Rambut rontok beberapa bulan setelah melahirkan sering membuat ibu baru panik, padahal kondisi ini umumnya masih tergolong wajar. Bahkan, lebih dari 90 persen perempuan mengalami kerontokan rambut dalam derajat tertentu setelah persalinan, menurut Dr. Mary Laird dari Yale University, sebagaimana dikutip lifestyle.kompas.com.
Kerontokan ini biasanya bersifat sementara dan rambut umumnya mulai tumbuh kembali sekitar sembilan hingga 12 bulan setelah melahirkan. Namun, jumlah rambut yang rontok bisa terasa jauh lebih banyak karena banyak folikel memasuki fase kerontokan secara bersamaan.
Perubahan hormon jadi pemicu utama
Selama kehamilan, kadar estrogen meningkat dan membuat rambut bertahan lebih lama pada fase pertumbuhan atau anagen. Akibatnya, rambut terlihat lebih tebal dan lebih sedikit yang rontok dibandingkan kondisi normal.
Setelah bayi lahir, kadar estrogen dan progesteron turun cepat. Perubahan inilah yang membuat banyak folikel rambut masuk ke fase istirahat dan kerontokan atau telogen secara serempak, sehingga rambut tampak rontok dalam jumlah besar.
Dr. Joshua Zeichner dari Mount Sinai Hospital menyebut kondisi ini sebagai telogen effluvium. Ia menjelaskan bahwa telogen effluvium adalah jenis kerontokan rambut yang muncul setelah tubuh mengalami stres fisik atau emosional, dan kondisi ini sangat sering terjadi pada masa setelah persalinan.
Faktor lain yang bisa memperparah
Selain perubahan hormon, kurang tidur, kelelahan, dan tekanan fisik maupun emosional setelah melahirkan juga dapat memperburuk kerontokan. Dr. Sharleen St. Surin-Lord dari Howard University College of Medicine menjelaskan bahwa kondisi tubuh yang belum pulih penuh ikut memengaruhi kesehatan rambut.
Sejumlah nutrisi juga bisa ikut menurun setelah persalinan. Kadar zat besi, ferritin, seng, vitamin D, dan biotin dapat berkurang sehingga pertumbuhan rambut baru ikut melambat.
Dalam beberapa kasus yang lebih jarang, kerontokan rambut juga bisa dipicu oleh alopecia areata, yaitu penyakit autoimun yang menyebabkan rambut rontok. Pola kebotakan pada perempuan juga bisa baru tampak setelah kehamilan.
| Hal yang Mempengaruhi | Penjelasan | Dampak pada Rambut |
|---|---|---|
| Turunnya estrogen dan progesteron | Folikel rambut masuk fase telogen secara bersamaan | Rambut rontok lebih banyak |
| Kurang tidur dan kelelahan | Stres fisik dan emosional setelah melahirkan | Kerontokan bisa terasa lebih berat |
| Kekurangan nutrisi | Zat besi, ferritin, seng, vitamin D, dan biotin dapat menurun | Pertumbuhan rambut baru melambat |
| Kondisi medis tertentu | Alopecia areata atau pola kebotakan perempuan | Kerontokan bisa tidak sekadar sementara |
Kapan perlu periksa ke dokter
Sebagian besar kasus kerontokan rambut setelah melahirkan tidak memerlukan terapi khusus. Yang lebih penting adalah memastikan asupan nutrisi tercukupi, menjaga kualitas tidur semampunya, dan mengelola stres di tengah rutinitas merawat bayi baru lahir.
Bagi ibu yang masih menyusui, dokter juga menyarankan untuk tetap mengonsumsi vitamin prenatal atau multivitamin sesuai anjuran tenaga kesehatan. Langkah ini membantu memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan folikel rambut.
Ibu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kulit bila kerontokan berlangsung lebih dari satu tahun, makin parah, atau muncul area botak yang jelas. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan tidak ada penyebab lain di balik kerontokan yang terjadi.
Dengan memahami bahwa rambut rontok setelah melahirkan sering kali merupakan respons alami tubuh terhadap perubahan hormon, ibu bisa lebih tenang menjalani masa pemulihan sambil tetap memantau kondisi rambut dan kesehatan secara keseluruhan.
