Dokter Aesthetic Asal Blitar Ini Pilih Seni dan Ilmu Medis, Begini Cara Kerjanya

Menjadi dokter aesthetic bukan sekadar urusan penampilan, tetapi juga soal kepekaan membaca kebutuhan wajah dan menjaga hasil tetap terlihat alami. Itulah alasan dr. Wiwi Rahayu memilih bidang yang menurutnya memadukan ilmu kedokteran dengan unsur seni.

Perempuan 37 tahun asal Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, Blitar ini mengaku awalnya tidak pernah membayangkan akan menekuni dunia kecantikan. Saat masih di bangku SMA, ia justru hanya memikirkan jurusan kuliah yang peluang kerjanya luas dan punya dampak bagi masyarakat.

dr. Wiwi kemudian memilih kedokteran setelah mempertimbangkan banyak hal. Seiring waktu, pilihan itu membuatnya semakin yakin karena ia merasa jatuh cinta pada pekerjaannya setelah bertemu banyak pasien dan menjalani pendidikan kedokteran.

Perjalanan Menuju Dunia Aesthetic

Dalam keterangannya kepada blitarkawentar.jawapos.com, Wiwi menyebut dirinya sudah menjadi dokter sejak 2014. Beberapa tahun kemudian, ia mengambil bidang khusus aesthetic dan baru menjalani peran sebagai dokter aesthetic pada 2020.

Saat ini, ia juga sedang menempuh S-2 magister anti aging. Langkah itu menunjukkan bahwa dunia estetika menuntut pembaruan ilmu yang tidak berhenti di satu tahap pendidikan saja.

TahapanKeterangan
Menjadi dokterSejak 2014
Masuk bidang aestheticBeberapa tahun setelah menjadi dokter
Jadi dokter aesthetic2020
Pendidikan lanjutanS-2 magister anti aging

Bagi Wiwi, daya tarik utama bidang ini ada pada tantangannya yang khas. Seorang dokter aesthetic harus memahami anatomi wajah, proses penuaan, serta cara menghasilkan perawatan yang tetap tampak natural pada tiap pasien.

Ia menilai setiap wajah punya kebutuhan berbeda, sehingga hasil terbaik tidak selalu berarti mengubah penampilan secara drastis. Justru, tujuan estetika menurutnya adalah membantu seseorang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Kepercayaan Pasien Jadi Kepuasan Tersendiri

Dari profesinya ini, momen yang paling ia sukai adalah ketika pasien pulang dengan rasa percaya diri yang meningkat. Pasien yang awalnya minder bisa berubah menjadi lebih tenang dan tersenyum setelah menjalani perawatan di kliniknya.

Wiwi juga menegaskan bahwa dunia estetika berkembang sangat cepat. Karena itu, ia rutin mengikuti seminar, workshop, dan pelatihan agar tindakan yang diberikan kepada pasien selalu mengikuti teknologi, teknik, dan penelitian terbaru.

Menurutnya, dokter aesthetic tidak hanya dituntut kompeten, tetapi juga harus beretika dan tetap menjaga penampilan. Penampilan yang sehat, segar, dan profesional menjadi bagian dari kepercayaan pasien terhadap dokter yang menangani mereka.

Ia menambahkan bahwa pasien biasanya lebih yakin ketika melihat dokternya juga menerapkan apa yang dianjurkan. Namun, bagi Wiwi, yang utama tetap bukan kesempurnaan fisik, melainkan kemampuan memberikan hasil maksimal dengan cara yang aman.

Pengalaman yang Paling Diingat

Salah satu pengalaman yang masih ia ingat datang dari seorang pasien WNI yang sudah lama tinggal di luar negeri. Setiap kali pulang ke Indonesia, pasien itu selalu menyempatkan datang ke kliniknya untuk melakukan perawatan.

Suatu kali, pasien tersebut menjalani beberapa treatment dengan hasil yang cukup signifikan. Wajahnya tampak lebih segar, lebih muda, dan tetap natural setelah tindakan dilakukan.

Wiwi mengisahkan bahwa setelah kembali ke luar negeri, pasien itu bercerita suaminya sempat tidak mengizinkannya keluar rumah selama sekitar satu minggu. Suaminya mengira sang istri menjalani operasi plastik karena perubahan wajahnya terlihat sangat berbeda.

Setelah berkali-kali dijelaskan bahwa yang dilakukan hanyalah tindakan estetika non-bedah, bukan operasi, akhirnya sang suami percaya. Bagi Wiwi, momen itu menjadi bukti bahwa hasil perawatan yang baik juga harus diiringi komunikasi yang jujur.

Ia menganggap kepercayaan seperti itu jauh lebih berharga daripada apa pun. Hubungan dokter dan pasien, menurutnya, dibangun bukan hanya dari hasil tindakan, tetapi juga dari kejujuran, komunikasi, dan rasa percaya yang terjaga.

Hal yang paling menyentuh baginya adalah ketika pasien tersebut tetap memilih pulang ke Indonesia untuk bertemu dirinya setiap kali membutuhkan perawatan lagi. Padahal, di negara tempat pasien itu tinggal, tentu ada banyak klinik estetika yang juga bagus.

Kisah itu menjadi penanda bahwa profesi dokter aesthetic tidak hanya soal hasil yang terlihat di cermin, tetapi juga soal ikatan kepercayaan yang terbentuk dalam jangka panjang. Di tangan Wiwi Rahayu, seni dan ilmu medis bertemu dalam satu tujuan yang sama, yakni membantu pasien tampil lebih percaya diri tanpa kehilangan keaslian dirinya.

Terkait