3 Pulau di Indonesia yang Konon Hanya Dihuni Kuburan, Tradisi dan Sejarahnya Beda Sendiri

Author: Qoo Media

Di Indonesia, ada pulau yang tidak dipakai untuk membangun permukiman, melainkan untuk menyimpan jejak kematian dan tradisi lama. Tiga di antaranya dikenal luas karena hanya berisi area pemakaman, tetapi masing-masing punya cerita budaya yang berbeda.

Dari Bali hingga Papua, fungsi pulau-pulau ini tidak berhenti pada kesan menyeramkan. Di balik sebutan “pulau yang hanya dihuni kuburan”, ada adat, sejarah, dan alasan sosial yang membuatnya tetap penting bagi masyarakat setempat.

1. Pulau Trunyan, Bali

Kawasan pemakaman Trunyan di tepi Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, menjadi salah satu lokasi paling unik di Indonesia. Tempat ini merupakan bagian dari Desa Trunyan yang dihuni masyarakat Bali Aga, kelompok masyarakat Bali kuno yang masih mempertahankan tradisi leluhur.

Di sini, jenazah tidak dikubur maupun dikremasi. Tradisi mepasah membuat jenazah diletakkan di atas tanah dan ditutupi anyaman bambu sederhana di bawah pohon Taru Menyan, yang dipercaya mengeluarkan aroma harum untuk menetralisir bau.

Tidak semua jenazah diperlakukan dengan cara itu. Hanya mereka yang meninggal secara wajar, seperti karena usia atau sakit, serta telah menikah yang dimakamkan di area utama, sedangkan kematian akibat kecelakaan atau sebab tidak wajar ditempatkan di lokasi berbeda.

Lokasi Ciri Utama Akses
Trunyan, Bali Jenazah diletakkan di atas tanah di bawah pohon Taru Menyan Perahu dari Dermaga Kedisan, sekitar 45 menit

2. Pulau Imam, Maluku Utara

Berbeda dari Trunyan yang masih dekat dengan permukiman, Pulau Imam di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, memang tidak memiliki penduduk tetap. Pulau kecil yang berada tepat di depan Kota Weda ini sejak lama difungsikan sebagai kawasan pemakaman warga.

Masyarakat setempat juga mengenalnya sebagai Pulau Koleyevo. Keunikan lain terlihat dari pembagian area makam, karena pulau ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi dua komunitas agama sekaligus.

Makam Muslim berada di satu sisi pulau, sedangkan makam umat Nasrani berada di sisi lainnya. Sebuah jembatan kecil disediakan sebagai tempat berlabuh keluarga dan peziarah yang datang ke makam kerabat mereka.

Menurut cerita masyarakat, Pulau Imam dijadikan lokasi pemakaman karena kondisi tanah di Kota Weda didominasi rawa sehingga kurang ideal untuk lahan pekuburan.

3. Pulau Metu Debi, Papua

Pulau Metu Debi di Teluk Youtefa, Kota Jayapura, Papua, dikenal sebagai pulau kuburan tua yang memiliki nilai sejarah tinggi. Pulau kecil di wilayah Kampung Tobati dan Enggros ini menjadi tempat dimakamkannya para leluhur suku Tobati, tokoh adat, hingga misionaris yang berperan dalam penyebaran agama Kristen di wilayah Tabi.

Selain sebagai situs pemakaman bersejarah, Pulau Metu Debi juga menjadi saksi masuknya Injil di Tanah Tabi pada 7 Maret 1910. Kini, kawasan ini tidak hanya menjadi tujuan ziarah, tetapi juga destinasi wisata sejarah dan ekowisata.

Pengunjung bisa menikmati hamparan pasir putih, hutan mangrove, dan panorama Teluk Youtefa sambil mengenal sejarah masyarakat setempat. Meski sering disebut sebagai pulau yang hanya dihuni kuburan, Pulau Metu Debi tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Papua.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru