satu cara

Di layanan publik, informasi sering muncul hanya lewat suara atau tulisan berukuran kecil. Cara ini membuat sebagian orang kesulitan menangkap pesan yang penting bagi mereka.

Penyandang disabilitas sensorik, lansia, dan orang dengan kebutuhan tertentu bisa memerlukan bentuk informasi yang berbeda. Karena itu, penyampaian lewat berbagai media dan dengan cara yang jelas menjadi bagian penting dari ruang publik yang inklusif.

Kemampuan orang lain dinilai dari penampilan

Sebagian orang masih terbiasa menganggap kemampuan seseorang hanya dari apa yang terlihat. Mereka bisa saja menilai penyandang disabilitas tidak mampu melakukan sesuatu secara mandiri, lalu mengambil keputusan atas nama orang itu tanpa bertanya dulu.

Sikap seperti ini membuat seseorang merasa tidak dihargai. Padahal, setiap orang perlu diberi ruang untuk menyampaikan kebutuhannya sendiri tanpa asumsi yang terburu-buru.

Kebutuhan sekitar sering diabaikan

Hal sederhana seperti memutar suara terlalu keras, memenuhi jalur pejalan kaki, atau tidak menjaga ruang gerak orang lain bisa mengganggu kenyamanan bersama. Dampaknya lebih besar bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus atau keterbatasan tertentu.

Ruang publik yang inklusif tidak hanya bergantung pada fasilitas fisik. Kesadaran untuk saling menghormati menjadi faktor penting agar tempat yang sama bisa diakses dan dipakai lebih banyak orang dengan nyaman.

Source: www.idntimes.com
Terbaru