Pernah masuk ke sebuah ruangan lalu mendadak lupa mau mengambil apa? Fenomena ini dikenal sebagai Doorway Effect atau Efek Ambang Pintu, dan psikolog menyebutnya sebagai bagian dari cara kerja ingatan yang sangat dipengaruhi lingkungan sekitar.
Psikolog Tom Stafford menjelaskan di BBC Future bahwa memori manusia bergantung pada konteks fisik dan mental. Saat seseorang berpindah ruangan, konteks itu ikut berubah, sehingga ingatan dari ruangan sebelumnya lebih mudah terhapus dari fokus.
Neuropsikolog Dr. Sanam Hafeez, Psy.D., melalui Parade, menilai kebiasaan ini tidak selalu berarti ada masalah pada otak. Ia justru mengaitkannya dengan beberapa ciri kepribadian tertentu yang membuat seseorang lebih rentan “kehilangan” niat awal begitu melewati ambang pintu.
Salah satu ciri yang paling sering muncul adalah pemikir mendalam. Orang dengan pola pikir seperti ini cenderung sudah melompat beberapa langkah ke depan untuk merencanakan tugas berikutnya, sehingga niat kecil yang baru saja dibawa masuk ke ruangan mudah tergeser.
Mereka juga kerap menghabiskan banyak waktu di dalam kepala sendiri. Akibatnya, otak tidak memprioritaskan detail sederhana seperti ingin mengambil gunting, karena perhatian sedang tersedot ke urusan yang dianggap lebih besar.
Cenderung kreatif dan berpikir dinamis
Kebiasaan lupa saat masuk ruangan juga sering dikaitkan dengan jiwa kreatif. Orang yang bekerja di bidang seni, menulis, atau marketing disebut punya pola pikir yang sangat dinamis dan cepat berpindah dari satu ide ke ide lain.
Perpindahan ide yang cepat itu membuat fokus mudah berubah di tengah jalan. Saat perhatian bergeser sebelum tujuan awal tuntas, ingatan tentang alasan masuk ruangan menjadi samar dan mudah terselip.
Ciri lain yang kerap muncul adalah kecenderungan multitasking. Mereka biasanya bergerak cepat, penuh energi, dan mencoba memikirkan banyak hal dalam satu waktu.
Masalahnya, otak manusia tidak dirancang untuk memproses terlalu banyak hal sekaligus. Saat transisi fisik cepat bertemu dengan beban pikiran yang padat, niat kecil sering menjadi hal pertama yang dieliminasi ketika melewati pintu.
Stres juga bisa memperburuk kelupaan
Faktor emosional turut berperan dalam fenomena ini. Ketika seseorang sedang stres, cemas, atau memikul terlalu banyak tanggung jawab, kapasitas memori jangka pendek bisa berkurang.
Dalam kondisi seperti itu, ruang otak untuk menampung ingatan sepele menjadi makin sempit. Alhasil, informasi kecil yang dibawa ke dalam ruangan lebih mudah lolos dari perhatian.
Meski terdengar mengganggu, kebiasaan ini tidak selalu menandakan penurunan fungsi otak. Dr. Hafeez menyebutnya bisa menjadi tanda bahwa otak sedang aktif bekerja dan menyortir informasi secara ketat.
Saat berpindah tempat, otak akan memilah data mana yang paling darurat. Jika sebuah ingatan dinilai kurang penting dibanding tumpukan informasi lain, otak cenderung menghapusnya demi efisiensi kerja.
Karena itu, sering lupa alasan masuk ruangan tidak otomatis menjadi hal yang mengkhawatirkan. Namun, kondisi ini perlu diwaspadai bila terjadi terus-menerus, semakin memburuk, atau disertai kebingungan berat sampai lupa nama orang terdekat.
Dalam situasi seperti itu, pemeriksaan ke dokter dianjurkan untuk menilai kesehatan kognitif. Di luar tanda peringatan tersebut, fenomena lupa sesaat ini lebih sering dipahami sebagai gabungan dari pola pikir, kreativitas, multitasking, dan tekanan emosional yang sedang dialami seseorang.
Source: www.beautynesia.id






